Raut cemas kini melingkupi para petani di Desa Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Berhektar-hektar sawah yang biasanya menjadi sumber kehidupan mereka, kini terancam kering kerontang akibat krisis air yang berkepanjangan. Penurunan debit air ini ditengarai dipicu oleh adanya aktivitas penyedotan dan penampungan sumber air oleh salah satu perusahaan pengolahan air pegunungan.
Bagi para petani setempat, air bukan sekadar komoditas, melainkan urat nadi kehidupan. Namun, sejak adanya dugaan aktivitas penampungan air yang berjalan dalam dua bulan terakhir, debit air yang mengalir ke petak-petak sawah menyusut drastis.
Muslim Hidayat (49), perwakilan warga Dusun Kiarajegang, menggambarkan betapa beratnya situasi yang kini menghimpit para petani. Sawah-sawah yang baru ditanami padi mulai menampakkan tanda-tanda kekurangan air sebuah indikasi awal dari ancaman kegagalan panen yang kini tinggal menunggu waktu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dampak yang sangat signifikan dari pembuangan air satu, sawah menjadi terlantar kekurangan air. Kedua, kebutuhan untuk kehidupan sehari-hari itu berkurang," ujar Muslim, Rabu (21/10/2026).
Kesulitan yang dihadapi para petani tidak berhenti pada musim tanam kali ini saja. Dalam jangka panjang, penyedotan air ini berpotensi merusak siklus hidup dan perekonomian petani secara permanen. Jika biasanya petani di wilayah tersebut mampu memanen padi hingga tiga kali dalam setahun, krisis air ini dikhawatirkan akan memangkas hasil panen menjadi dua atau bahkan hanya satu kali setahun.
Penurunan frekuensi panen ini jelas menjadi pukulan telak bagi ekonomi keluarga petani yang bergantung penuh pada hasil bumi. Kehilangan debit air berarti kehilangan pendapatan, serta meningkatnya risiko utang dan kemiskinan bagi para pahlawan pangan ini.
"Nah kalau ini dilaksanakan terus, maka tidak menutup kemungkinan dalam jangka waktu satu atau dua tahun ke depan, masyarakat yang biasa panen tiga kali setahun, ini mungkin bisa jadi dua kali dalam setahun atau bahkan menjadi satu kali dalam setahun, seperti itu dampaknya. Oleh karena itu kami menitipkan ini kepada pemerintah supaya diberikan perlindungan," kata Muslim.
Kesulitan ini pun tidak hanya dirasakan oleh petani di Desa Mekarbakti. Lebih dari 20 hektar lahan pertanian serta masyarakat di dua desa tetangga, Desa Sindanggalih dan Desa Cikahuripan, turut menanggung dampak dari menyusutnya sumber air vital ini.
"Status hukumnya ini dirubah menjadi area perlindungan pemerintah, karena ini posisinya sangat vital sekali bagi masyarakat yang terdampak. Satu desa Mekarbakti, dua desa Sindanggalih, tiga Cikahuripan. Kurang lebih ini kalau disebarkan atau kita data semuanya, itu kurang lebih dari 20 hektare tanah, kemudian kurang lebih dari 100 warga masyarakat yang memakai air ini langsung ke rumah dan tempat ibadah," ungkapnya.
Di tengah rasa frustrasi dan kekhawatiran akan masa depan pertanian mereka, para petani dan warga menolak keras keberadaan penampungan air. Mereka mendesak pemerintah untuk segera turun tangan dan memberikan kepastian hukum dengan menetapkan kawasan sumber air sebagai area perlindungan.
"Kami menitipkan masalah ini kepada pemerintah supaya diberikan perlindungan. Sumber air ini posisinya sangat vital bagi masyarakat dan kelangsungan sawah-sawah kami," tegas Muslim.
Selain Muslim, warga lainnya pun turut menjerit dengan kondisi saat ini. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Koniah (56). Menurutnya, selain berdampak kepada sawah yang terancam kering, kebutuhan air untuk rumah tangga pun dapat terancam pula ke depannya.
"Dampaknya ini sawah jadi kekeringan, warga yang butuh air sampai tidak ada buat mandi nggak ada," kata Koniah.
Meskipun pihak pemerintah kecamatan menyatakan bahwa aktivitas tersebut baru sebatas eksperimen atau uji coba, bagi para petani, dampak penurunan air sudah terasa nyata di lapangan. Sebagai langkah penyelamatan darurat atas sawah dan kehidupan mereka, warga secara mandiri telah menutup sementara lokasi penampungan air tersebut.
"Jadi gini, jadi perusahaan sementara kemarin itu belum mengadakan usaha. Katanya itu baru eksperimen, baru percobaan mencari sumber air. Katanya itu setelah ada nanti ada komunikasi. Tapi kan kita juga menyadari, dari awal masyarakat sudah tidak setuju," kata Plt. Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Pamulihan, Rukmana usai melihat kondisi dari bendungan sumber air.
Rukmana mengaku akan melaporkan keluh kesah dari petani kepada pihak terkait lainnya.
"Kalau kami nggak bisa untuk menutup langsung. Kan yang menutup kalau masyarakat yang merasa di rugi. Kan bisa, itu hak masyarakat kan. Bukan tanggung jawab kita. Tapi kalau kita nggak bisa langsung menutup. Mungkin setelah ini kami juga koordinasi dengan Pol PP Kabupaten dan pihak-pihak terkait," pungkasnya.
Kini, para petani hanya bisa berharap agar sumber mata air yang menjadi tumpuan hidup mereka dapat sepenuhnya dikembalikan fungsinya, demi menyambung napas pertanian dan menjaga masa depan keluarga mereka.
