Lia, Siswi Sekolah Rakyat yang Bangkit dari Trauma Perundungan

Lia, Siswi Sekolah Rakyat yang Bangkit dari Trauma Perundungan

Bima Bagaskara - detikJabar
Minggu, 18 Okt 2026 14:00 WIB
Lia (kanan), siswi Sekolah Rakyat.
Lia (kanan), siswi Sekolah Rakyat. (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)
Bandung -

Lia Dinoviana sibuk mencuci pakaiannya menggunakan mesin cuci di asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Bekasi. Di usianya yang baru 12 tahun, siswi kelas 6 SD itu mulai belajar menjalani keseharian dengan lebih mandiri, mulai dari mengikuti pelajaran hingga mengurus kebutuhan pribadinya.

Di balik aktivitas sederhana tersebut, Lia menyimpan sebuah cita-cita besar. Ia ingin menjadi dokter agar bisa membantu orang lain, menyembuhkan penyakit, sekaligus merawat keluarganya.

Keinginan itu tumbuh dari perjalanan hidup yang tidak mudah. Sebelum pindah ke Sekolah Rakyat pada Oktober 2025, Lia bersekolah di salah satu sekolah dasar di daerah Jatibening, Kota Bekasi, hingga kelas 5.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, masa-masa sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar dan bermain bersama teman justru menyisakan pengalaman pahit.

Lia mengaku pernah menjadi sasaran perundungan. Ia kerap mendapat ejekan dan perkataan yang menyakitkan dari teman-temannya. Perlakuan itu bahkan membuatnya sesekali merasa takut untuk kembali ke sekolah.

ADVERTISEMENT

"Gimana ya, kadang juga trauma ke sekolah itu juga, soalnya ada kadang dibully," cerita Lia, Minggu (18/10/2026).

Perundungan yang dialaminya membuat Lia memilih diam. Ia mengaku tidak berani melaporkan perlakuan teman-temannya kepada guru karena khawatir dengan ancaman yang diterimanya.

"Ya aku diam aja, mau gimana lagi. Soalnya kalau misalkan aku bilang ke guru, aku diancam," ucapnya.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari masa lalu yang harus dihadapi Lia. Di tengah usianya yang masih belia, ia harus berhadapan dengan situasi yang membuatnya tidak nyaman di lingkungan sekolah.

Lia berasal dari Pondok Gede, Kota Bekasi. Ia tinggal bersama nenek dan adiknya. Sementara itu, ibunya telah menikah lagi dan merantau ke Jambi, sedangkan ayahnya sedang menjalani hukuman karena terjerat kasus hukum.

Kondisi keluarga itu menjadi salah satu latar belakang kehidupannya. Lia tidak merinci bentuk perundungan yang dialaminya, tetapi pengalaman tersebut membuat masa sekolah sebelumnya tidak selalu menjadi tempat yang menyenangkan baginya.

Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat datang setelah kakak Lia lebih dahulu masuk Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi. Ketika program untuk jenjang sekolah dasar tersedia, Lia memutuskan ikut bersekolah di sana.

Keputusan itu datang dari keinginannya sendiri. Selain berharap mendapatkan lingkungan belajar yang lebih nyaman, Lia ingin membantu meringankan beban ibunya.

"Awalnya itu kakak aku duluan yang masuk SR, SRMA 13. Terus habis itu karena nggak ada SD-nya jadi ditunggu, akhirnya ada SD-nya aku masuk ke sini, aku yang mau," ujar Lia.

Lia kemudian mengungkapkan alasan lain yang membuatnya mantap pindah sekolah. Ia tidak ingin keberadaannya justru menambah beban bagi nenek dan ibunya. "Karena juga aku juga mau bantu mama biar mama nggak repot kalau ada aku, terus juga ngurangin beban," katanya.

Sejak Oktober 2025, Lia menjalani kehidupan baru di Sekolah Rakyat. Ia kembali belajar, berkenalan dengan teman-teman baru, dan mengikuti berbagai kegiatan di sekolah maupun asrama.

Kini, Lia mengaku merasa jauh lebih nyaman. Ia menemukan teman-teman yang memperlakukannya dengan baik, sesuatu yang membuat kesehariannya di sekolah terasa berbeda dibandingkan pengalaman sebelumnya.

"Alhamdulillah senang banget sih, banyak teman yang baik-baik," tuturnya.

Keinginan untuk membanggakan keluarga itu sejalan dengan cita-cita yang ingin diraih Lia. Ketika ditanya apa profesi yang diimpikannya, ia menyebut ingin menjadi dokter.

Lia memiliki alasan sederhana, tetapi penuh makna. Ia ingin bisa membantu orang lain yang sedang sakit dan merawat keluarganya sendiri.

"Aku pengen cita-citanya jadi dokter," ucap Lia.

"Biar bisa bantuin orang, terus juga kayak menyembuhkan segala penyakit, terus ngerawat keluarga juga ya," imbuhnya.

Lia (kanan), siswi Sekolah Rakyat.Lia (kanan), siswi Sekolah Rakyat. (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)

Dari Anak Pemalu Menjadi Lebih Percaya Diri

Perubahan Lia juga terlihat oleh Anggun Mego Putri, pengasuh yang mendampinginya selama tinggal di Sekolah Rakyat. Menurut Anggun, Lia awalnya cenderung malu dan takut ketika harus berhadapan dengan banyak anak dari latar belakang yang berbeda.

Namun, seiring waktu, Lia mulai menunjukkan kepercayaan diri. Ia juga semakin dewasa dalam menjalani kehidupan di sekolah dan asrama.

"Mungkin kalau pertama kali, malu anaknya dan takut karena berhadapan dengan banyak anak yg lain dari berbagai kalangan," ungkap Anggun.

Anggun menuturkan, Lia kini tidak hanya mengikuti kegiatan sehari-hari, tetapi juga mulai membantu adik-adiknya di asrama. Sebagai siswi kelas 6, Lia dinilai mampu memberi contoh dalam menjaga kerapian dan menaati aturan.

"Tapi semakin kesini dia bisa percaya diri, jadi lebih dewasa karena dia juga sudah kelas 6 jadi mampu menuntun adik-adiknya di asrama yang lebih kecil dari dia untuk rapi dan patuh aturan asrama," ucapnya.

Dalam kesehariannya, Anggun melihat Lia sebagai anak yang baik dan mampu mengikuti kegiatan sekolah maupun asrama sebagaimana anak-anak seusianya.

Anggun juga tidak melihat adanya trauma mendalam yang terus membekas pada diri Lia. Menurutnya, Lia tetap ceria dan memiliki semangat untuk maju, terlebih dengan dukungan orang-orang di sekitarnya.

"Alhamdulillah kalau saya perhatikan anaknya tidak ada trauma yang membekas dalam ya, anaknya ceria, ada semangat untuk maju dengan dukungan orang disekitarnya," jelas Anggun.

Semangat Lia untuk berkembang tidak hanya terlihat dari kesehariannya di sekolah dan asrama. Ia juga mulai menunjukkan kemampuan melalui kegiatan yang diikutinya.

Anggun menyebut Lia pernah meraih juara pertama lomba baca puisi di Sekolah Rakyat. Lia juga pernah ikut dalam kelompok paduan suara yang mewakili Sekolah Rakyat pada acara peringatan 17 Agustus di Istana Merdeka.

Anggun mengatakan, Lia kerap menyampaikan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, meraih prestasi, dan membanggakan keluarga.

"Paling dia bilang mau jadi lebih baik, berprestasi, membanggakan keluarganya," ucapnya.

Anggun berharap Lia dan anak-anak lain di Sekolah Rakyat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, dan berprestasi. Ia juga ingin mereka tidak merasa minder dengan latar belakang keluarga ketika harus bersaing dan mengejar cita-cita.

"Semoga Lia dan anak-anak di SR ini bisa lebih mandiri, disiplin, berprestasi, tidak takut mengejar cita-cita atau bersaing dengan anak-anak di sekolah lain dengan background mereka," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(bba/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads