Distrik Yapsi di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua memiliki luas wilayah 1.291,28 km². Distrik ini ada di wilayah dataran tinggi, akses jalannya masih berbatu, krisis air bersih, keterbatasan layanan kesehatan dan sanitasi hingga sinyal seluler yang kembang kempis adalah makanan sehari-hari warga setempat.
Distrik Yapsi terdiri atas sembilan kampung yang terbagi menjadi enam satuan pemukiman dan tiga kampung lokal. Keberadaan kampung lokal tersebut lambat laun semakin terpinggirkan akibat gelombang pendatang serta program transmigrasi.
Tim Ekspedisi Patriot ITB diterjunkan ke Papua sebagai bagian dari program kerja sama dengan Kementerian Transmigrasi untuk memberikan kontribusi dan solusi nyata dalam pembangunan kawasan transmigrasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Tim Klaster Kesehatan Ekspedisi Patriot ITB, Muhammad Yudhistira Azis, mengatakan tim dibagi lagi dalam beberapa bidang. Ada pendidikan, infrastruktur, dan komoditas pertanian kakao dari hulu ke hilir yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi.
"Nah bidang saya, saya mengusulkan terkait layanan kesehatan berbasis digital yang memang memberikan informasi kepada warga dan juga meningkatkan informasi antar tenaga kesehatan. Karena bertolak dari laporan Tim Ekspedisi Patriot sebelumnya mengenai kajian kawasan, melihat masalah distribusi informasi dan terkait layanan kesehatan, obat, kemudian sanitasi, itu juga bermasalah di beberapa desa," kata Yudhistira kepada detikJabar belum lama ini.
Yudhistira bersama lima anggota timnya saat ini ditempatkan di wilayah Lereh, Distrik Yapsi, yang berjarak sekitar empat jam perjalanan dari Kota Jayapura. Ia mengungkapkan bahwa di wilayah tersebut terdapat empat kelompok masyarakat, yaitu warga transmigrasi, eks-transmigrasi, penduduk lokal, dan pendatang. Selain itu, sebagian besar pendatang di sana bekerja di perusahaan kelapa sawit, seperti Sinar Mas, yang melakukan kegiatan eksploitasi sawit di wilayah tersebut.
Ketiadaan arus informasi membuat krisis kesehatan di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) semakin pelik. Menjawab tantangan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot klaster Lereh ITB membawa sebuah intervensi digital bernama Lerehfarma.id. Tim juga membawa misi yang jauh lebih mendasar, meretas kesenjangan literasi digital kesehatan di akar rumput.
"Nah saya membangun platform digital berbasis lokal dan di sini layanannya menginformasikan layanan kesehatan. Bernama Lereh Farma atau lerehfarma.id. Nah lerehfarma.id ini fungsinya lebih mengintegrasikan informasi yang ada di kawasan Distrik Yapsi dari sembilan kampung tersebut," ungkapnya.
Yudhistira mengisahkan betapa terjalnya tantangan telekomunikasi di Distrik Yapsi. Jika di kota akses internet melaju kencang, di kawasan perbukitan ini, mendapatkan sinyal ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Sinyal internet di kawasan tersebut sering terputus bahkan hilang.
"Di sini ada enam kampung satuan pemukiman dan tiga kampung lokal, yang di mana mereka memiliki layanan kesehatan seperti Pustu dan Puskesmas, Puskesmas pembantu dan Puskesmas itu sendiri. Nah yang kawasan paling banyak populasinya itu di SP1 dan SP2 namanya Desa Ongan Jaya dan Bumi Sahaja. Tetapi yang lainnya masih keterbelakangan terkait akses jalan dan lain-lain," ucapnya.
Menurutnya, belum meratanya pembangunan di Papua membuat sinyal internet belum menjangkau seluruh wilayah. Bahkan, tim Yudhistira sendiri harus menyewa Starlink dari Jakarta.
"Infrastruktur pemerintah memang belum menjangkau seluruhnya. Kami bahkan harus menyewa perangkat Starlink dari Jakarta dan membawanya berpindah-pindah selama empat bulan pengabdian agar sistem ini bisa berjalan dan warga bisa berlatih," kata Yudhistira.
Kegunaan Lerehfarma.id
Potret warga akses fasilitas kesehatan di Distrik Yapsi di Kabupaten Jayapura (Foto: Istimewa). |
Yudhistira menuturkan bahwa website tersebut memiliki banyak kegunaan yang dapat dimanfaatkan oleh warga. Ia menjelaskan bahwa terdapat empat informasi utama yang ingin disajikan, pertama yaitu informasi mengenai distribusi obat, layanan kesehatan, serta ketersediaan fasilitas di Pustu maupun Puskesmas, termasuk klinik dan apotek yang ada di sekitar wilayah tersebut.
Kehadiran website itu juga diharapkan, warga dapat mengimplementasikan dengan memberikan aduan. Jadi warga memberikan aduan secara digital kepada nakes dan nanti direspons oleh nakes. Jadi tidak lagi dilakukan secara offline dan terhubung langsung dengan kontak darurat.
"Jadi warga dapat melihat informasi apa saja misalnya dari pusat puskesmas, puskesmas pembantu, ada obat apa saja yang tersedia. Kemudian edukasi kesehatan karena rata-rata penyakit tertinggi di sana adalah malara, ispa, dan kudis. Jadi itu warga bisa mengadu, mengadukan," ujarnya.
Menurutnya, website itu telah dibuat sebelum mereka turun langsung ke lapangan. Selama masa penugasan selama empat bulan di sana, mereka membagi agenda kerja secara bertahap. Pada bulan pertama, tim fokus mengumpulkan data primer dan sekunder yang mutakhir untuk kebutuhan input data layanan, yang nantinya akan terus diperbarui tiap bulan.
Memasuki bulan kedua pada September lalu, mereka menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama tenaga kesehatan dan warga guna mempromosikan penggunaan platform lerehfarma.id menggunakan modul khusus untuk warga dan nakes sekaligus menampung masukan dari masyarakat. Selanjutnya, pada bulan Oktober kegiatan diisi dengan pelatihan bagi tenaga kesehatan, sementara bulan November diagendakan sebagai tahap implementasi.
Dalam tahap tersebut, warga dan nakes akan mencoba sistem selama dua hingga tiga minggu sebelum hasilnya dilaporkan ke pusat. Ia juga menambahkan bahwa program ini terintegrasi dengan Program Satu Sehat milik Kementerian Kesehatan serta sistem informasi obat dari farmasi.
Agar penggunaan lerehfarma.id bisa berjalan dengan baik, pihaknya juga memberikan pelatihan kepada generasi muda dan warga setempat. Sasaran pelatihan tersebut dibagi menjadi tiga kelompok perwakilan warga, yaitu anggota Karang Taruna, ibu-ibu PKK beserta warga produktif, serta kader kesehatan. Tak hanya itu, pelajar di wilayah tersebut juga jadi sasaran.
"Yang kemarin kita lakukan di tanggal 10 September itu kepada siswa. Siswa ini memang sebagai jembatan karena memang tujuan kita itu ingin memberikan apa namanya peran dari generasi muda yang berilmu dan di sana dari SMKN 4 Yapsi mereka punya jurusan teknologi komputer dan jaringan," tuturnya.
"Sehingga kita juga merubah mindset siswa ini apa yang mereka bisa berikan kepada warganya. Salah satunya informasi layanan kesehatan, minimal ke orang tuanya atau ke keluarganya. Dengan keahlian ilmu yang mereka punya, mereka bisa mengakses itu ya, daripada mereka harus belajar medsos dan lain-lain saja, tetapi bisa menginformasikan layanan kesehatan yang ada di kotanya, di daerahnya sendiri dengan terintegrasi dengan warga," tambahnya.
Cara Kerja Lerehfarma.id
Tampilan website lerehfarma.id. (Foto: Wisma Putra/detikJabar). |
Ia menjelaskan bahwa dalam proses pengaduan, pengguna diminta untuk menuliskan nama, nomor ponsel, isi keluhan, serta bagian atau fitur yang mereka inginkan seperti kebijakan, obat, fasilitas, atau edukasi kesehatan. Setelah data tersebut dikirimkan, mereka akan mendapatkan nomor referensi yang nantinya dapat digunakan untuk mengakses jawaban atau tanggapan dari tenaga kesehatan.
Para pengadu, menurut Yudhistira sering kali bertanya langsung terkait ketersediaan obat, seperti menanyakan apakah obat tertentu tersedia di Pustu, di lokasi mana mereka bisa mendapatkannya, atau apakah obat tersebut ada di Puskesmas.
"Karena behavior mereka di sana rata-rata mereka tuh lebih suka minum obat yang langsung obat antibiotik jadi atau langsung obat yang memang dari dokter gitu loh. Padahal dia cuman flu batuk gitu. Langsung pengen yang antibiotik, langsung kalau misalnya kena malaria mereka langsung bukan obat malaria yang dicari, tapi obat sakit, flu, batuk segala macam. Jadi obat-obat generik yang memang yang habis. Padahal malarianya masih ada," tutunya.
Ia menilai bahwa platform digital ini sangat membantu karena setiap laporan dapat diteruskan ke dinas terkait guna meminta bantuan dalam berkomunikasi dengan tenaga kesehatan di lapangan. Nantinya, pihak Puskesmas akan menunjuk admin khusus, yang berasal dari bagian humas Puskesmas atau kepala Puskesmas itu sendiri, untuk berkoordinasi langsung dengan dinas.
Dinas Kabupaten Jayapura sendiri memiliki persediaan stok yang berbeda untuk menangani berbagai kawasan di wilayah tersebut. Melalui inisiatif ini, ia berharap platform tersebut dapat menjadi perintis (pionir) yang mempercepat alur distribusi obat bagi yang membutuhkan. Pelaporan berkala kepada dinas juga akan diukur efektivitasnya agar nantinya dapat menjadi teladan atau contoh bagi distrik-distrik lain di kawasan Kabupaten Jayapura.
"Penerimaan sangat baik. Warga mengeluhkan terkait distribusi informasi obat dan juga mereka ingin platform ini bisa digunakan dan direspons lebih cepat tanpa kita harus pergi offline," ujarnya.
Melalui platform Lerehfarma.id, warga kini tidak perlu lagi menebak-nebak ketersediaan obat. Mereka bisa mengecek stok farmasi di Pustu, fasilitas yang beroperasi, hingga mengirimkan aduan layanan dengan nomor referensi yang langsung direspons oleh tenaga kesehatan.
Membangun SDM, Bukan Menunggu Benda Mati
Tim Ekspedisi Patriot ITB berinteraksi dengan tenaga kesehatan di Distrik Yapsi di Kabupaten Jayapura (Foto: Istimewa) |
Namun, teknologi secanggih apa pun akan menjadi rongsokan jika manusianya tidak siap. Tim ITB menyadari ada hambatan kultural yang lebih masif daripada sekadar ketiadaan sinyal: mentalitas ketergantungan.
Di banyak titik, masyarakat terbiasa menengadahkan tangan, meminta kucuran dana dan fasilitas fisik. Padahal, inovasi lahir dari apa yang bisa dimaksimalkan. "Yang membuat SDM unggul itu mindset-nya, jangan berbasis benda mati. Jangan berharap karena tidak ada sinyal lalu urusan ditinggalkan," tegas Yudhistira.
Pendekatan komunikasi yang membumi pun diterapkan. Tim membedah bahasa teknologi yang rumit menjadi edukasi sederhana. Lebih dari itu, mereka menunjuk siswa SMKN 4 Yapsi jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) sebagai agen penggerak. Alih-alih membiarkan ilmu coding dan jaringan siswa SMK ini menguap, mereka diberdayakan menjadi jembatan literasi kesehatan bagi warga yang lebih tua.
"Kalau teknologi disampaikan tanpa pendampingan, paling sebulan dua bulan selesai. Kita harus samakan kadar informasi mereka dengan kita. Kita beri edukasi dari hal yang paling sederhana, bahkan seperti mengecek pH air secara mandiri," tambahnya.
Kekhawatiran terbesar dari setiap pengabdian masyarakat di wilayah 3T adalah keberlanjutan (sustainability). Saat pendanaan selesai dan para relawan kembali ke kota asal, inovasi sering kali mati pelan-pelan dan menjadi "candi" semata.
Menyadari hal ini, inovasi Lerehfarma.id dirancang agar usianya panjang. Tim ITB tidak membiarkan server dan pengelolaan menggantung tanpa tuan. Mereka merajut kolaborasi dengan Universitas Cenderawasih (Uncen) jurusan Sistem Informasi. Bersama tenaga kesehatan dan kader lokal, akademisi setempat inilah yang akan meneruskan tongkat estafet pengelolaan platform pasca bulan November.
Lebih jauh, Lerehfarma.id diproyeksikan terintegrasi dengan database Kemenkes melalui program Satu Sehat. Menjadi percontohan (pionir) bagi distrik-distrik lain di Kabupaten Jayapura bahwa digitalisasi desa bukan "hil yang mustahal".
Dari Distrik Yapsi, Lerehfarma.id mengirimkan pesan penting bagi masa depan transformasi digital nasional: pemerataan infrastruktur telekomunikasi memang krusial, namun membangun manusianya agar berdaya secara digital adalah nyawa yang sesungguhnya.
Tim Ekspedisi Patriot ITB diterjunkan ke Papua sebagai bagian dari program kerja sama dengan Kementerian Transmigrasi untuk memberikan kontribusi dan solusi nyata dalam pembangunan kawasan transmigrasi.
Tahun ini, Tim Ekspedisi Patriot ITB terdiri dari 24 tim, 20 di Papua dan 4 lainnya di Kalimantan. Untuk di Papua, selain di Jayapura ada juga tim yang ditempatkan di kawasan transmigrasi lainnya seperti di Fakfak, Sorong, hingga Merauke.
Simak Video "Video: Digitalisasi dan Masa Depan Ekonomi Takalar"
[Gambas:Video 20detik] (wip/mso)



