Lebih dari Hiburan, Intip Pesan 4 Film Pendek di Bioskop Kampus ITB

Lebih dari Hiburan, Intip Pesan 4 Film Pendek di Bioskop Kampus ITB

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Minggu, 18 Okt 2026 07:23 WIB
Sesi foto bersama seluruh penyelenggara, narasumber, dan penonton.
Sesi foto bersama seluruh penyelenggara, narasumber, dan penonton. (Foto: Yogi Bagus Prasetyo
Bandung -

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan akademik Kampus ITB Ganesha, kehadiran hewan-hewan di sekitar kampus acap kali menjadi saksi bisu perjalanan para mahasiswa. Rasa cemas menghadapi tugas akhir, sepi yang merayap di sela-sela rutinitas, hingga beban ekspektasi sering kali berbenturan dengan kenyataan sehari-hari.

Berangkat dari realita tersebut, gelaran pemutaran film bertajuk Should We Save the Cat? di Ruang 9009 Kampus ITB Ganesha pada Sabtu (17/10/2026) hadir membawa ruang rehat dan refleksi emosional melalui seni peran satwa.

Acara ini merupakan hasil kolaborasi kolektif antara Ophiuchus Project, Bioskop Kampus LFM ITB, Bahasinema, serta komunitas ITB Street Feeding (ITB-SF) yang mempertemukan medium sinema dengan aksi kepedulian terhadap kucing dan hewan di lingkungan kampus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Antusiasme penonton terlihat dari antrean panjang yang mengular di depan pintu masuk sebelum acara dimulai pukul 13.00 WIB. Lebih dari 150 pendaftar yang terdiri dari mahasiswa aktif berbagai jurusan hingga alumni berbondong-bondong memadati ruangan di tengah padatnya agenda kampus pada hari yang sama.

Kehadiran mereka bukan hanya sekadar untuk menikmati hiburan visual gratis, tapi juga untuk mencari keterhubungan emosional lewat empat karya film pendek yang menempatkan hewan sebagai cermin kehidupan manusia.

ADVERTISEMENT

Kucing Kampus Sebagai Oase Kesehatan Mental Mahasiswa

Karya utama yang paling dinantikan penonton adalah film Meong! (2026) garapan sutradara Fransiska Fernanda. Film ini membawa cerita hangat berlatar lingkungan ITB dengan mengambil sudut pandang seekor kucing kampus bernama Meong.

Alur ceritanya mengikuti pertemuan Meong dengan Naila, seorang mahasiswa tingkat akhir yang tengah berjuang menghadapi tekanan hebat pengerjaan tugas akhir. Di tengah ketegangan dan revisi yang tak kunjung usai, kehadiran sederhana sang kucing menjadi support system emosional yang menemani langkah sang mahasiswa.

Sutradara Fransiska Fernanda menceritakan bahwa karakter Naila sebenarnya merupakan refleksi langsung dari kegelisahan nyata yang dialami oleh tim produksi sewaktu menginjak semester akhir perkuliahan.

Menariknya, peran Meong dalam film ini diperankan langsung oleh Siti, seekor kucing oranye liar yang sehari-hari beraktivitas di sekitar Gedung Labtek VII ITB. Proses pengambilan gambar dilakukan dengan memberikan arahan serta pancingan umpan makanan, dipadukan dengan teknik sudut pandang (POV) kucing tanpa memaksa tingkah laku satwa.

Kehadiran Siti tidak hanya memicu gelak tawa penonton di dalam ruangan, tetapi juga membuktikan bagaimana interaksi kecil dengan satwa di sekitar kampus mampu menjadi penyembuh bagi kesehatan mental yang rapuh.

Eksplorasi Kebebasan dan Pencarian Pengampunan Lewat Karakter Hewan

Daya tarik pemutaran tidak berhenti pada figur kucing semata, melainkan merambah ke metafora fauna lain yang tak kalah puitis. Film animasi Whisper of the Horizon (2025) karya Agni Nurhalisah mengajak penonton menyelami pergulatan batin seekor ikan lele yang merasa kesepian di dasar kolam yang hampa.

Terinspirasi dari pemikiran filsuf Seneca mengenai kebebasan dan harga diri di era perbudakan, sang lele digambarkan memendam keirian terhadap kucing hitam yang bebas menatap cakrawala, hingga akhirnya ia membuat keputusan ekstrem untuk keluar dari air demi merasakan arti hidup walau untuk terakhir kalinya.

"Aku tuh mengibaratkan bahwa si lele ini adalah tokoh tersebut. Jadi kalau misalnya tidak menjadi pecel lele, ya gimana lagi untuk bisa menikmati hidup. Menurut aku itu tentang perspektif dalam pilihan hidup saja sih," ungkap Agni menjelaskan pesan filosofis di balik keputusan karakter lelenya.

Perjalanan emosional penonton kemudian dibawa ke ranah moralitas dan rasa bersalah lewat film How to Be Forgiven by God? (2022). Film ini berawal dari insiden tak disengaja ketika empat remaja dari latar belakang agama berbeda menabrak seekor kucing saat sedang balapan sepeda.

Kejadian tersebut membuka tabir persahabatan mereka, memaksa masing-masing karakter menyusun rencana tebusan dosa yang mempertanyakan batas antara keinginan mendapat pengampunan ilahi dan kesediaan bertanggung jawab secara nyata atas perbuatan di dunia.

Sebagai penutup narasi, dokumenter eksperimental bertajuk Percakapan Harimau (2025), bila mengutip dari media sosial @ruangmes56, film pendek ini merupakan karya Benny Kritia, film ini menarik karena menghadirkan perjumpaan lisan, teks, dan memori kolektif sekelompok orang tentang sosok harimau.

Meski wujud fisik sang pemangsa tak pernah ditampilkan secara langsung di layar, tuturan pengalaman dan bayangan yang dirangkai berhasil membangun atmosfer magis tentang bagaimana manusia memaknai keberadaan kucing besar tersebut di dalam benak mereka.

Refleksi Empati yang Dibawa Pulang Penonton

Sinergi antara pemutaran film, diskusi bersama filmmaker, serta aksi penggalangan dana (crowdfunding) untuk perawatan kucing kampus oleh ITB Street Feeding (ITB-SF) meninggalkan kesan bagi para pengunjung.

Melalui medium sinema, audiens diajak untuk tidak hanya melihat hewan sebagai pelengkap lanskap perkotaan atau objek lucu semata, melainkan sebagai sesama makhluk hidup yang berbagi ruang emosional dan kehidupan.

Upaya menjaga ruang hidup yang harmonis ini juga ditegaskan oleh pengurus ITB Street Feeding, Sari, yang melihat bahwa kolaborasi melalui media film memberikan eksposur penting untuk mengenalkan aktivitas komunitas sekaligus membuka sudut pandang masyarakat terhadap kehidupan kucing kampus.

"Prinsip nomor satu yang kami pegang, tidak semua orang suka kucing atau hewan, dan mayoritas manusia di dunia ini netral. Tugas kami di ITB Street Feeding adalah menjaga supaya yang mayoritas netral itu tidak sampai bergeser jadi benci," jelas Sari.

Keterhubungan emosional dan daya tarik film Meong! sebagai karya berprestasi di kampus sendiri dirasakan langsung oleh penonton yang hadir di lokasi. Daniel Wijaya, mahasiswa Teknik Elektro ITB angkatan 2025, menjadi salah satu pengunjung yang mengaku antusias sengaja meluangkan waktu untuk menyaksikan penayangan film tersebut.

"Sebenarnya dengar-dengar saja sih kayak Meong! itu kan highlight-nya buat penampilan hari ini. Itu katanya menang penghargaan dan kebetulan acaranya gratis di kampus sendiri, jadi kayak kesempatan ini," ujar Daniel.

(yum/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads