DPRD Soroti Pemilahan Sampah Bandung yang Belum Optimal

DPRD Soroti Pemilahan Sampah Bandung yang Belum Optimal

Rifat Alhamidi - detikJabar
Jumat, 16 Okt 2026 19:34 WIB
Tumpukan sampah di Pasar Caringin, Bandung, dikeluhkan pedagang karena belum terangkut sepenuhnya selama sekitar empat bulan terakhir. Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan jumlah pengunjung pasar berkurang.
Sampah di Pasar Caringin beberapa waktu lalu (Foto: Muhammad Azzam / detikfoto)
Bandung -

Kota Bandung kembali menghadapi masalah krisis sampah. TPA Sarimukti yang saat ini sudah overload, usianya diprediksi tidak akan lama untuk menampung kiriman dari berbagai wilayah di Bandung Raya.

Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung Aan Andi Purnama pun turut menyoroti kondisi ini. Ia menilai bahwa pemilahan sampah di Kota Bandung saat ini masih belum optimal, sehingga sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti kerap belum terpilah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Makanya Pemkot dengan DPRD saat ini tengah membuat Perda pengolahan sampah yang difokuskan kepada upaya pengurangan sampah di hulu," katanya, Jumat (16/10/2026).

Pengurangan sampah di hulu ini, ungkap Aan, harus dilakukan mengingat kapasitas TPA Sarimukti mulai terbatas. Dengan adanya pemilahan di hulu, sampah yang dibuang ke TPA semakin kecil, sehingga saat TPA ditutup pun tidak terlalu panik.

ADVERTISEMENT

Pemilahan sampah ini, kata Aan, perlu adanya keterlibatan masyarakat. Karena itulah, kata Aan, di Perda yang kini masih digodok tersebut dimasukkan adanya keterlibatan masyarakat.

"Jadi ke depan warga masyarakat tingkat RT dan RW dilibatkan dalam pengolahan sampah, kalau dalam perda sebelumnya tidak dilibatkan," tandasnya.

Aan menyebut, pengurangan dan pemilahan sampah di tingkat hulu harus digenjot. Terlebih pada Tahun 2029, ditargetkan sampah 100 persen berkurang. Target ini dicantumkan dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

"RPJMD mengatakan seperti itu, 100 persen sampah berkurang Tahun 2029, lewat program pengurangan sampah di hulu. Jadi pengolahan sampah dimulai ditingkat RT dan RW dengan melakukan pemilahan, kemudian sampah masuk TPST yang menggunakan teknologi RDF dan juga ada kompos pit sehingga semakin berkurang. Nanti yang dibuang ke TPA tinggal residu," ujarnya.

Ia pun menilai, dengan adanya upaya pengurangan dan pemilahan sampah di hulu, ketergantungan pada TPA akan semakin berkurang. Namun munculnya rasa khawatir akibat kapasitas TPA Sarimukti semakin berkurang, mengindikasikan Pemkot Bandung masih mengandalkan TPA sebagai pembuangan akhir, sehingga terlihat penanganan sampah di hulu belum berhasil.

"Kalau Sarimukti ditutup, dampaknya pasti akan terjadi penumpukan sampah lagi. Saya kira Dinas Lingkungan Hidup sudah menyampaikan akan adanya potensi penumpukan sampah. Dinas Lingkungan Hidup sudah mengantisipasinya dengan membuat TPST dengan menggunakan teknologi RDF dan kita susah anggarkan untuk penyediaan kompos pit untuk mengurangi sampah," tandasnya.

Menurutnya, saat ini gerakan pemilahan dan pengurangan sampah di hulu belum masif. Karena harus diakui, Pemkot Bandung tidak bisa sendirian, harus semua elemen bergerak agar pengurangan sampah di hulu bisa terlihat secara signifikan.

"Semua elemen belum bergerak. Pemilahan di hulu belum berhasil target 100 persen, ini harus terus kita serukan dan gencarkan," pungkasnya.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads