Minim Serum, Damkar Ciamis Pertaruhkan Nyawa Evakuasi Ular Berbisa

Minim Serum, Damkar Ciamis Pertaruhkan Nyawa Evakuasi Ular Berbisa

Dadang Hermansyah - detikJabar
Jumat, 16 Okt 2026 06:30 WIB
Ilustrasi ular kobra
Ilustrasi Ular Kobra (Foto: Unsplash/Nivedh P)
Ciamis -

Menghadapi ular berbisa seperti king kobra bukan perkara mudah bagi petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Ciamis. Di balik keberhasilan mengevakuasi ular yang masuk ke rumah warga, ada risiko besar yang harus mereka hadapi. Terlebih, petugas mengaku belum memiliki jaminan ketersediaan serum anti-bisa ular yang memadai jika terjadi insiden gigitan saat bertugas.

Belakangan ini, permintaan bantuan untuk mengevakuasi ular yang masuk ke permukiman warga cukup sering diterima Damkar Ciamis. King kobra menjadi salah satu jenis ular yang mendominasi laporan tersebut.

Danru 2 Mako UPTD Damkar Ciamis, Andi Kuswandi, mengatakan petugas harus mengandalkan keterampilan, pengetahuan tentang perilaku ular, serta teknik evakuasi yang tepat untuk meminimalkan risiko saat berhadapan dengan satwa berbahaya tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Andi, ketersediaan serum anti-bisa ular (SABU) masih menjadi perhatian. Ia menyebut serum tersebut tidak mudah ditemukan, bahkan di fasilitas kesehatan sekalipun.

ADVERTISEMENT

"Untuk serum, jangankan di daerah seperti kita, di pusat kesehatan juga jarang. Jadi, sebisa mungkin kami melakukan penyelamatan dengan mengutamakan keselamatan petugas. Kami melihat posisi ular dan menentukan teknik yang tepat untuk mengevakuasinya," ujar Andi, Kamis (15/10/2026).

Ia menjelaskan, petugas perlu memahami karakter dan pergerakan ular sebelum melakukan penanganan. Langkah tersebut penting agar proses evakuasi tidak memicu ular untuk menyerang.

Pengetahuan tentang ular, kata Andi, juga diperoleh secara mandiri. Petugas terus belajar mengenali karakteristik ular, termasuk melalui berbagai sumber informasi dan video edukasi di internet.

"Sebisa mungkin jangan sampai dipatuk. Ada teknik tersendiri untuk mengangkat dan mengamankan ular. Kami harus memahami cara penanganannya, melihat posisi ular, dan menentukan langkah yang tepat," katanya.

Andi mengaku bersyukur selama dirinya bertugas belum ada petugas yang mengalami gigitan ular. Ia berharap kondisi tersebut terus terjaga, mengingat gigitan ular berbisa dapat mengancam keselamatan jiwa.

"Alhamdulillah, selama ini belum ada petugas yang terkena patukan ular. Saya sebagai pembina juga selalu mengingatkan agar jangan sampai ada kejadian seperti itu. Mudah-mudahan seterusnya tidak ada," tuturnya.

Permintaan evakuasi ular di wilayah Ciamis tidak memiliki pola waktu yang pasti. Dalam kondisi tertentu, petugas bisa menerima laporan hingga beberapa kali dalam sehari.

Andi menyebut, dalam satu minggu permintaan bantuan bisa datang hampir setiap hari. Bahkan, dalam sehari petugas terkadang harus menangani dua hingga tiga laporan evakuasi ular.

"Tidak bisa dipastikan. Kadang dalam sehari bisa dua kali, bahkan sampai tiga kali. Kalau sedang sering muncul, laporan bisa datang berturut-turut," ungkapnya.

Menurut Andi, kemunculan ular di sekitar permukiman juga dapat dipengaruhi kondisi lingkungan dan aktivitas ular saat mencari mangsa. Ia menyebut awal musim hujan sebagai salah satu periode ketika laporan kemunculan ular cukup sering diterima.

King kobra, lanjutnya, dapat keluar dari tempat persembunyian ketika mencari makanan. Karena itu, warga perlu meningkatkan kewaspadaan apabila menemukan ular di sekitar rumah maupun lingkungan tempat tinggal.

Andi mengingatkan masyarakat agar tidak mencoba menangkap atau mengusir ular berbisa secara mandiri. Warga sebaiknya menjaga jarak, mengawasi posisi ular dari tempat aman tanpa mendekat, lalu meminta bantuan petugas yang memiliki perlengkapan dan keterampilan penanganan.

(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads