Merawat Napas Sejarah di Balik Dinding Gedung De Driekleur

Merawat Napas Sejarah di Balik Dinding Gedung De Driekleur

Siti Nurhaliza Safitri - detikJabar
Rabu, 14 Okt 2026 10:30 WIB
Villa Tiga Warna atau dikenal juga sebagai Gedung De Driekleur
Villa Tiga Warna atau dikenal juga sebagai Gedung De Driekleur (Foto: Siti Nurhaliza Safitri/detikJabar)
Bandung -

Villa Tiga Warna atau dikenal juga sebagai Gedung De Driekleur merupakan salah satu warisan Belanda di Kota Bandung yang wujud aslinya masih dipertahankan hingga saat ini. Bangunan dengan desain Art Deco ini dirancang oleh arsitek Albert Frederik Aalbers pada 1938 silam.

Albert Frederik Aalbers merupakan lulusan dari The Rotterdam Academy of Visual Arts and Techniques di Belanda yang kemudian menetap di Hindia Belanda sejak 1930. Sejak saat itu, ia memainkan peran penting sebagai perancang bangunan di Kota Bandung. Sejumlah karyanya meliputi Gedung Hotel Savoy Homann dan Villa Tiga Warna.

Gedung De Driekleur sendiri merupakan karya terakhir Aalbers sebelum ia kembali ke Belanda karena situasi politik di Indonesia yang kurang baik. Pada awalnya, gedung ini adalah kediaman milik Na Kim Himck sebelum dialihfungsikan menjadi Kantor Berita Domei Jepang. Saat kemerdekaan Indonesia pada 1945, gedung ini menjadi tempat bersejarah sebab Abdul Muis membacakan teks proklamasi untuk disebarluaskan kepada masyarakat Kota Bandung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seiring berlalunya waktu, Gedung De Driekleur perlu dilakukan restorasi sebagai bentuk pelestarian warisan Kota Bandung. Restorasi dimulai pada 2007 dengan tetap mempertahankan gaya arsitektur dan konstruksi khas Aalbers serta mengembalikan bagian bangunan yang telah mengalami proses penuaan.

ADVERTISEMENT

Dari luar bangunan, arsitektur Villa Tiga Warna terlihat seperti kapal laut dengan kombinasi lekukan di bagian samping bangunan yang selaras dengan pepohonan. Nuansa putih di seluruh dinding ruangan berasal dari cat kapur microporus yang memberikan ruang bagi bangunan untuk bernapas.

Selain itu, tegel di lantai pertama juga direstorasi khusus sebagaimana aslinya dengan menggunakan materi granite tile, sementara tegel di lantai 2 dan 4 masih dipertahankan sebagaimana aslinya. Di tengah ruangan, saat ini terdapat taman kecil yang dibatasi dengan partisi kaca membuat ruangan terang akibat cahaya matahari yang masuk secara alami.

Salah satu warisan yang juga tidak diubah ialah tangga spiral di bagian belakang gedung. Tangga tersebut dibangun dengan material kayu jati sejak 1938 menggunakan lapisan cat melamin. Selain itu, kaca patri yang berada di lantai 3 dan 4 bangunan juga masih dipertahankan layaknya tangga spiral. Proses restorasi dilakukan pada kusen kaca patri dengan mengembalikan warna asli kayu dan dilapisi dengan plitur water base.

Kini, Gedung De Driekleur difungsikan sebagai kantor Bank SMBC (dahulu BTPN). Meski demikian, masyarakat tetap dapat mengunjungi bangunan bersejarah ini secara gratis. Restorasi yang dilakukan menjadi salah satu upaya menjaga warisan arsitektur dan sejarah Kota Bandung agar tetap lestari serta dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

"Kenapa kita restorasi ulang? Karena kita sangat menghargai seni. Dan sebenarnya kita terbuka apabila masyarakat ingin melihat arsitektur Gedung De Driekleur karena kita juga menyadari bahwa ini gedung heritage," ujar pihak Bank SMBC Bandung.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads