Bandong: Pusat Priangan di Bawah Dua Kekuasaan

Lorong Waktu

Bandong: Pusat Priangan di Bawah Dua Kekuasaan

Andry Haryanto - detikJabar
Senin, 05 Okt 2026 09:30 WIB
Jalan Braga Bandung tempo dulu.
Jalan Braga Bandung tempo dulu. (Foto: Istimewa/Koleksi digital University Leiden)
Bogor -

Tulisan ini bersumber dari pengalaman perjalanan Eliza Ruhamah Scidmore yang dibukukan dalam Java: The Garden of the East. Scidmore datang sebagai pelancong, bukan peneliti budaya atau pengamat masyarakat. Ia mencatat apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya selama perjalanan. Karena itu, pandangannya bersifat personal serta membawa cara pandang seorang pengunjung Barat pada masa kolonial.

Kereta meninggalkan Tjandjoer dan kembali mendaki. Jalurnya melintasi perbukitan, sungai, dan ngarai sebelum dataran hijau perlahan terbuka di hadapan penumpang. Di tengah dataran itu terdapat Bandong, pusat pemerintahan Keresidenan Priangan pada penghujung abad ke-19.

Eliza Ruhamah Scidmore tiba di kawasan tersebut setelah memulai perjalanan dari Buitenzorg, melewati Soekaboemi, lalu berhenti di Tjandjoer. Scidmore tidak menggambarkan Bandong secara terperinci seperti ketika menulis Buitenzorg. Catatannya lebih banyak merekam bentang alam di sekitar kota, kedudukan Bandong dalam pemerintahan kolonial, serta kehidupan kalangan elite yang ditemuinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemandangan pertama yang dicatatnya adalah dataran subur dengan Tangkoeban Praoe berdiri di batasnya. "A great, fertile green plain surrounds the native capital of Bandong, and on its confines rises the Tangkoeban-Praoe." (Dataran hijau yang luas dan subur mengelilingi ibu kota pribumi Bandong. Di batasnya berdiri Tangkoeban Praoe).

Scidmore menyebut Tangkoeban Praoe sebagai Ararat (Gunung di bagian timur Turki) bagi masyarakat setempat. Bentuk puncaknya dipandang menyerupai perahu terbalik. Dalam cerita yang didengarnya, para leluhur selamat dari banjir dengan menggunakan perahu tersebut. Setelah air surut, perahu itu dibalik agar mengering. Mereka kemudian turun dan mengisi dunia Melayu.

ADVERTISEMENT

Ia tidak menjelaskan siapa yang menyampaikan cerita itu. Scidmore juga tidak menguraikan kisah Sangkuriang sebagaimana dikenal masyarakat Sunda sekarang. Ia hanya mencatat cerita yang didengarnya selama singgah sebagai seorang pelancong.

Dari Bandong, perjalanan menuju Tangkoeban Praoe melewati kawasan perkebunan kopi lama. Hasil kopi dari daerah tersebut pernah memiliki kedudukan penting sebelum tanamannya terserang penyakit.

Di jalur itu terdapat vila dan kebun percobaan milik Franz Wilhelm Junghuhn. Naturalis tersebut disebut Scidmore berhasil mengembangkan kina serta memperkenalkan sejumlah tanaman bernilai ekonomi di Jawa.

"One may ascend the butte-like peak, passing up first through a belt of old coffee-plantations, whose product ranked first in the good old days before the blight," tulis Scidmore dalam catatan perjalannya tersebut. (Seseorang dapat mendaki puncak yang menyerupai bukit berpuncak datar itu dengan terlebih dahulu melewati kawasan perkebunan kopi lama, yang hasilnya pernah menempati kedudukan utama sebelum datangnya penyakit tanaman).

Perjalanan diteruskan menuju Lembang yang disebut berjarak sepuluh mil dari Bandong. Di sana, pengunjung meninggalkan kuda atau keretanya. Bagian terakhir menuju kawah ditempuh menggunakan djoelie, sejenis kursi tandu yang dipikul tenaga manusia.

Tandu melewati hutan menuju tepi kawah terbuka. Di dasarnya terlihat kolam belerang yang menggelegak di atas permukaan berwarna abu. Dari ketinggian, pengunjung dapat memandang dataran di sekitar Bandong.

"At Lembang, ten miles from Bandong, the mountain-climber gives up his pony or carriage, and is carried in a djoelie, or sedan-chair, through a magnificent jungle to the edge of the open crater," beber Scidmore. (Di Lembang, sepuluh mil dari Bandong, pendaki meninggalkan kuda atau keretanya, lalu dibawa menggunakan *djoelie* atau kursi tandu melewati hutan menuju tepi kawah terbuka).

Scidmore lebih banyak menggambarkan pemandangan yang dinikmatinya dibandingkan orang-orang yang mengusung tandu. Para pekerja pribumi hadir sepintas sebagai bagian dari perjalanan. Nama, kehidupan, dan kondisi kerja mereka tidak diceritakan.

Kota di Bawah Bupati dan Residen

Bandong memiliki kedudukan penting bagi pemerintahan pribumi dan kolonial. Di kota itu tinggal bupati sebagai pemimpin tradisional serta residen Belanda sebagai wakil pemerintah kolonial.

"Bandong itself, as the capital of the Preanger regencies and the home of the native regent and the Dutch resident, is a place of great importance to both races," ulas Scidmore. (Bandong sendiri, sebagai ibu kota Keresidenan Priangan dan tempat tinggal bupati pribumi serta residen Belanda, merupakan kota yang penting bagi kedua kelompok).

Dua penguasa tinggal di kota yang sama, tetapi tidak memegang kekuasaan yang setara. Residen mewakili pemerintahan kolonial dengan kewenangan administratif dan politik. Sementara bupati tetap mempertahankan gelar, kediaman, dan tata kehormatan tradisional dalam ruang kekuasaan yang telah dibatasi.

Scidmore menggambarkan bupati sebagai penerima tunjangan pemerintah kolonial yang mempertahankan bayangan kebesaran masa lalu. Ia tinggal di sebuah dalem besar di pusat Bandong.

"The regent, as a mere puppet and pensioner of the colonial government, supports the shadow of his old state and splendor in a large dalem, or palace, in the heart of the town," Scidmore menginterpretasikan amatannya. (Bupati, sebagai penguasa simbolis dan penerima tunjangan pemerintah kolonial, mempertahankan bayangan kedudukan serta kemegahan lamanya di sebuah dalem besar di pusat kota).

Istilah "penguasa simbolis" merupakan penilaian Scidmore sebagai pelancong asing. Catatannya menunjukkan ketimpangan kewenangan antara bupati dan residen, tetapi tidak menjelaskan secara menyeluruh hubungan politik, administrasi, serta budaya yang membentuk pemerintahan Priangan kala itu.

Selain tinggal di dalem, bupati mempunyai vila bergaya Eropa di pinggiran kota. Di kawasan tersebut terdapat kandang kuda pacu. Sang bupati mengikuti perlombaan di Bandong dan Buitenzorg serta beberapa kali meraih piala.

Pacuan kuda menjadi bagian dari kehidupan sosial kalangan pejabat dan pemilik perkebunan. Kegiatan itu ramai ketika musim kering tiba. Pertemuan, perlombaan, dan kegiatan sosial memperlihatkan gaya hidup elite yang tumbuh di sekitar pusat pemerintahan Priangan.

Namun, kehidupan masyarakat Bandong di luar lingkungan tersebut tidak banyak muncul dalam buku Scidmore. Ia tidak menceritakan pasar, permukiman, maupun keseharian warga secara mendalam. Bandong dalam catatannya lebih terlihat sebagai pusat administrasi, perkebunan, dan kehidupan elite.

Halaman 2 dari 2
(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads