Mencapai usia satu abad merupakan fenomena langka bagi kebanyakan orang. Namun, sebuah kota kecil di Pulau Sardinia, Italia, bernama Bolotana, kini menarik atensi serius para peneliti karena tingginya populasi penduduk yang melampaui usia 100 tahun.
Data terbaru periode 2021-2025 mengungkap fakta menarik: mayoritas penduduk yang mencapai usia centenarian di wilayah ini adalah perempuan. Temuan ini memicu studi lebih mendalam untuk memastikan apakah tren umur panjang di Bolotana bersifat permanen atau sekadar fluktuasi demografi sesaat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir detikEdu, Sardinia memang telah lama menyandang status sebagai 'Zona Biru' (Blue Zone) karena konsentrasi penduduk berumur panjangnya. Meski Bolotana menunjukkan karakteristik serupa, wilayah ini masih dalam tahap verifikasi sebelum resmi dikategorikan sebagai Zona Biru baru.
Guna memastikan akurasi data, tim peneliti melakukan validasi silang antara catatan sipil pemerintah dengan dokumen kuno milik gereja. Langkah ini krusial untuk membuktikan kebenaran usia para penduduk lanjut usia tersebut.
"Yang membuat Bolotana luar biasa adalah catatan sejarahnya yang luar biasa yang memungkinkan kita untuk secara pasti mengevaluasi usia saat lahir dan meninggal," ujar Profesor Emeritus S. Jay Olshansky dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Illinois Chicago, yang juga salah satu penulis studi tersebut, sebagaimana dikutip dari Earth.com.
Baca juga: Saat Kerak Bumi Bergeser |
Ia menambahkan bahwa verifikasi ini didukung oleh data yang sangat kuat. "Catatan pemerintah kota dan catatan pembaptisan berasal dari berabad-abad yang lalu dan memungkinkan kami untuk memverifikasi usia secara independen," imbuhnya.
Dominasi Perempuan dalam Peluang Hidup
Analisis terhadap catatan kelahiran dan kematian jangka panjang di Bolotana memberikan gambaran yang lebih detail. Dari 3.060 individu yang lahir antara tahun 1900 hingga 1925, sebanyak 38 orang berhasil mencapai usia 100 tahun atau lebih.
Penelitian yang berfokus pada periode 2021-2025 mencatat 149 kematian di kalangan lansia. Berdasarkan perhitungan statistik, laki-laki yang telah mencapai usia 70 tahun memiliki sisa harapan hidup sekitar 16,02 tahun. Di sisi lain, perempuan pada usia yang sama memiliki sisa harapan hidup yang jauh lebih tinggi, yakni 20,85 tahun.
Kesenjangan peluang mencapai usia 100 tahun juga terlihat sangat kontras. Laki-laki berusia 70 tahun di Bolotana hanya memiliki peluang 4,92 persen untuk menyentuh angka satu abad. Sementara itu, perempuan di usia yang sama memiliki peluang mencapai 13,83 persen. Angka ini menempatkan peluang hidup perempuan di Bolotana pada posisi kedua tertinggi di dunia, tepat di bawah Hong Kong.
Dinamika Umur Panjang yang Berubah
Menariknya, tren umur panjang di Bolotana tidak selalu stabil. Data periode 2015-2019 menunjukkan angka yang lebih rendah, di mana harapan hidup perempuan usia 70 tahun hanya berada di angka 18,30 tahun.
Pada periode tersebut, peluang perempuan Bolotana untuk mencapai usia 100 tahun hanya 1,46 persen, jauh tertinggal dibandingkan wilayah Zona Biru Sardinia lainnya yang mencapai 8,76 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa status umur panjang suatu wilayah dapat dipengaruhi oleh perubahan demografi, kondisi kesehatan masyarakat, dan faktor lingkungan yang berkembang dari waktu ke waktu.
Faktor di Balik Rahasia Usia Lanjut
Secara umum, perbedaan tingkat kematian antara gender dipengaruhi oleh kombinasi faktor biologis dan perilaku. Data dari Our World in Data menunjukkan bahwa bayi laki-laki secara biologis lebih rentan terhadap kondisi kesehatan tertentu dibandingkan bayi perempuan.
Memasuki usia dewasa, laki-laki cenderung terpapar risiko lebih tinggi akibat gaya hidup, seperti kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, hingga risiko kecelakaan. Pada usia senja, penyakit kronis juga lebih banyak menyerang kelompok laki-laki.
Meski demikian, studi Olshansky belum secara spesifik membedah penyebab pasti mengapa perempuan di Bolotana memiliki keunggulan umur panjang yang begitu signifikan. Selain faktor genetik dan gaya hidup, Olshansky menyoroti aspek sosiologis yang kuat di wilayah tersebut.
"Anda memiliki komunitas yang erat di mana orang-orang saling menjaga satu sama lain," tuturnya.
Hubungan sosial yang solid diduga menjadi salah satu pilar pendukung kesehatan mental dan fisik para lansia. Walaupun masih memerlukan pembuktian ilmiah lebih lanjut, catatan sejarah dan data demografi Bolotana kini menjadi referensi berharga bagi ilmuwan dunia untuk memahami rahasia di balik usia panjang manusia.
Artikel ini sudah tayang di detikEdu
