Jauh sebelum bioskop modern dengan banyak studio hadir di pusat perbelanjaan, menonton film di Bandung berarti datang ke gedung-gedung yang menjadi tujuan hiburan sekaligus ruang berkumpul warga.
Kini, sebagian besar bioskop lama telah tutup atau hilang, tetapi sejumlah bangunannya masih berdiri dengan fungsi baru dan cerita yang melekat pada fasadnya.
Daftar ini menyoroti lima bekas bioskop yang bangunannya masih tercatat atau terlihat berdiri. Beberapa sudah beralih fungsi, dan kondisi maupun akses publiknya berbeda-beda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Kota Bandung mencatat sejumlah bangunan terkait dalam daftar cagar budaya, sementara sejumlah gedung lain diketahui masih digunakan dengan fungsi yang berubah.
1. De Majestic: Dari Concordia Bioscoop ke Ruang Budaya
Di Jalan Braga, dekat persimpangan Jalan Asia Afrika, berdiri gedung putih yang kini dikenal sebagai De Majestic. Pemerintah Kota Bandung menyebut bangunan ini dirancang oleh arsitek CP Wolff Schoemaker dan berdiri pada 1925 untuk mendukung kawasan Braga sebagai pusat belanja elite.
Nama awalnya sendiri adalah Concordia Bioscoop, dan gedung tersebut menjadi tempat menonton sekaligus bersosialisasi bagi kalangan Eropa di Bandung masa itu.
Pengalaman menonton di tempat ini dahulu jauh berbeda dari bioskop masa kini. Sejarah De Majestic juga terkait dengan pemutaran Loetoeng Kasaroeng, film yang kerap disebut sebagai film cerita pertama Indonesia. Sampai sekarang, identitas bangunan tetap mudah dikenali dari tampilannya yang khas dan tulisan 'De Majestic' di bagian depan.
Gedung De Majestic Foto: Tim Mahasiswa UPI |
Perannya sendiri kini tidak lagi sebagai bioskop reguler. Pemkot Bandung menyebut gedung ini berada di bawah pengelolaan BUMD Provinsi Jawa Barat dan digunakan sebagai fasilitas pendidikan serta kebudayaan. Perubahan fungsi tersebut membuat De Majestic menjadi contoh bagaimana gedung hiburan lama dapat tetap dimanfaatkan tanpa menghapus jejak sejarahnya.
2. Bioskop Dian: Jejak Radio City di Dalem Kaum
Di Jalan Dalem Kaum No 58, bekas Bioskop Dian menyimpan riwayat yang dimulai dengan nama Radio City. Berdiri pada 1930-an, Radio City kemudian berganti nama menjadi Bioskop Dian, sebelum kegiatan pemutaran filmnya berhenti. Gedung ini sempat digunakan sebagai tempat biliar dan arena futsal.
Dalam daftar cagar budaya Kota Bandung, bangunan tersebut tercatat sebagai 'Dian Futsal (ex-Bioskop Radio City)' di alamat yang sama. Catatan itu memperlihatkan bagaimana nama dan fungsi suatu tempat dapat berubah, sementara bangunan fisiknya tetap menjadi bagian dari lanskap kota.
Bioskop Dian dahulu berada dekat kawasan alun-alun, sehingga mudah dijangkau warga dan menjadi salah satu tujuan hiburan di pusat kota. Ketika bioskop masih ramai, layar tunggalnya menjadi tempat penonton menyaksikan film dari berbagai genre. Kini, gedungnya tidak lagi berfungsi sebagai bioskop, tetapi nilai sejarahnya membuatnya penting dalam cerita perkembangan perfilman dan ruang publik Bandung.
3. Rumentang Siang: Bekas Bioskop Rivoli yang Menjadi Panggung Seni
Gedung Rumentang Siang berdiri di Jalan Baranang Siang No 1, kawasan Kosambi. Pemerintah Kota Bandung menyebut gedung ini dibangun pada 1935 dan awalnya berfungsi sebagai bioskop Rivoli. Setelah Indonesia merdeka, namanya berubah menjadi Bioskop Fajar, hingga pada tahun 1975, bangunan itu dialihfungsikan menjadi gedung pertunjukan dengan nama Rumentang Siang.
Perubahan tersebut menjadikan tempat ini bukan hanya bekas bioskop, tetapi juga ruang penting bagi seni pertunjukan Bandung. Pemkot menyebut Rumentang Siang menjadi pusat kegiatan seni dan budaya, termasuk pertunjukan teater, pameran, dan Festival Drama Basa Sunda yang telah berlangsung rutin sejak 1990.
Kisah Rumentang Siang menunjukkan bahwa gedung bioskop lama tidak harus berakhir sebagai bangunan kosong. Alih fungsi memberi kehidupan baru, sementara asal-usulnya tetap menjadi lapisan sejarah yang membentuk karakter tempat itu.
Pada 2026, pemerintah provinsi memulai revitalisasi gedung ini, seperti penataan yang dilakukan dengan tujuan membuatnya lebih nyaman digunakan tanpa menghilangkan nilai sejarah.
Bioskop Majestic Bandung zaman dulu. Foto: Istimewa/ dok Leiden University Libraries Digital Collections |
4. Bekas Bioskop Helios: Salah Satu Jejak Paling Awal di Braga
Di kawasan Braga, dekat persimpangan menuju Jalan Telepon, terdapat bangunan yang pernah menjadi Bioskop Helios. Helios tercatat dibangun sekitar 1910 dan termasuk bioskop tertua di Bandung. Pada masa itu, bioskopnya berupa layar tancap di dalam gedung, format yang sangat berbeda dengan ruang sinema modern saat ini.
Riwayat Helios memberi gambaran tentang awal tumbuhnya budaya menonton film di Bandung. Bioskop pada masa itu hadir dalam banyak bentuk dan kelas, dari tempat sederhana hingga gedung eksklusif.
Kini, bangunan bekas Helios telah digunakan sebagai tempat usaha makanan, sebagaimana dicatat dalam penelusuran detikJabar pada 2024 yang berjudul 'Memori Bioskop Lama Jejak Kehangatan Layar Perak di Bandung'. Dengan demikian, pengunjung mungkin melewatinya tanpa menyadari bahwa bangunan tersebut pernah menjadi ruang pemutaran film.
Perubahan fungsi bangunan ini juga menunjukkan tantangan dalam mengenali warisan kota; tidak semua bekas bioskop masih memiliki papan nama atau ciri yang jelas. Cerita sejarah dan lokasi menjadi petunjuk penting untuk membaca ulang bangunan yang telah menyatu dengan aktivitas sehari-hari.
5. Gedung Panti Karya: Bekas Bioskop di Seberang BIP
Gedung Panti Karya berada di Jalan Merdeka No 39, tak jauh dari Bandung Indah Plaza. Bangunan ini tercantum dalam daftar bangunan cagar budaya Kota Bandung, dan tercatat bahwa lantai dasar gedung tersebut pernah difungsikan sebagai bioskop, sementara gedungnya sendiri pada awalnya berkaitan dengan PJKA.
Panti Karya memiliki satu studio dengan ruang penonton besar dan balkon. Bagi warga yang pernah menonton di sana, pengalaman menonton berlangsung dalam satu ruang besar, bukan dalam beberapa studio kecil seperti di bioskop modern, pastinya memberikan suasana yang tak terlupakan. Meski begitu, bioskop Panti Karya kemudian berhenti beroperasi, dan gedungnya beralih fungsi.
Mencantumkan Panti Karya dalam daftar ini sekaligus mengingatkan bahwa sebutan "bekas bioskop" tidak berarti seluruh bangunan tersebut masih dapat dikunjungi atau difungsikan sebagai tempat wisata.
Gedung yang masih berdiri bisa memiliki pemilik, pengguna, dan aturan akses yang berbeda. Karena itu, pengunjung sebaiknya menikmati bangunannya dari ruang publik dan tidak masuk ke area yang bukan untuk umum.
Menyusuri Jejaknya dengan Tetap Menghormati Bangunan
Dari lima gedung ini kita bisa melihat wajah berbeda dari sejarah bioskop Bandung; ada yang menjadi ruang kebudayaan, ada yang digunakan untuk usaha, dan ada yang menjalani perubahan fungsi lainnya. Selain itu, Peraturan Daerah Kota Bandung tentang pengelolaan kawasan dan bangunan cagar budaya menekankan perlindungan serta pelestarian nilai sejarah, arsitektur, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
Jika detikers ingin menyusuri jejaknya di akhir pekan, perjalanan dapat dimulai dari Braga dan De Majestic, lalu berlanjut ke kawasan Alun-alun untuk melihat lokasi bekas Bioskop Dian. Rumentang Siang berada lebih ke arah Kosambi, sedangkan Panti Karya terletak di sekitar Jalan Merdeka.
Tak kalah penting, detikers periksa terlebih dahulu status akses dan kegiatan di setiap gedung, karena beberapa merupakan bangunan aktif atau memiliki pengelolanya tersendiri.
Bangunan-bangunan ini bukan sekadar latar foto atau peninggalan masa lampau, tapi merekam perubahan cara warga Bandung menikmati hiburan, dari layar tancap dan satu studio besar hingga kompleks bioskop modern. Selama bentuk dan kisahnya terus dikenali, bekas bioskop itu tetap menjadi bagian hidup dari ingatan kota.


