Waspada Megathrust: Jangan Tunggu Sirene Saat Gempa Kuat

Bima Bagaskara - detikJabar
Minggu, 11 Okt 2026 06:01 WIB
Ilustrasi (Foto: Getty Images/iStockphoto/SteveCollender).
Bandung -

Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di pesisir selatan Jawa Barat diimbau memahami langkah penyelamatan diri ketika terjadi gempa kuat. Dalam sejumlah skenario ancaman tsunami megathrust, gelombang diperkirakan dapat tiba sekitar 10-15 menit setelah gempa, sehingga warga perlu segera menuju tempat aman tanpa menunggu sirene atau peringatan resmi.

Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBD Provinsi Jawa Barat, Edy Heryadi, mengatakan masyarakat harus melindungi diri selama guncangan gempa berlangsung. Setelah guncangan berhenti, warga yang berada di kawasan pesisir perlu segera menjauhi pantai dan menuju titik kumpul atau daerah yang lebih tinggi.

"Segera melakukan perlindungan diri dengan melakukan gerakan melindungi kepala atau Drop, Cover, Hold On pada saat terjadi guncangan gempa. Setelah guncangan gempa segera evakuasi meninggalkan pesisir pantai dan evakuasi ke titik kumpul atau ke daerah dataran yang tinggi," kata Edy.

Imbauan tersebut relevan bagi masyarakat di lima kabupaten yang masuk dalam skenario ancaman tsunami megathrust, yakni Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran.

Berdasarkan dokumen Rencana Kontingensi BPBD Jabar 2026 yang merujuk kajian BMKG tahun 2025, waktu tiba tsunami dalam skenario tertentu diperkirakan sekitar 10-18 menit di sejumlah lokasi.

Di kawasan Pameungpeuk, Kabupaten Garut, waktu tiba diperkirakan 10-15 menit. Di Pantai Sereg, Kabupaten Cianjur, sekitar 12 menit, sedangkan di kawasan Cipatujah dan Ciandum, Kabupaten Tasikmalaya, sekitar 15 menit.

Angka tersebut merupakan perkiraan dalam skenario kajian, bukan prediksi bahwa tsunami akan terjadi dalam waktu dekat.

Jangan Bergantung Pada Sirene

Edy mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan sirene atau peringatan resmi sebagai satu-satunya dasar untuk memulai evakuasi apabila merasakan gempa kuat di wilayah pesisir.

"Warga pesisir diperintahkan segera evakuasi dengan membunyikan alat peringatan dini berbasis komunitas seperti kentongan yang ada di pos kamling, speaker masjid, speaker di kantor RW, hingga grup WhatsApp komunitas masyarakat," ujarnya.

Sistem peringatan berbasis komunitas dinilai penting, terutama apabila gempa mengganggu listrik dan jaringan komunikasi.

"Dalam kondisi listrik, jaringan komunikasi, dan akses jalan kemungkinan terganggu akibat gempa, sistem peringatan dini tsunami akan tetap bekerja dengan menggunakan alat peringatan bunyi manual seperti kentongan, alarm-alarm manual yang tidak memakai listrik," kata Edy.

Selain mengandalkan sistem peringatan, masyarakat perlu mengenali tanda-tanda alami tsunami, termasuk gempa yang sangat kuat atau berlangsung lama, perubahan permukaan air laut secara tidak biasa, serta suara keras dari arah laut.

Edy menyebut masyarakat harus segera mengevakuasi diri setelah guncangan berhenti.

"Masyarakat harus melakukan perlindungan diri saat terjadi guncangan gempa, setelah guncangannya berhenti langsung segera melakukan evakuasi menjauhi wilayah pesisir menuju ke titik kumpul yang aman atau ke dataran yang lebih tinggi," ujarnya.

Bagi warga yang tidak mengetahui jalur evakuasi, Edy mengimbau agar segera menjauhi pantai dan sungai, kemudian bergerak menuju tempat yang lebih tinggi.

"Warga agar segera melakukan evakuasi menjauhi pantai dan sungai serta langsung menuju ke tempat yang lebih tinggi," katanya.

Simak Video "Video Gempa di Jepang: Rumah Terbakar, Kereta Terguling-Mal Runtuh"


(bba/mso)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork