Ancaman tsunami akibat gempa megathrust di pesisir selatan Jawa Barat menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar. Dalam sejumlah skenario, tsunami diperkirakan dapat tiba hanya dalam 10-18 menit setelah gempa, sementara kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana tersebut masih perlu ditingkatkan.
Dokumen Rencana Kontingensi BPBD Jawa Barat 2026 mengidentifikasi lima kabupaten yang berpotensi terdampak tsunami, yakni Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran.
Ancaman tersebut berkaitan dengan dua sumber gempa megathrust, yaitu segmen Selat Sunda dan Jawa Barat-Tengah. Berdasarkan kajian BMKG tahun 2025 yang dirujuk dalam dokumen tersebut, segmen Selat Sunda berpotensi menimbulkan dampak besar di Sukabumi dan Cianjur. Sementara itu, segmen Jawa Barat-Tengah berpotensi berdampak terhadap Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis Kebencanaan Ahli Madya BPBD Provinsi Jawa Barat Edy Heryadi mengatakan pemerintah daerah memandang serius potensi ancaman tersebut. BPBD pun menyusun rencana kontingensi sebagai salah satu upaya mengantisipasi dampak bencana.
"BPBD Jawa Barat serius untuk melihat potensi ancaman tsunami zona subduksi megathrust wilayah Jabar Selatan sehingga segera dibuatkan Rencana Kontingensi dan menjadi prioritas bencana yang harus dilakukan langkah-langkah mitigasinya," kata Edy, Sabtu (10/10/2026).
Ancaman Meliputi 24.868 Hektare
Dalam dokumen tersebut, total luas wilayah dengan ancaman tsunami di Jawa Barat mencapai 24.868 hektare. Dari jumlah itu, 20.784 hektare masuk kelas bahaya tinggi, 1.448 hektare kelas sedang, dan 2.636 hektare kelas rendah. Kabupaten Sukabumi tercatat memiliki potensi luasan wilayah terdampak terbesar, yakni 6.546 hektare.
Skenario yang mengacu pada kajian BMKG tahun 2025 juga menggambarkan kemungkinan gempa magnitudo 8,7 dengan kedalaman sekitar 10 kilometer pada kedua segmen megathrust.
Di kawasan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, ketinggian maksimum tsunami dalam skenario tersebut diperkirakan mencapai 15,9 meter dengan waktu tiba sekitar 18 menit di pantai depan PLTU Palabuhanratu.
Di Kabupaten Cianjur, ketinggian maksimum diperkirakan mencapai sekitar 9 meter di sekitar Pantai Dudukuy, dengan waktu tiba sekitar 12 menit di Pantai Sereg.
Sementara itu, kawasan Pameungpeuk di Kabupaten Garut memiliki perkiraan ketinggian maksimum 19 meter dengan waktu tiba sekitar 10-15 menit. Di kawasan Cipatujah dan Ciandum, Kabupaten Tasikmalaya, ketinggian maksimum diperkirakan mencapai 23 meter dengan waktu tiba sekitar 15 menit.
Adapun di Kabupaten Pangandaran, ketinggian maksimum diperkirakan mencapai 14 meter, terutama di kawasan pantai timur, dengan waktu tiba sekitar 42 menit.
Angka-angka tersebut merupakan hasil pemodelan skenario ancaman, bukan prediksi bahwa gempa atau tsunami akan terjadi dalam waktu dekat.
Edy menyebut Kabupaten Pangandaran, Garut, dan Sukabumi memiliki tingkat kerawanan serta tantangan evakuasi yang perlu mendapat perhatian apabila dilihat dari asumsi dampak terhadap penduduk, rumah, dan infrastruktur.
"Kalau dilihat dari asumsi dampak terhadap penduduk terpapar, rumah dan infrastruktur maka Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Garut dan Kabupaten Sukabumi memiliki tingkat kerawanan dan tantangan evakuasi," ujarnya.
Waktu Evakuasi Jadi Tantangan
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah singkatnya waktu untuk menyelamatkan diri apabila gempa memicu tsunami. Edy mengakui waktu tiba dalam sejumlah skenario tersebut cukup krusial. Karena itu, peningkatan pemahaman masyarakat harus berjalan beriringan dengan penyediaan sarana evakuasi.
"Waktu tersebut memang cukup krusial untuk melakukan langkah-langkah evakuasi untuk menyelamatkan diri sehingga perlu dilakukan langkah-langkah edukasi kepada masyarakat, menyusun Tim Siaga Bencana kewilayahan, latihan dan simulasi secara rutin serta menetapkan tempat titik kumpul atau shelter-shelter yang terdekat dan aman," katanya.
BPBD Jabar juga telah melakukan simulasi evakuasi di kawasan Pantai Pangandaran pada 2023. Kegiatan tersebut menggunakan skenario waktu evakuasi sekitar 10-15 menit setelah gempa dan melibatkan masyarakat pesisir di sekitar shelter atau titik kumpul yang dibangun pemerintah.
Selain itu, edukasi dan simulasi dilakukan di Kabupaten Pangandaran serta wilayah Garut Selatan melalui kegiatan Ekspedisi Jabar Selatan pada 2024.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, BPBD belum dapat memastikan seluruh masyarakat di lima kabupaten tersebut siap menghadapi skenario terburuk.
"Belum yakin semuanya dapat menyelamatkan diri mengingat masih terdapat kerentanan yang ada di masyarakat, baik itu dilihat dari kerentanan sosial, ekonomi, fisik dan lingkungan," kata Edy.
Baca juga: Jawa Barat, Tanah yang Tidak Pernah Diam |
Menurut dia, upaya mengurangi risiko bencana memerlukan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat dan pengelola kawasan wisata.
"Untuk itu kerja sama seluruh pihak (pentahelix) dalam upaya bersama membangun kesadaran ini sangat penting dan tidak harus saling menunggu, inisiatif semua pihak sangat diperlukan," ujarnya.
Edy menegaskan penyusunan rencana kontingensi merupakan salah satu upaya BPBD Jabar untuk mempersiapkan berbagai skenario penanganan agar dampak bencana, terutama korban jiwa, dapat ditekan semaksimal mungkin.
(bba/sud)
