Pernahkah terbayang bagaimana secarik kertas perangko bisa berkeliling dunia dan memiliki kisahnya sendiri? Tak hanya itu, sebuah perangko bahkan pernah menjadi bukti kedigdayaan sebuah negara sebelum tren tersebut bergeser akibat munculnya digitalisasi.
Yip's Bandung menjadi salah satu tempat singgah berbagai macam koleksi perangko, kartu pos, surat, uang lama, hingga figur karakter sebelum berpindah ke tangan kolektor yang tepat. Terletak di Lantai Dasar Gedung Graha Pos Indonesia Bandung, toko filateli tersebut selalu dipadati oleh pengunjung dari berbagai kalangan usia dan domisili berbeda.
Hans merupakan pria asal Jerman yang telah menjadikan filateli sebagai profesinya sejak 1984. Kini ia dan istrinya menjalankan Toko Yip's Bandung sejak 2018 silam. Menurut Hans, filateli atau kegiatan mengumpulkan perangko dan benda-benda pos lainnya merupakan hobi yang menarik sebab tidak memandang strata ekonomi seseorang. Perangko yang ia jual memang tergolong memiliki harga terjangkau, yakni mulai dari seribu rupiah.
"Kami senang memberikan banyak informasi kepada pelanggan berusia lanjut maupun pelanggan muda dan orang-orang yang baru mulai mengoleksi. Kadang-kadang ada anak yang datang hanya membawa Rp2.000 atau Rp3.000. Ada juga mahasiswa yang datang untuk membuat jurnal," ucap Hans saat diwawancarai di Toko Yip's Bandung.
Perangko yang ditawarkan oleh Hans dan istrinya sangat beragam. Mereka menyediakan koleksi perangko dalam negeri layaknya flora, fauna, kebudayaan, hingga presiden Indonesia dari masa ke masa. Tak hanya itu, perangko yang berasal dari mancanegara pun tersedia untuk diburu oleh para kolektor dengan harga yang variatif.
Hans bercerita bahwa sebagian besar perangko yang ia jual berasal dari negeri-negeri di Eropa sebab kualitasnya masih terjaga dan layak untuk diperjualbelikan. Selain itu, menurutnya nilai perangko dapat diukur melalui adanya permintaan dan kelangkaan.
Minat masyarakat akan selalu memengaruhi permintaan, apalagi jika tercipta tren untuk mengoleksi suatu edisi perangko. Di sisi lain, semakin banyak orang menyukai sesuatu dan menyebabkan kelangkaan atas barang tersebut, maka pasar menjadi semakin ketat dan biasanya harganya akan meningkat drastis.
"Untuk Indonesia, misalnya, pada tahun 1950-an hingga 1960-an, ada beberapa edisi yang dicetak hingga jutaan lembar. Barang-barang tersebut sampai sekarang masih bisa dibeli dengan harga sangat murah karena jumlahnya masih banyak di pasar. Kemudian jumlah produksi mulai dikurangi dan harganya menjadi cukup stabil. Anda masih bisa mendapatkan sejumlah uang dari perangko tersebut, meskipun bukan dalam jumlah besar," ucap Hans.
Simak Video "Menemukan Uniknya Spot Gembok Cinta, Bandung"
(mso/mso)