Selain dikenal sebagai Kota Kembang, Bandung juga dikenal dengan kebiasaan warganya dalam menyingkat nama jalan atau kawasan yang sudah menjadi ciri khas pergaulan sehari-hari yang praktis sekaligus unik.
Rupanya, singkatan-singkatan ini memberikan keunikan tersendiri di mata para pelancong. Lantas apa saja nama jalan yang disingkat? Berikut ini daftar singkatan jalan di Bandung yang mungkin detikers belum ketahui.
1. Pasupati
Pertama, ada Pasupati atau kepanjangan dari Pasteur-Surapati. Nama ini muncul seiring dengan penggunaan jembatan layang tersebut sejak tahun 2005 silam. Sebelum disepakati nama Pasupati, sempat muncul usulan nama singkatan lainnya, yaitu Paspati. Namun, nama tersebut segera diganti karena dalam bahasa Sunda, kata paspati atau pas mati memiliki konotasi negatif yang berarti pas mati atau membawa kesialan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alhasil, nama diubah menjadi Pasupati yang terdengar lebih positif dan mirip dengan nama senjata panah sakti dalam pewayangan. Meski kini sudah berganti nama menjadi Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, warga Bandung masih sering memanggilnya Pasupati.
2. Jalan Gatsu
Kemudian ada Gatsu atau kepanjangan dari Jalan Gatot Subroto. Nama jalan ini diambil untuk menghormati Jenderal TNI (Purn.). Gatot Subroto. Singkatan Gatsu sendiri murni lahir dari kebiasaan percakapan warga lokal untuk mempermudah penyebutan nama pahlawan yang cukup panjang tersebut.
Wilayah ini sendiri bertransformasi dari kawasan militer dan permukiman tua menjadi pusat hiburan modern. Di jalan inilah berdiri kompleks Trans Studio Bandung beserta perhotelan dan pusat perbelanjaan besar, menjadikannya salah satu urat nadi wisata kota yang kerap padat saat akhir pekan.
3. Jalan Otista
Nama yang memiliki singkatan lainnya adalah Otista yang merupakan akronim dari Jalan Otto Iskandar Dinata. Sebelum memakai nama Otista, pada masa Hindia Belanda jalur ini terbagi menjadi beberapa ruas jalan seperti Pasarweg atau kini bernama Jalan Otto Iskandardinata dan Kaoemweg atau kini telah berganti nama menjadi Jalan Dalem Kaum.
Otista menjadi menarik karena merupakan pusat denyut ekonomi tradisional dan tekstil terbesar di Bandung. Di ruas jalan inilah berdiri Pasar Baru Trade Center, destinasi belanja tekstil legendaris yang tidak hanya dikunjungi warga lokal, melainkan juga wisatawan mancanegara asal Malaysia dan Brunei Darussalam.
4. Jalan Suci
Kemudian ada Suci yang merupakan singkatan dari dua poros jalan yang dihubungkan, yakni Surapati dan Cicaheum. Secara administratif pemerintahan, ruas jalan ini sebenarnya telah berganti nama menjadi Jalan P.H.H. Mustofa.
Kendati plang jalan resmi telah berganti nama, warga Bandung, khususnya para sopir angkot dan para pelajar, tetap teguh menggunakan nama Suci. Ruas jalan ini terkenal sebagai sentra industri sablon, distro, dan konveksi kaos kreatif di Bandung. Selain itu, kawasan ini hidup sepanjang hari karena dikelilingi oleh beberapa kampus swasta seperti ITENAS dan Universitas Widyatama.
5. Jalan Kircon
Kircon merupakan sebutan akrab untuk kawasan Kiaracondong. Walaupun pemerintah kota telah mengganti nama resminya menjadi Jalan Ibrahim Adjie guna menghormati mantan Panglima Kodam III/Siliwangi, masyarakat luas tetap lebih fasih menyebutnya Kircon.
Kircon sendiri identik dengan transportasi rakyat. Di kawasan ini beroperasi Stasiun Kiaracondong, stasiun transit utama bagi kereta api antarkota kelas ekonomi di Kota Bandung.
6. Jalan Paskal
Paskal adalah singkatan dari Jalan Pasirkaliki. Istilah ini begitu populer hingga diadopsi secara komersial oleh pusat perbelanjaan dan pusat gaya hidup megah di kawasan tersebut, yaitu "23 Paskal".
Terletak persis di sebelah barat pintu Stasiun Bandung, Paskal kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata kuliner terpadat, mulai dari kedai kopi kekinian, kuliner legendaris pecinan, hingga pusat jajanan malam Paskal Food Market.
7. Jalan Bakjer
Bagi kalangan mahasiswa, nama Bakjer tentu sudah tidak asing lagi. Bakjer adalah kependekan gaul dari kawasan Babakan Jeruk yang terletak di wilayah barat laut Bandung. Kawasan ini menarik bukan karena objek wisatanya, melainkan karena perannya sebagai salah satu perkampungan mahasiswa di dekat Universitas Kristen Maranatha.
Wilayah ini dipenuhi ruko fotokopi, tempat indekos, usaha penatu, dan aneka warung makan terjangkau. Kata babakan sendiri merujuk pada kampung atau permukiman baru yang dibuka dari desa induk, di mana area tersebut dulunya adalah perkebunan jeruk rakyat.
8. Jalan ABC
Jalan ABC merupakan nama resmi sebuah ruas jalan di dekat Alun-Alun Bandung yang sarat nilai historis. Penamaan alfabetis ini lahir dari komposisi etnis warga yang mendiami dan berniaga di koridor tersebut sejak era kolonial Belanda, meliputi Arabian (Arab), Bumiputra (Pribumi), dan Chinese (Tionghoa).
Hingga saat ini, Jalan ABC mempertahankan reputasinya sebagai sentra niaga spesifik di pusat kota lama. Di sepanjang jalan berbatu dan ruko antik ini, pengunjung dapat menemukan jejeran toko kacamata, pedagang jam tangan antik beserta jasa servisnya, hingga perkakas elektronik lawas dengan suasana tempo dulu.
9. Jalan Bubat
Bubat merupakan akronim sehari-hari untuk Jalan Buah Batu. Koridor jalan yang memanjang dari tengah kota ke arah selatan ini berfungsi sebagai jalur arteri penghubung Kota Bandung dengan wilayah Kabupaten Bandung.
Selain itu, hadirnya kompleks kampus Telkom University di ujung selatan membuat ruas ini bertransformasi menjadi kawasan hunian pelajar dan deretan sentra kafe modern. Nama Buah Batu sendiri diyakini berasal dari temuan bebatuan bulat menyerupai buah saat pembukaan kawasan lahan persawahan pada masa lampau.
10. Jalan Riau
Meskipun plang hijau di pinggir jalan dengan tegas bertuliskan Jalan L.L.R.E. Martadinata, sebagian besar warga Bandung tetap konsisten menyebutnya Jalan Riau. Nama Riau berasal dari nama lama jalan ini pada masa Hindia Belanda, yaitu Riouwstraat.
Pemerintah mengubah nama jalan ini untuk mengenang Laksamana Laut Raden Eddy Martadinata, tokoh TNI AL yang gugur pada tahun 1966. Namun, kepanjangan namanya yang cukup panjang membuat sebutan "Riau" tetap bertahan.
11. Jalan DU
DU jika dilafalkan huruf demi huruf De-U sebagai bentuk singkatan efisien dari Jalan Dipatiukur. Singkatan ini menjadi bahasa patokan bagi para komuter, sopir angkutan kota, hingga mitra pengemudi ojek online.
Beranjak malam hari, trotoar DU bertransformasi menjadi surga kuliner kaki lima, mulai dari olahan bebek goreng legendaris hingga aneka santapan malam yang ramah di kantong pelajar. Nama Dipati Ukur diambil dari figur bangsawan Sunda abad ke-17 yang memimpin perlawanan bersenjata melawan kongsi dagang VOC di Batavia.
12. Jalan Dago
Secara resmi, jalan poros utara kota ini bernama Jalan Ir. H. Djuanda untuk menghormati perdana menteri terakhir Indonesia pencetus Deklarasi Djuanda. Kendati demikian, warga Bandung maupun pelancong hampir selalu menyebutnya Jalan Dago.
Selain itu, Dago seperti jendela pariwisata Kota Bandung yang menyajikan butik mode, hotel bersejarah, taman kota, galeri seni, hingga gelaran Car Free Day mingguan. Di balik kemeriahannya, kata dago dalam bahasa Sunda berakar dari kata pendagoan yang berarti "tempat menunggu".
13. Jalan Baksil
Siapa yang tidak kenal dengan Baksil, kawasan Forest Walk atau jalur pejalan kaki di atas hutan ini sempat tercatat sebagai salah satu forest walk terpanjang di Asia Tenggara.
Panggilan Baksil sendiri merupakan kepanjangan dari Babakan Siliwangi, dua kata tersebut berasal dari gabungan kata "Babakan" yang merujuk pada wilayah atau perkampungan baru di tepi sungai, sedangkan kata "Siliwangi" sendiri diambil dari nama jalan atau kawasan sekitar yang mengabadikan nama raja besar Kerajaan Sunda, Prabu Siliwangi.
Meski begitu, dahulunya kawasan ini lebih sering dikenal dengan nama Lebak Gede atau lembah besar yang terbentuk secara alami oleh aliran Sungai Cikapundung puluhan ribu tahun lalu.
14. Jalan Gerlong
Jalan yang terkenal dengan pusat religinya ini tidak lepas dari singkatan warga Bandung. Nama Gerlong yang merupakan singkatan dari Gegerkalong ini menjadi populer karena adanya pusat wisata religi Daarut Tauhid milik KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym).
Selain itu, karena lokasinya yang berdekatan dengan kampus besar seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universitas Pasundan (Unpas), Gerlong menjadi surganya kuliner murah meriah bagi mahasiswa. Hal ini menjadi menarik ketika bulan Ramadan datang: perpaduan antara meningkatnya atmosfer religius dan menjadi pusat berburu takjil.
15. Jalan Peta
Bergeser ke wilayah Bandung Selatan, di sana ada Jalan Peta, tapi tahukah detikers kalau ternyata nama tersebut diambil dari singkatan nama organisasi militer bentukan Jepang pada masa Perang Dunia II, yaitu Pembela Tanah Air (PETA).
Pemilihan nama ini disematkan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap perjuangan serta patriotisme para pahlawan dan tentara PETA dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1943 silam.
16. Jalan BKR
Tidak jauh dari Jalan Peta, di sana ada Jalan BKR, nama BKR sendiri diambil dari singkatan Badan Keamanan Rakyat, sebuah organisasi militer pertama bentukan Republik Indonesia pasca-kemerdekaan 1945 yang menjadi asal mula Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Keunggulan lain dari Jalan BKR selain membentang dari perempatan Tegallega hingga perempatan Buah Batu adalah wisata kuliner, kawasan otomotif, dan akses strategis menuju destinasi lainnya di pusat kota.
17. Jalan Laswi
Jika sebelumnya berkaitan dengan perjuangan kemiliteran, singkatan nama jalan kali ini berkaitan dengan perjuangan perempuan. Jalan Laswi yang memiliki kepanjangan Laskar Wanita Indonesia (LASWI) ini, merupakan organisasi pejuang perempuan yang dibentuk di Bandung pada 12 Oktober 1945 oleh Sumarsih Subiyanti istri dari tokoh militer Arudji Kartawinata.
Seolah tidak ingin kalah menarik dari jalan lainnya, Jalan Laswi menawarkan beberapa daya tarik utamanya, seperti Laswi Heritage dan pameran seni Bandung Design Biennale. Pusat Ruang Kreatif (Creative Space) juga merupakan wisata kuliner dengan konsep terbuka yang nyaman untuk berkumpul.
18. Jalan Pasko
Nama Jalan Pasko merupakan singkatan populer dari Jalan Pasir Koja, salah satu kawasan jalan utama yang ikonik di Kota Bandung. Jika dilihat secara toponimi atau sejarah penamaan tempat, nama asli Pasir Koja berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Sunda dan sejarah permukiman di masa lalu.
Kata Pasir sendiri dalam bahasa Sunda, memiliki arti bukit kecil atau kawasan tanah yang posisinya lebih tinggi. Sedangkan kata Koja, merujuk pada sebutan untuk saudagar atau keturunan etnis Arab/India Muslim (Khoja) yang pada masa lampau datang untuk kemudian menetap, berdagang, dan berbaur dengan masyarakat lokal di kawasan tersebut.
19. Jalan Bacip
Bila singkatan sebelumnya berkaitan dengan histori perjuangan di masa lalu, singkatan yang kali ini memang sepenuhnya hasil dari kebiasaan warga Bandung dalam menyederhanakan nama panjang. Jalan Bacip sendiri merupakan singkatan populer dari Jalan Babakan Ciparay, salah satu kawasan jalan dan kecamatan yang berada di Kota Bandung, Jawa Barat.
Rupanya, wilayah Babakan Ciparay sendiri bukan area baru. Berdasarkan catatan sejarah di majalah berbahasa Sunda zaman kolonial, Poesaka Soenda, nama Babakan Tjiparaj sudah tercatat resmi sebagai nama tempat di wilayah Bandung sejak tahun 1923.
20. Jalan Astar
Bagi warga Bandung Barat dan sekitarnya, singkatan Astar pastinya sudah sangat melekat di telinga. Astar merupakan kependekan dari Jalan Astana Anyar. Dalam bahasa Sunda, kata astana sendiri memiliki arti makam atau pemakaman, sedangkan anyar berarti baru. Ini merujuk pada area permukiman yang dulunya berkembang di sekitar kawasan perkuburan baru kota.
Kini, Jalan Astar lebih dikenal sebagai salah satu tempat berburu barang bekas yang masih sibuk dan tetap legendaris. Di sepanjang ruas jalan ini berjajar pula pedagang yang menjajakan koleksi barang-barang jadulnya untuk diperjualbelikan.
21. Punclut
Bagi para pecinta wisata dataran tinggi dan panorama malam kota, nama Punclut tentu menjadi tujuan utama. Punclut sejatinya merupakan singkatan dari Puncak Ciumbuleuit. Kawasan perbukitan yang menghubungkan Kota Bandung bagian utara dengan Lembang ini berada di kontur tanah tinggi dengan lanskap terbuka ke arah cekungan Bandung.
Punclut berkembang menjadi kawasan wisata kuliner rakyat yang sangat hidup. Berderet saung makan tradisional menyajikan menu khas nasi merah, ayam goreng, sambal terasi, lalapan segar, serta jagung bakar, menjadikannya tempat favorit warga dan pelancong untuk menikmati hawa sejuk pegunungan sembari melihat kerlap-kerlip lampu kota (city lights).
22. Cartil
Singkatan unik lainnya di kawasan perbukitan timur Bandung adalah Cartil, yang merupakan akronim dari Caringin Tilu. Dalam bahasa Sunda, caringin berarti pohon beringin dan tilu berarti tiga. Penamaan ini merujuk pada keberadaan tiga pohon beringin legendaris yang dulu berdiri kokoh di puncak kawasan perbukitan Cimenyan tersebut.
Jalan menuju Cartil menawarkan tanjakan curam yang digemari kalangan pesepeda dan pengendara motor. Di puncaknya, pengunjung disuguhkan kedai kopi dan warung makan santai dengan pemandangan lanskap Bandung Raya dari sudut pandang timur yang memukau, terutama saat matahari terbenam dan malam hari.
23. Jalan Uber
Uber di Bandung bukanlah layanan transportasi daring, melainkan singkatan khas warga lokal untuk kawasan dan Jalan Ujungberung. Berada di jalur arteri timur yang membelah kota menuju arah Cileunyi dan Sumedang, Ujungberung memiliki sejarah panjang sebagai salah satu wilayah transit dan sentra kebudayaan tradisional tertua di Bandung.
Kawasan Uber terkenal dengan denyut Alun-alun Ujungberung yang aktif sebagai ruang publik terbuka, pasar tumpah, serta sentra pertunjukan seni benjang. Kehadiran singkatan Uber mempermudah para penumpang angkutan kota, komuter, dan warga sekitar dalam menyebut koridor jalan yang menjadi urat nadi mobilitas harian di kawasan timur Bandung.
Keberadaan singkatan-singkatan jalan di Bandung ini menunjukkan bagaimana bahasa terus hidup, beradaptasi, dan merefleksikan dinamika interaksi warganya. Mulai dari toponimi alamiah zaman dulu hingga akronim pergaulan modern, deretan nama ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kultural Kota Bandung.
