Jabar Hari Ini: Geger Warga Sukabumi Kecam Pool Party

Jabar Hari Ini: Geger Warga Sukabumi Kecam Pool Party

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 22 Sep 2026 22:00 WIB
pelaku pembunuhan wanita di kamar hotel di Cirebon berinisial S saat diamankan polisi
pelaku pembunuhan wanita di kamar hotel di Cirebon berinisial S saat diamankan polisi. (Foto: Ony Syahroni/detikJabar)
Bandung -

Beragam peristiwa terjadi di wilayah Jawa Barat hari ini, Selasa (22/9/2026) dari mulai terbakar api cemburu pria di Cirebon bunuh eks istri hingga warga Sukabumi dibuat heboh dengan event pool party.

Berikut rangkuman Jabar Hari ini:

Pemprov Jabar Berpotensi Batal Utang ke SMI

Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) mencari pembiayaan melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) berpotensi batal. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut kebutuhan pinjaman kini terus mengecil, bahkan dirinya berupaya agar Pemprov Jabar tidak perlu mengambil utang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dedi menegaskan hingga saat ini Pemprov Jabar belum memiliki utang kepada PT SMI. Rencana pembiayaan yang sebelumnya mencuat masih dalam tahap penghitungan dengan melihat kondisi pendapatan dan belanja daerah.

ADVERTISEMENT

"Belum, sampai sekarang Pemprov Jabar belum berutang. Itu bukan defisit, tapi diperkirakan target pendapatan tidak tercapai Rp3,4 triliun," kata Dedi di Gedung Pakuan, Bandung, hari ini.

Angka Rp3,4 triliun tersebut, kata Dedi, bukan berarti Pemprov Jabar mengalami defisit anggaran. Nilai itu merupakan proyeksi potensi target pendapatan yang tidak tercapai.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemprov Jabar kini mengevaluasi kembali belanja yang telah dialokasikan dalam APBD. Sejumlah kegiatan yang dianggap belum terlalu strategis untuk dikerjakan tahun ini dapat ditunda dan digeser ke tahun berikutnya.

"Kalau alokasi belanjanya sudah ada tapi dinilai tidak terlalu strategis dilaksanakan tahun ini, ya sudah geser saja tahun depan," ujarnya.

Dedi mengatakan evaluasi belanja tersebut membuat kebutuhan pinjaman semakin kecil. Bahkan jika pinjaman tetap diperlukan, nilainya dipastikan berada di bawah Rp2 triliun.

"Potensi untuk pinjam itu makin mengecil. Andaikata pun ada pinjam, pasti di bawah Rp2 triliun. Tapi saya berusaha untuk tidak pinjam," kata dia.

Menurutnya, pemerintah daerah masih berupaya menutup kebutuhan anggaran dengan mengatur ulang prioritas belanja ketimbang menambah beban utang.

Dedi bahkan menyebut kondisi keuangan Pemprov Jabar hingga September 2026 masih cukup untuk membiayai program yang sudah berjalan, sepanjang pemerintah tidak menambah proyek baru.

"Hitungan kita sampai bulan sekarang, andaikata kita tidak membuat proyek baru, sudah cukup uangnya," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, potensi kekurangan Rp3,4 triliun tidak berkaitan dengan pembiayaan program yang sudah berjalan. Nilai tersebut lebih banyak muncul dari kebutuhan untuk menjalankan kegiatan-kegiatan baru.

"Jadi Rp3,4 triliun itu sebenarnya kegiatan-kegiatan yang baru, bukan kegiatan yang sudah dilaksanakan," tutup Dedi.

⁠Suami Habisi Eks Istri di Kamar Hotel Cirebon

Seorang perempuan ditemukan tewas di sebuah kamar hotel di kawasan Kesambi, Kota Cirebon, Senin (21/9) siang. Saat ditemukan penjaga hotel, perempuan tersebut tergeletak di lantai dalam kondisi tertutup kain.

Polisi menyatakan perempuan itu merupakan korban pembunuhan. Beberapa waktu setelah jasad korban ditemukan, polisi menangkap pria berinisial S yang diduga sebagai pelaku.

Kapolres Cirebon Kota, AKBP Bimantoro Kurniawan mengatakan korban dan S merupakan mantan suami istri. Keduanya diketahui datang dan menyewa kamar hotel tersebut.

"Di mana penangkapan ini berawal dari adanya laporan masyarakat temu mayat di salah satu hotel di daerah Kesambi, Kota Cirebon," kata Bimantoro di Mapolres Cirebon Kota hari ini.

Menurutnya, berdasarkan hasil pemeriksaan saksi dan rekaman CCTV, pembunuhan diduga terjadi pada Minggu malam menjelang Senin dini hari. Jasad korban kemudian ditemukan penjaga hotel pada Senin siang.

"Ditemukan sekitar pukul 14.30 WIB hari Senin tanggal 21 September, berdasarkan dari informasi penjaga hotel. Tersangka ini menutupi jasad korban dengan kain," ujar Bimantoro.

Bimantoro mengatakan pembunuhan bermula ketika S diduga cemburu setelah mengetahui korban berkomunikasi dengan pria lain melalui telepon dan video call.

"Jadi motifnya adalah cemburu. Tersangka ini merupakan mantan suami dari korban," kata dia.

Rasa cemburu itu kemudian berujung penganiayaan di dalam kamar. S diduga menendang dan menyikut bagian wajah serta kepala korban hingga perempuan tersebut tidak sadarkan diri.

"Setelah korban sudah tidak sadarkan diri, pelaku ini memastikan si korban meninggal dunia dengan cara mengikat leher korban dengan tali sepatu," ujar Bimantoro.

"Itu sesuai dengan hasil otopsi dari korban yaitu mengalami mati lemas akibat kekurangan napas dan mengalami patah tulang di daerah leher," sambung dia.

Setelah kejadian itu, terang Bimantoro, S meninggalkan hotel dan berusaha kabur ke Pangandaran. Sepeda motor yang digunakannya sempat mogok hingga S melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan umum.

Polisi kemudian mengejar S hingga ke Pangandaran. Dia akhirnya ditangkap di salah satu tempat kerabatnya.

"Pelaku mencoba untuk melarikan diri ke daerah Pangandaran, dan akhirnya berhasil dilakukan penangkapan di salah satu tempat kerabatnya. Alhamdulillah, berkat kerja keras dari tim, pelaku berhasil diamankan tidak sampai 1x24 jam," kata Bimantoro.

Dalam kasus ini, S dijerat dengan pasal tentang pembunuhan. Adapun ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

"Pasal yang kita sangkakan yaitu Pasal 458 KUHP tentang pembunuhan, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara," kata Bimantoro.

Setelah menghabisi nyawa korban pelaku berinisial S sempat mencoba menggantung diri di kamar mandi hotel. Namun upaya tersebut gagal karena kondisi kamar mandi tidak memungkinkan.

"Setelah korban meninggal dunia, si pelaku ini mencoba untuk bunuh diri dengan cara menggantung diri di kamar mandi hotel tersebut. Tapi karena situasinya tidak memungkinkan akhirnya tidak jadi," kata Bimantoro.

Tak berhenti di situ, S kemudian mencoba cara lain. Polisi menemukan racun tikus yang diduga akan digunakan S untuk mengakhiri hidup.

"Ditemukan racun tikus, jadi si tersangka ini sempat untuk meminum racun tikus untuk bunuh diri," ujar Bimantoro.

Dua upaya tersebut akhirnya gagal dilakukan. S kemudian meninggalkan hotel dan berusaha melarikan diri menuju Pangandaran.

S awalnya mengendarai sepeda motor. Namun kendaraan tersebut mogok di perjalanan sehingga dia melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan umum.

Polisi lalu melakukan pengejaran hingga akhirnya menangkap S di salah satu tempat kerabatnya di Pangandaran.

Heboh Pool Party Sukabumi

Sebuah video yang memperlihatkan gelaran pesta kolam renang (pool party) bertajuk "Ngoetfest x SantaSea" di SantaSea Waterpark, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, mendadak viral di media sosial dan menuai kecaman publik. Acara yang dihelat pada Sabtu (19/9) malam itu dikritik lantaran dinilai mencederai norma setempat, mulai dari volume musik yang menggelegar hingga pakaian pengisi acara.

Berdasarkan penelusuran, kemarahan warga bermula dari aktivitas di area kolam renang yang berlangsung hingga larut malam. Warga RT 001/RW 005, Kelurahan Gedongpanjang, langsung melayangkan protes keras kepada pihak manajemen SantaSea Waterpark. Suara dentuman musik dari penampilan disk jockey (DJ), band, dan tarian modern dinilai terlalu bising hingga pukul 22.00 WIB, sehingga mengganggu waktu istirahat warga sekitar.

Selain kebisingan, penampilan para talent perempuan di area kolam renang juga menjadi sorotan tajam. Sebagian warga menilai konsep pool party tersebut tidak sejalan dengan kultur dan norma budaya masyarakat Sukabumi.

Asisten Direktur SantaSea, Azwar Haikal, tak menampik adanya gelombang protes dari warga sekitar. Ia mengakui bahwa insiden ini menjadi tamparan sekaligus bahan evaluasi mendalam bagi manajemen agar ke depan lebih peka terhadap kondisi sosial-budaya setempat.

"Jadi, warga intinya menyesalkan gitu ya, ada event seperti itu gitu," ujar Azwa hari ini.

Menurut Azwar, pihak manajemen telah mengantongi sejumlah catatan penting dari warga, terutama terkait masalah kebisingan suara. Ke depan, SantaSea berjanji akan menerapkan pengawasan dan seleksi yang jauh lebih ketat terhadap setiap kegiatan yang dihelat di area wisata tersebut.

"Ke depannya memang itu bakal jadi pembelajaran buat Santasea, ke depannya harus lebih memperhatikan tentang budaya masyarakat yang ada di Sukabumi seperti itu," ujarnya.

"Adapun keluhan warga yang paling besar itu adalah terkait volume juga. Terkait volume, memang ke depannya dari Santasea sendiri akan lebih-lebih mengatur untuk volume, dan akan lebih selektif lagi," sambung Azwar.

Sebagai tindak lanjut, manajemen SantaSea dan warga telah menyepakati sejumlah poin evaluasi, salah satunya adalah melarang kembalinya konsep acara yang dinilai bertentangan dengan kearifan lokal.

Di sisi lain, pihak penyelenggara Ngoetfest x SantaSea akhirnya angkat bicara dan menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat luas atas kegaduhan yang timbul.

Penyelenggara Ngoetfest x SantaSea, Muhamad Abudzar Alghifari alias Abuzar, menyatakan pihaknya memahami sepenuhnya reaksi publik dan perdebatan yang muncul akibat acara tersebut.

"Kami dari pihak panitia dengan segala kerendahan hati memohon maaf jika penyelenggaraan acara Ngoet Fest membuat gaduh dan ketidaknyamanannya di masyarakat," kata Abuzar.

Meski demikian, Abuzar memberikan sejumlah klarifikasi terkait protokol dan batasan yang diterapkan selama acara berlangsung. Ia menegaskan bahwa panitia sejak awal melarang peredaran maupun konsumsi minuman beralkohol serta narkotika di lokasi.

"Perlu kami klarifikasikan bahwa dalam kegiatan acara Ngoet Fest bertema pool party ini, kami melarang adanya kegiatan minum-minuman beralkohol, narkotika dan obat terlarang," jelas Abuzar.

Terkait busana talent, Abuzar mengklaim pihaknya telah menerapkan aturan berpakaian dan melarang penggunaan bikini seksi. "Selain itu juga dalam kegiatan tersebut kami melarang adanya perempuan menggunakan bikini sexy dan memperbolehkan hanya untuk menggunakan pakaian renang," tambahnya.

Ia menjelaskan, konsep awal acara murni dirancang sebagai sarana hiburan segar bagi pengunjung melalui kolaborasi penampilan live DJ, band, dan tarian modern di sekitar kolam renang.

"Ide konsep dari acara tersebut adalah dengan menghadirkan hiburan live disk jockey (DJ), band musik dan tarian modern kepada pengunjung di kolam renang," terangnya.

Kendati demikian, Abuzar mengakui eksekusi di lapangan memicu pro dan kontra di tengah masyarakat. Pihaknya berjanji akan menjadikan polemik ini sebagai pelajaran berharga agar lebih bijak meramu konsep hiburan di masa mendatang.

"Untuk itu kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kegaduhan tersebut dan ke depannya kami akan lebih bijak dalam menyelenggarakan acara hiburan di masyarakat," pungkasnya.

Tanda Tanya Pemain Baru Persib

Bursa transfer Super League 2026/2027 tinggal menyisakan satu hari. Batas pendaftaran pemain akan berakhir pada 23 September 2026, tetapi Persib Bandung masih belum memberikan kepastian apakah akan kembali mendatangkan pemain baru.

Sebelumnya, manajemen Persib menyebut keputusan terkait kebutuhan pemain berada di tangan tim sporting. Pelatih Igor Tolic dan Sporting Director Stanley Bernard menjadi sosok yang memiliki kewenangan untuk menentukan apakah Maung Bandung masih membutuhkan tambahan amunisi.

Namun, ketika ditanya langsung mengenai kemungkinan Persib merekrut pemain baru menjelang deadline, Igor justru mengaku belum mengetahui apa pun. "Saya tidak memiliki informasi apa pun tentang pemain baru, tetapi jika dia mengatakannya, anda bisa bertanya padanya, itu lebih baik," kata Igor, Selasa (22/9/2026).

Pernyataan tersebut membuat situasi transfer Persib jelang penutupan bursa semakin menarik. Sebab, manajemen telah menyerahkan keputusan perekrutan kepada tim sporting. Artinya, sampai sehari sebelum bursa ditutup, belum ada kepastian dari pelatih mengenai apakah Persib akan menambah pemain atau bertahan dengan komposisi skuad yang ada.

Persib sendiri telah bergerak cukup aktif sepanjang bursa transfer musim ini. Sejumlah pemain baru didatangkan untuk memperkuat skuad, termasuk Gabriel Mutombo, Danijel Loncar, Gakuto Notsuda, Balsa Sekulic, Luka Menalo, Mariano Peralta, Sandy Walsh, dan Ragnar Oratmangoen.

Deputi CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan sebelumnya mengatakan, keputusan mendatangkan pemain baru tidak sesederhana memenuhi kebutuhan di atas lapangan. Menurutnya, kondisi ruang ganti juga menjadi pertimbangan penting.

"Saya pikir gini. Banyak juga Bobotoh yang bilang "tambah pemain, tambah pemain". Saya selalu bilang, bahwa managing locker room itu enggak semudah itu," kata Adhitia, Senin (21/9/2026).

Ia kemudian menggambarkan ruang ganti tim sebagai sebuah lingkungan yang sudah terbentuk dan memiliki kenyamanan. Kehadiran pemain baru, kata dia, harus dipastikan tidak mengganggu keseimbangan yang sudah terbangun.

"Managing locker room itu bayangin kalian punya tempat tongkrongan yang udah nyaman, enak, terus tiba-tiba ketambahan satu teman yang belum tentu cocok sama kalian, yang punya potensi kemudian ngerusak locker room yang lagi hangat, jadi enggak hangat," ujarnya.

Karena itu, Adhitia menegaskan perekrutan pemain tidak cukup hanya melihat kualitas individu atau posisi yang dibutuhkan tim. Adhitia menyebut keputusan akhir terkait kebutuhan skuad berada di tangan tim sporting Persib, termasuk pelatih kepala Igor Tolic dan Sporting Director PT PBB Stanley Bernard.

"Jadi, nambahin pemain itu enggak cuman sekadar nambahin pemain berkualitas sesuai dengan kebutuhan tim. Tapi juga harus banyak yang dipikirin," ucapnya.

"Dan orang yang paling tahu tentang hal tersebut adalah teman-teman di sporting, baik itu Igor maupun Stanley, jadi biarkanlah mereka yang berpikir, menganalisa, dan mengambil keputusan," lanjutnya.

Manajemen, lanjut dia, akan memberikan dukungan penuh terhadap keputusan yang diambil tim sporting, baik jika mereka memilih mendatangkan pemain baru maupun mempertahankan komposisi skuad saat ini.

"Manajemen 100%, 200% berada di belakang mereka. Mereka mau nambah, kita fine. Mereka mau dengan yang sekarang juga, kita akan support. Jadi ya, itu harus ditanyakan ke Igor sama Stanley Tapi intinya manajemen full support," tutur Adhitia.

Aksi Lepas Liar 145 Murai Batu Ancam ekosistem Sanggabuana

Aksi pelepasliaran 145 ekor burung murai batu secara serampangan di kawasan Puncak Sempur, Pegunungan Sanggabuana, Kabupaten Karawang, memicu alarm bahaya bagi ekosistem lokal.

Tindakan yang dilakukan tanpa koordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat tersebut mengecewakan para peneliti satwa liar dan aktivis lingkungan.

Pembina Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), Bernard Trinarta Wahyu Wiryanta, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima banyak laporan keresahan warga terkait aksi pelepasan massal satwa kicau tersebut.

"Informasi yang kami dapatkan, ada 145 ekor burung kicau jenis murai batu yang dilepas di satu titik secara bersamaan. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan," ujar Bernard saat dikonfirmasi hari ini.

Bernard menyoroti sejumlah prosedur krusial yang diabaikan, mulai dari ketiadaan pemeriksaan kesehatan hingga proses karantina. Tanpa tahap medis yang benar, burung-burung tersebut berpotensi membawa virus atau patogen mematikan yang dapat menular dan mengancam populasi burung liar asli di Pegunungan Sanggabuana.

Selain ancaman wabah, proses adaptasi yang gagal juga berujung fatal bagi satwa tersebut.

"Burung yang dilepaskan tidak melalui proses habituasi. Laporan yang diterima SCF menyebutkan sejumlah burung bahkan ditemukan mati di lokasi. Kematian ini diduga kuat akibat ketidakmampuan burung beradaptasi, mencari pakan alami, serta menghindari predator," jelasnya.

Masalah genetik turut menjadi perhatian utama. SCF meragukan status keaslian ras murai batu yang dilepaskan tersebut. Pencampuran genetik dari burung hasil penangkaran yang tidak jelas asal-usulnya dikhawatirkan merusak kemurnian genetik populasi murai batu lokal Sanggabuana.

Lebih ironis lagi, burung-burung tersebut dilepasliarkan dalam kondisi fisik yang masih terikat atribut penangkaran.

"Burung itu dilepas masih mengenakan cincin di kakinya yang bertuliskan 'H. Enda'. Ini sangat tidak tepat, membiarkan satwa hidup di alam liar dengan kondisi terbelenggu," tegas Bernard.

Menanggapi fenomena ini, Biodiversity Science dari Yayasan Burung Indonesia (BirdLife Indonesia), Achmad Ridha Junaid, menjelaskan bahwa secara ketinggian (elevasi), Pegunungan Sanggabuana memang masuk dalam rentang habitat alami murai batu. Meski demikian, tipe habitat spesifiknya tetap wajib dikaji secara mendalam.

"Umumnya murai batu di alam hidup di hutan dataran rendah, hutan sekunder di pesisir atau rawa, serta hutan campuran dataran rendah," terang Ridha.

Ridha kembali menegaskan krusialnya menjaga kemurnian genetik satwa liar. Burung hasil penangkaran umumnya merupakan hasil persilangan berbagai ras yang berisiko merusak keragaman genetik alami jika bercampur di ekosistem liar.

"Kami menyarankan agar individu burung yang ditemukan mati segera dievakuasi untuk meminimalisasi potensi penyebaran penyakit. Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat harus ditingkatkan agar tidak ada lagi aksi pelepasliaran satwa secara sembarangan," imbau Ridha.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi publik bahwa pelepasliaran satwa bukanlah tindakan main-main. Ada prosedur ketat yang wajib dipatuhi demi menjaga keseimbangan ekosistem.

"Pelepasliaran satwa, apalagi jenis burung, harus memperhitungkan banyak faktor. Karena itulah ada BBKSDA yang bertugas mengkaji kesehatan, asal-usul genetik, kesesuaian habitat, kemampuan adaptasi, hingga daya dukung ekosistem sebelum satwa dilepas ke alam bebas," tutupnya.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads