Napas Filateli di Indonesia

Napas Filateli di Indonesia

Siti Nurhaliza Safitri - detikJabar
Sabtu, 10 Okt 2026 12:30 WIB
Koleksi perangko dan uang kuno yang berasal dari mancanegara di Toko Yips Bandung
Koleksi perangko dan uang kuno yang berasal dari mancanegara di Toko Yip's Bandung (Foto: Siti Nurhaliza Safitri/detikJabar).
Bandung -

Pernahkah terbayang bagaimana secarik kertas perangko bisa berkeliling dunia dan memiliki kisahnya sendiri? Tak hanya itu, sebuah perangko bahkan pernah menjadi bukti kedigdayaan sebuah negara sebelum tren tersebut bergeser akibat munculnya digitalisasi.

Yip's Bandung menjadi salah satu tempat singgah berbagai macam koleksi perangko, kartu pos, surat, uang lama, hingga figur karakter sebelum berpindah ke tangan kolektor yang tepat. Terletak di Lantai Dasar Gedung Graha Pos Indonesia Bandung, toko filateli tersebut selalu dipadati oleh pengunjung dari berbagai kalangan usia dan domisili berbeda.

Hans merupakan pria asal Jerman yang telah menjadikan filateli sebagai profesinya sejak 1984. Kini ia dan istrinya menjalankan Toko Yip's Bandung sejak 2018 silam. Menurut Hans, filateli atau kegiatan mengumpulkan perangko dan benda-benda pos lainnya merupakan hobi yang menarik sebab tidak memandang strata ekonomi seseorang. Perangko yang ia jual memang tergolong memiliki harga terjangkau, yakni mulai dari seribu rupiah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami senang memberikan banyak informasi kepada pelanggan berusia lanjut maupun pelanggan muda dan orang-orang yang baru mulai mengoleksi. Kadang-kadang ada anak yang datang hanya membawa Rp2.000 atau Rp3.000. Ada juga mahasiswa yang datang untuk membuat jurnal," ucap Hans saat diwawancarai di Toko Yip's Bandung.

Perangko yang ditawarkan oleh Hans dan istrinya sangat beragam. Mereka menyediakan koleksi perangko dalam negeri layaknya flora, fauna, kebudayaan, hingga presiden Indonesia dari masa ke masa. Tak hanya itu, perangko yang berasal dari mancanegara pun tersedia untuk diburu oleh para kolektor dengan harga yang variatif.

ADVERTISEMENT

Hans bercerita bahwa sebagian besar perangko yang ia jual berasal dari negeri-negeri di Eropa sebab kualitasnya masih terjaga dan layak untuk diperjualbelikan. Selain itu, menurutnya nilai perangko dapat diukur melalui adanya permintaan dan kelangkaan.

Minat masyarakat akan selalu memengaruhi permintaan, apalagi jika tercipta tren untuk mengoleksi suatu edisi perangko. Di sisi lain, semakin banyak orang menyukai sesuatu dan menyebabkan kelangkaan atas barang tersebut, maka pasar menjadi semakin ketat dan biasanya harganya akan meningkat drastis.

"Untuk Indonesia, misalnya, pada tahun 1950-an hingga 1960-an, ada beberapa edisi yang dicetak hingga jutaan lembar. Barang-barang tersebut sampai sekarang masih bisa dibeli dengan harga sangat murah karena jumlahnya masih banyak di pasar. Kemudian jumlah produksi mulai dikurangi dan harganya menjadi cukup stabil. Anda masih bisa mendapatkan sejumlah uang dari perangko tersebut, meskipun bukan dalam jumlah besar," ucap Hans.

Bahkan Hans menjelaskan bahwa perangko dapat dijadikan sebagai investasi apabila kolektor pintar dalam memilih edisi. Blue Mauritius merupakan salah satu ikon dalam dunia perangko dan filateli sebab hanya tersedia dalam jumlah yang sangat terbatas. Perangko tersebut dibuat untuk sebuah acara yang berkaitan dengan gubernur Mauritius pada tahun 1800-an.

Blue Mauritius sudah dikenal selama sekitar 100 tahun oleh seluruh filateli di seluruh dunia. Jika seseorang memiliki perangko tersebut bahkan dalam kondisi buruk pun, nilainya tetap bisa mencapai sekitar satu juta dolar. Namun, jika kondisinya sempurna, harganya bisa mencapai tiga atau bahkan lima juta dolar. Maka dari itu, Hans berpendapat bahwa filateli merupakan hobi yang memberikan kesenangan sekaligus bisa mendatangkan keuntungan.

Walau terdapat standar tertentu dalam menentukan nilai sebuah perangko, Hans tetap berprinsip bahwa setiap orang berhak memiliki selera masing-masing dan mengoleksi apa pun yang mereka sukai. Tidak ada kewajiban untuk membuat koleksi lengkap berdasarkan suatu negara.

"Kalau Anda mencintai negara Anda dan ingin menunjukkan seluruh sejarah filatelinya, Anda bisa membuat koleksi lengkap. Namun, itu bukan sebuah kewajiban. Koleksi tematik sama pentingnya dengan koleksi tradisional," tambahnya.

Selain dijadikan sebagai bahan koleksi, perangko juga menjadi bagian dari dokumentasi sejarah suatu bangsa. Perangko menunjukkan apa yang terjadi selama beberapa dekade, mulai dari presiden, budaya, bahasa, alam, dan berbagai aspek lainnya.

"Perangko juga bisa menunjukkan bagaimana suatu negara menggambarkan sistem politiknya. Di negara demokratis, terkadang perangko dapat menunjukkan adanya pemilihan umum," jelas Hans.

Seiring berjalannya waktu, minat akan koleksi perangko di kalangan masyarakat mengalami perubahan. Hans bercerita bahwa di tanah kelahirannya tak banyak generasi muda yang mengetahui hobi mengoleksi perangko. Namun, hal berbeda justru terjadi di Indonesia karena menurutnya perangko masih diminati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Marissa merupakan salah satu pengunjung generasi muda yang tengah berburu perangko saat Detik Jabar tengah melakukan kunjungan ke Yip's Bandung. Ia mengaku bukan seorang filateli, melainkan tengah mencari arsip sejarah khususnya mengenai peristiwa 65.

"Kebetulan sekarang lagi tertarik untuk ngeliat arsip-arsip sejarah. Misalnya soal Indonesia tahun 19665 dan soal gerakan perempuan. Tadi nemu banyak perangko Vietnam dan Jerman tentang gerakan perempuan," ucapnya.

Hans menyambut baik antusiasme masyarakat Indonesia terhadap filateli. Menurutnya hobi tersebut perlu diteruskan sebagai penanda eksistensi cara masyarakat terdahulu berkomunikasi sebelum adanya akses internet.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menemukan Uniknya Spot Gembok Cinta, Bandung"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads