Makanan Korea yang Bikin Warga Bandung Merana

Round-up

Makanan Korea yang Bikin Warga Bandung Merana

Rifat Alhamidi - detikJabar
Kamis, 08 Okt 2026 07:15 WIB
Kondisi restoran Korea yang diduga sebabkan sejumlah warga Bandung keracunan
Kondisi restoran Korea yang diduga sebabkan sejumlah warga Bandung keracunan (Foto: Rifat Alhamidi)
Bandung -

Makan bersama di sebuah restoran Korea di Kota Bandung justru berakhir dengan keluhan kesehatan bagi sejumlah pengunjung yang. Setelah menyantap hidangan, beberapa orang mengalami gangguan kesehatan hingga dugaan keracunan.

Kasus itu dilaporkan terjadi di 88 Seoul - Paskal 23, Kota Bandung.

Dinas Kesehatan kemudian turun tangan melakukan pemeriksaan, sejumlah temuan didapat dari restoran tersebut hingga operasionalnya ditutup sementara. Di sisi lain, para korban menceritakan pengalaman mereka setelah menyantap makanan di sana.

Semuanya bermula dari curhatan para pengunjung yang mengeluh telah mengalami keracunan setelah menyantap makanan di restoran itu. Keluhan yang mereka laporkan antara lain diare, mual, muntah, nyeri perut hingga demam tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Threads, beredar klaim bahwa jumlah orang yang mengalami keracunan mencapai 284 orang. Namun, angka tersebut hingga kini belum terkonfirmasi secara resmi.

Setelahnya, Dinkes kemudian turut menginspeksi dugaan keracunan yang dialami sejumlah orang di restoran tersebut. Hasilnya, dari pemeriksaan awal, ditemukan masalah higiene dan sanitasi restoran yang masih perlu diperbaiki.

"Secara umum dari pemeriksaan awal memang masih ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lagi oleh pihak restoran," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung Dewi Primasari dikutip Rabu (7/10/2026).

Menurut Dewi, penataan bahan makanan segar dan bahan makanan kering perlu diperhatikan. Termasuk pemisahan dengan bahan kimia seperti cairan pembersih dan sabun pencuci piring.

ADVERTISEMENT

"Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang," katanya.

Dinkes juga menyoroti penerapan sistem first in first out (FIFO) maupun first expired first out (FEFO) dalam penyimpanan dan penggunaan bahan makanan. Menurut Dewi, penerapan SOP tersebut belum terlihat secara jelas di lokasi.

Selain sarana dan penataan bahan makanan, perilaku para penjamah makanan juga menjadi perhatian. Dinkes meminta seluruh pekerja yang terlibat dalam pengolahan dan penyajian makanan memperhatikan perlindungan diri, seperti penggunaan masker dan penutup rambut atau hair net.

"Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki. Pelindung dirinya, masker, kemudian yang tidak berkerudung atau laki-laki menggunakan hair net," tuturnya.

Dewi mengatakan, rekomendasi perbaikan telah disampaikan langsung kepada pihak restoran. Selanjutnya, Dinkes akan memantau untuk memastikan rekomendasi tersebut ditindaklanjuti.

Pemantauan tidak hanya dilakukan oleh Dinkes Kota Bandung, tetapi juga melibatkan puskesmas. Mengingat adanya kasus dugaan keracunan, pengawasan terhadap restoran tersebut akan dilakukan secara lebih intensif.

"Biasanya kalau ada kasus seperti ini kita agak lebih intensif pemantauannya," kata Dewi.

Tak hanya itu saja, Dewi mengimbau masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari restoran tersebut agar segera melapor kepada puskesmas terdekat atau melalui kanal resmi Dinkes Kota Bandung. Dari laporan yang telah diterima, gejala muncul dalam rentang waktu yang bervariasi. Gejala paling cepat dilaporkan muncul sekitar dua jam setelah mengonsumsi makanan. Sedangkan yang paling lambat sekitar 12 jam.

Gejala yang dilaporkan antara lain sakit perut, mual, muntah, serta buang air besar cair atau diare. Dinkes masih terus menginvestigasi dengan mengonfirmasi laporan, menelusuri kasus, serta memeriksa kondisi kesehatan warga yang melaporkan mengalami gejala.

"Kita melakukan investigasi langsung ke lapangan, ke pengelola resto, kemudian ke konsumen yang melaporkan. Kita cek sejauh mana kondisinya sekarang dan disarankan berobat," jelas Dewi.

Namun, proses investigasi menghadapi kendala karena pihak restoran tidak memiliki sampel makanan yang disimpan. Padahal, keberadaan sampel makanan dapat membantu proses pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui kemungkinan penyebab gangguan kesehatan.

"Idealnya itu seharusnya ada pemeriksaan sampel, tetapi ternyata restoran ini tidak menyimpan sampel. Jadi tadi masih sebatas edukasi," tuturnya.

Setelah kasus ini terjadi, pihak pengelola memutuskan untuk menutup sementara resto tersebut. Pantauan detikJabar, Rabu (7/10/2026), restoran Korea 88 Seoul berada di lantai 3 Paskal 23 Shoping Center sudah ditutup untuk pengunjung.

Pengelola juga memasang tanda pemberitahuan jika restoran itu sudah untuk umum, kecuali bagi undangan. Kursi pengunjung juga telah diangkat ke atas meja sebagai penanda restoran itu telah ditutup.

"Sebagai tindak lanjut atas laporan yang telah kami terima dari sejumlah pelanggan, 88 SEOUL - 23 Paskal, Bandung akan menghentikan sementara operasional pada 7-8 Oktober 2026," kata Operations General Manager 88 SEOUL Daniel Yahya dalam keterangannya, Rabu (7/10/2026).

Daniel mengatakan, keputusan itu diambil sebagai langkah evaluasi. Pihaknya juga sampaikan permohonan maaf terkait kejadian ini.

"Langkah ini kami lakukan sebagai bentuk kehati-hatian untuk melakukan pembersihan dan sanitasi secara menyeluruh, serta evaluasi terhadap proses dan standar operasional di gerai. Keamanan, kualitas, dan kenyamanan pelanggan selalu menjadi prioritas kami," ujarnya.

"Kepada pelanggan mengalami kondisi pengalaman yang menyenangkan setelah berkunjung ke 88 SEOUL - 23 Paskal, Bandung, kami menyampaikan permohonan maaf," tuturnya.

Daniel menyebut, pihaknya berkomitmen untuk memberikan perhatian dan pendampingan yang dibutuhkan, serta memprioritaskan kesehatan pelanggan. Selain itu, tim kami juga terus berupaya menghubungi pelanggan yang telah menyampaikan keluhan dan keresahan.

"Hal ini sejalan dengan itikad kami untuk menindaklanjuti kejadian ini dengan sebaik-baiknya. Bagi pelanggan yang memiliki keluhan atau membutuhkan bantuan lebih lanjut, dapat menghubungi Customer Care kami di 0815 1175 9999 dengan memilih menu "Customer Care" agar tim kami dapat membantu secara langsung.

"Terima kasih atas setiap masukan dan informasi yang telah disampaikan kepada kami. Hal ini menjadi bagian penting bagi kami untuk terus menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanan 88 SEOUL," tuturnya.

Kemudian setelah itu, KWali Kota Bandung Muhammad Farhan kemudian membeberkan hasil temuan Dinas Kesehatan setelah kasus keracunan di 88 Seoul. Temuan itu terdiri dari masalah kebersihan dapur hingga penyajian makanan yang diduga sudah terkontaminasi bakteri.

"Kami melakukan berbagai macam pemeriksaan di antaranya tempat penyimpanan, tempat jarak antara penyimpanan bahan makanan basah, bahan makanan kering, alat-alat bersih, alat-alat kotor, bahan pembersih kimia sampai bahan-bahan kotor. Nah, itu sedang diperbaiki sekarang ini," katanya.

Farhan mengaku masih mengidentifikasi jumlah korban keracunan dari restoran tersebut. Meski jumlahnya diklaim mencapai 284, namun hal itu perlu didalami kembali.

"Termasuk kami sedang menunggu sebetulnya apakah nanti aparat hukum akan turun atau enggak, kita belum tahu. Yang pasti kita akan memastikan bahwa tempat 88 Seoul itu mengikuti kaidah-kaidah keamanan dan kebersihan makanan," ungkapnya.

Farhan lantas membeberkan hasil temuan Dinkes di Restoran 88 Seoul. Berdasarkan laporan yang ia terima, alur dapur sudah sesuai standar karena memisahkan pintu masuk dan pintu keluar.

"Jadi tidak ada risiko di mana makanan bekas bercampur dengan makanan baru. Tapi area pencucian alat makan perlu diperhatikan, karena terdapat risiko kontaminasi terhadap bahan makanan dari sabun cuci dan peralatan cucian," ucapnya.

Kemudian, temuan selanjutnya yaitu area penyimpanan bahan makanan beku belum memberlakukan pengaturan first in first out secara jelas. Selanjutnya penyimpanan makanan dingin perlu dilengkapi dengan alat pengukur, serta penyimpanan minyak jelantah tidak dalam kondisi tertutup.

"Nah, proses pengolahan makan para penjamah makanan tidak menggunakan masker,itu menjadi risiko gitu. Terus belum disediakan bank sampel makanan, packaging kemasan belum dilengkapi dengan keterangan expired time, general cleaning bagus, tempat sampah bagus menggunakan pedal kaki," ujarnya.

Setelah hasil penelusuran ini, investigasi bakal dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kasus baru. Pendataan dengan rumah sakit juga bakal dilakukan untuk mengetahui identitas pasien, termasuk hasil diagnosa dokternya.

Farhan pun mendorong agar pihak restoran 88 Seoul bertangungjawab atas kasus keracunan ini. Dari sana, nantinya akan disusun analisa untuk menyimpulkan kasus keracunan tersebut.

"Harus tanggung jawab dong. Kalau saya bilang saya keracunan makan di restoran A karena kata si dokter B, maka sayanya mesti diidentifikasi, termasuk restorannya dan dokternya yang memberikan diagnosis. Kemudian akan disusun analisis hipotesis kasus keracunan makanan," katanya.

"Kemudian, laporan perkembangan kasus akan dipimpin langsung oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung dengan pelaporan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa wisata kuliner di Kota Bandung aman dan terawasi dengan baik," ucapnya.

Farhan sempat ditanya mengenai nasib restoran 88 Seoul ke depan setelah muncul kasus keracunan. Ia mengatakan, Pemkot Bandung perlu menyelidiki terlebih dahulu untuk memastikan kejadian tersebut.

"Itu sedang diselidiki terus kan. Karena gini, kalau memang ada pengaduan, kenapa masih ada yang datang ke sana? Karena kita pengin tahu nih, coba kita selidiki dulu apa yang membuat (keracunan), sehingga kita akan datangi terus setiap hari untuk memastikan apakah ada kasus baru atau tidak ada, " ungkapnya.

Kemudian, Farhan sempat ditanya langkah tegas Pemkot Bandung setelah kasus keracunan ini. Ia membuka peluang supaya restoran itu harus ditutup sebelum beroperasi sesuai standar.

"Ya bisa aja, tergantung dari temuan akhir. Pada akhirnya kan sekarang lagi menunggu disimpulkan," katanya.

"Karena gini, kita ambil sampel makanan, itu segala macam kan dites di lab untuk mengetahui sesuatu teh terkontaminasi atau enggak. Jadi dia butuh waktu, itu emang rada lama, punten pisan. Tapi kalau memang manajemennya memutuskan untuk 'Udah kita tutup aja daripada disorot terus', ya itu mah keputusan manajemen," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(ral/yum)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads