Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membeberkan hasil temuan Dinas Kesehatan setelah kasus keracunan dialami pengunjung restoran makanan Korea, 88 Seoul. Temuan itu terdiri dari masalah kebersihan dapur hingga penyajian makanan yang diduga sudah terkontaminasi bakteri.
Pernyataan itu disampaikan Farhan saat ditemui wartawan di Hotel Grandia, Kota Bandung, Rabu (7/10/2026) petang. Farhan memastikan, setelah kasus ini terjadi, Dinkes telah turun tangan untuk menelusuri kejadian tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami melakukan berbagai macam pemeriksaan di antaranya tempat penyimpanan, tempat jarak antara penyimpanan bahan makanan basah, bahan makanan kering, alat-alat bersih, alat-alat kotor, bahan pembersih kimia sampai bahan-bahan kotor. Nah, itu sedang diperbaiki sekarang ini," katanya.
Farhan mengaku masih mengidentifikasi jumlah korban keracunan dari restoran tersebut. Meski jumlahnya diklaim mencapai 284, hal itu perlu didalami kembali.
"Termasuk kami sedang menunggu sebetulnya apakah nanti aparat hukum akan turun atau enggak, kita belum tahu. Yang pasti kita akan memastikan bahwa tempat 88 Seoul itu mengikuti kaidah-kaidah keamanan dan kebersihan makanan," ungkapnya.
Farhan lantas membeberkan hasil temuan Dinkes di Restoran 88 Seoul. Berdasarkan laporan yang ia terima, alur dapur sudah sesuai standar karena memisahkan pintu masuk dan pintu keluar.
"Jadi tidak ada risiko di mana makanan bekas bercampur dengan makanan baru. Tapi area pencucian alat makan perlu diperhatikan, karena terdapat risiko kontaminasi terhadap bahan makanan dari sabun cuci dan peralatan cucian," ucapnya.
Kemudian, temuan selanjutnya yaitu area penyimpanan bahan makanan beku belum memberlakukan pengaturan first in first out secara jelas. Selanjutnya penyimpanan makanan dingin perlu dilengkapi dengan alat pengukur, serta penyimpanan minyak jelantah tidak dalam kondisi tertutup.
"Nah, proses pengolahan makan para penjamah makanan tidak menggunakan masker,itu menjadi risiko gitu. Terus belum disediakan bank sampel makanan, packaging kemasan belum dilengkapi dengan keterangan expired time, general cleaning bagus, tempat sampah bagus menggunakan pedal kaki," ujarnya.
Pihak Restoran Harus Bertanggung Jawab
Setelah hasil penelusuran ini, investigasi bakal dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kasus baru. Pendataan dengan rumah sakit juga bakal dilakukan untuk mengetahui identitas pasien, termasuk hasil diagnosa dokternya.
Farhan pun mendorong agar pihak restoran 88 Seoul bertanggung jawab atas kasus keracunan ini. Dari sana, nantinya akan disusun analisa untuk menyimpulkan kasus keracunan tersebut.
"Harus tanggung jawab dong. Kalau saya bilang saya keracunan makan di restoran A karena kata si dokter B, maka sayanya mesti diidentifikasi, termasuk restorannya dan dokternya yang memberikan diagnosis. Kemudian akan disusun analisis hipotesis kasus keracunan makanan," katanya.
"Kemudian, laporan perkembangan kasus akan dipimpin langsung oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung dengan pelaporan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa wisata kuliner di Kota Bandung aman dan terawasi dengan baik," pungkasnya.
Nasib Restoran
Farhan mengatakan, saat ini, pihaknya masih mendata berapa jumlah pengunjung yang keracunan. Meski di media sosial disebutkan jumlahnya mencapai 284 orang, namun penelusuran awal Dinkes hingga Selasa (6/10) menyebutkan baru 24 orang yang melaporkan aduan itu.
"Ya itu makanya perlu diverifikasi. Belum banyak, saya belum tahu persis. Tapi itu sedang diverifikasi. Betul enggak segitu," katanya di Hotel Grandia, Kota Bandung, Rabu (7/10/2026) petang.
Farhan sempat ditanya mengenai nasib restoran 88 Seoul ke depan setelah muncul kasus keracunan. Ia mengatakan, Pemkot Bandung perlu menyelidiki terlebih dahulu untuk memastikan kejadian tersebut.
"Itu sedang diselidiki terus kan. Karena gini, kalau memang ada pengaduan, kenapa masih ada yang datang ke sana? Karena kita pengin tahu nih, coba kita selidiki dulu apa yang membuat (keracunan), sehingga kita akan datangi terus setiap hari untuk memastikan apakah ada kasus baru atau tidak ada, " ungkapnya.
Kemudian, Farhan sempat ditanya langkah tegas Pemkot Bandung setelah kasus keracunan ini. Ia membuka peluang supaya restoran itu harus ditutup sebelum beroperasi sesuai standar.
"Ya bisa aja, tergantung dari temuan akhir. Pada akhirnya kan sekarang lagi menunggu disimpulkan," katanya.
"Karena gini, kita ambil sampel makanan, itu segala macam kan dites di lab untuk mengetahui sesuatu teh terkontaminasi atau enggak. Jadi dia butuh waktu, itu emang rada lama, punten pisan. Tapi kalau memang manajemennya memutuskan untuk 'Udah kita tutup aja daripada disorot terus', ya itu mah keputusan manajemen," pungkasnya.
(ral/orb)
