Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soekardjo Kota Tasikmalaya tengah memutar otak menghadapi lonjakan tajam kunjungan pasien akibat infeksi virus dalam dua bulan terakhir.
Tingginya angka rawat inap ini membuat ketersediaan tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di rumah sakit plat merah tersebut kian terbatas.
Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr Soekardjo, Titie Purwaningsari mengungkapkan sepanjang September saja pihak rumah sakit mencatat sekitar 182 kasus infeksi virus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, pihaknya tidak dapat memastikan apakah lonjakan ini disebabkan oleh varian Influenza A yang belakangan ramai diperbincangkan.
"Di tempat kami memang ada kenaikan kasus infeksi virus, namun tidak terdeteksi spesifik sebagai Influenza A. Catatan kami ada sekitar 182 kasus di bulan September, yang membuat ketersediaan bed kami sangat cepat terisi penuh," ujar Titie, Rabu (7/10/2026).
Dia mengatakan saat ini tingkat hunian berada di angka lebih dari 80 persen.
"Kita hari ini tingkat hunian di atas 80 persen dan sekarang pasien anak-anak penuh lagi, tapi kita belum tahu jenis virusnya. Kita lagi pantau di IGD banyak anak. Dua minggu kemarin dewasa naik, sekarang di awal Oktober pasien anak yang naik," papar Titie.
Titie juga menjelaskan perputaran keterisian ruang perawatan sangat cepat. Misalnya terjadi di pasien anak yang belum mendapatkan tempat perawatan dititipkan dulu di ruang perawatan dewasa, setelah ada yang kosong baru dipindahkan.
"Bangsal anak sampai kita titip dulu, ketika kosong langsung masuk, jadi perputaran keterisian ruangan cepat," kaya Titie.
Dia menjelaskan di rumah sakit ini total ada 249 tempat perawatan, namun tingkat keterisiannya sangat cepat.
Kondisi penuh juga terjadi di ruang perawatan intensif. Bahkan untuk ruang ICU anak keterisian lebih dari 90 persen.
"Yang agak kosong ICU dewasa 50 persen, ICU anak terisi 90 persen," kata Titie.
Mayoritas anak yang dirawat merasakan gejala demam tinggi yang diduga akibat adanya infeksi virus.
"Gejala awal panas, rata-rata pasien anak yang datang," kata Titie.
Terkait upaya antisipasi yang akan dilakukan RSUD dr Soekardjo terkait kondisi ini, Titie menjelaskan pihaknya masih melakukan pemantauan. Dia membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk memastikan lonjakan ini hanya terjadi sementara atau berkepanjangan. Jika berkepanjangan akan dilakukan penambahan tempat tidur.
"Kita tunggu dulu sampai tiga bulan ini, apakah hanya fenomena cuaca, tapi kalau terus meningkat kita sesuaikan juga penambahannya," kata Titie.
(yum/yum)
