Shani Shingnapur, sebuah kota kecil di distrik Ahmednagar, Maharashtra, India, terus mempertahankan tradisi unik yang menantang logika keamanan modern. Di wilayah seluas satu kilometer persegi ini, rumah-rumah penduduk berdiri tegak tanpa satu pun daun pintu yang terpasang.
Fenomena ini bukan hanya berlaku pada hunian warga. Fasilitas publik seperti hotel, kantor polisi, hingga bank di kawasan tersebut juga menerapkan konsep serupa. Meski bingkai pintu tersedia, tidak ada kayu atau besi yang menutup akses masuk ke dalam bangunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir detikProperti, keamanan warga di kota ini tidak bersandar pada gembok atau kunci, melainkan pada keyakinan spiritual yang mendalam terhadap Dewa Shani. Masyarakat setempat percaya bahwa sang dewa senantiasa melindungi mereka dari segala bentuk tindak kriminal.
Kepercayaan ini berdampak langsung pada roda ekonomi lokal. Di Shani Shingnapur, gembok dan kunci menjadi barang langka yang tidak akan ditemukan di toko mana pun. Untuk menjaga privasi, warga hanya menggunakan tirai tipis, sementara lembaran kayu lapis terkadang dipasang di bagian bawah bingkai pintu hanya untuk menghalau hewan liar.
"Selama beberapa generasi, desa kami telah mengikuti tradisi menyamakan para tamu dengan Tuhan. Untuk berbagi makanan dengan para tamu, kita tidak perlu kaya secara finansial, melainkan memiliki kehangatan hati," ujar salah satu penduduk, Geetabai Suresh Mahale, seperti dilansir dari BBC.
Dyaneshwar Kudalkar, pengelola rumah tamu di kuil setempat, menegaskan bahwa siapa pun yang berniat jahat diyakini akan menerima ganjaran langsung dari Dewa Shani.
"Ketika kita terlindungi hingga tingkat ini, kita tidak perlu khawatir tentang membuat pengaturan eksternal untuk keselamatan. Ada beberapa kasus di mana orang memasang pintu atau kunci di rumah mereka dan mengalami kecelakaan, kerugian bisnis, atau nasib buruk," tuturnya.
Akar tradisi ini bermula dari legenda abad ke-17. Konon, para gembala menemukan monolit hitam misterius yang mengapung di sungai setelah banjir. Saat batu tersebut ditusuk, darah segar dilaporkan mengalir keluar.
Malam harinya, seorang gembala bermimpi bertemu Dewa Shani yang menyatakan bahwa batu tersebut adalah perwujudannya. Sang Dewa menolak dibangunkan kuil beratap karena merasa seluruh langit adalah atapnya. Ia kemudian berjanji akan menjaga desa tersebut dari pencurian, asalkan warga melakukan pemujaan rutin.
Hingga saat ini, janji tersebut menjadi fondasi kehidupan masyarakat Shani Shingnapur. Bagi mereka, ketiadaan pintu bukan sekadar ciri khas arsitektur, melainkan simbol kepasrahan dan kepercayaan mutlak yang diwariskan lintas generasi.
Artikel ini sudah tayang di detikProperti
