Seekor kucing berjalan di sudut kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin biasa. Kucing kampus yang mondar-mandir, mencari makan, berdiam di bawah bangunan, atau sesekali mendekati mahasiswa.
Namun, bagi sekelompok mahasiswa Liga Film Mahasiswa (LFM) ITB, keberadaan kucing-kucing itu justru membuka pintu menuju sebuah cerita.
Dari pemandangan sederhana tersebut lahirlah film "Meong!", karya tim Ophiuchus Project yang kemudian meraih Most Inspiring Film Award dalam NextScene Kids & Youth Film Festival 2026. Film itu menjadi salah satu karya yang mendapat penghargaan dari 54 film yang berasal dari 14 negara.
Tidak ada cerita besar di balik pembuatan film ini. "Meong!" mengambil potongan kehidupan yang dekat dengan keseharian mahasiswa, tugas akhir, kesepian, dan kehadiran kucing yang tanpa banyak tingkah justru menjadi teman dalam perjalanan tersebut.
Ide film itu bermula dari keinginan Vincentius Bhagaskara dan rekannya, Dudih Purwadi, untuk kembali membuat film setelah menggarap "Cecilia" pada awal 2025. Keduanya ingin membuat karya dengan pendekatan yang tetap eksploratif dan sedikit eksperimental, meski tidak menjadikannya pada cerita utama.
Sampai kemudian muncul pertanyaan sederhana di antara mereka, bagaimana jika pemeran film bukan manusia, melainkan seekor kucing yang kerap beraktivitas di lingkungan kampus?
"Akhirnya waktu itu kepikirannya coba kali ya kita aktornya gimana kalau bukan manusia. Dan akhirnya kepikirannya kucing, karena yang paling deket sama kami sebagai mahasiswa kan kucing ITB," ucap Bhagas saat berbincang dengan detikJabar, Kamis (1/10/2026).
Dari situlah Meong lahir. Bhagas bersama Fransiska Fernanda yang bertindak sebagai penulis sekaligus sutradara, kemudian mengembangkan cerita tentang seorang mahasiswa tingkat akhir bernama Naila.
Naila adalah mahasiswa perantauan yang sedang menghadapi tekanan tugas akhir. Jauh dari keluarga, dengan lingkar pertemanan yang tidak banyak, perjalanan menyelesaikan skripsi terasa semakin berat.
Di tengah situasi itu hadir Siti, kucing yang memerankan Meong. Ia tidak memberikan solusi atas persoalan skripsi, tidak membantu menyusun penelitian, tidak pula memberikan jawaban ketika Naila mengalami kebuntuan. Siti hanya hadir. Namun, justru kehadiran sederhana itulah yang menjadi inti cerita film "Meong!" ini.
"Sebenarnya yang ingin disampaikan itu adalah kadang di dalam kehidupan kita ada hal-hal kecil yang bagi sebagian orang ternyata tidak penting atau ya diabaikan. Tapi untuk sebagian orang lainnya ternyata hal-hal kecil ini tuh bisa sangat bermakna buat kehidupannya," kata Bhagas.
"Kalau dalam film kami, Naila, si mahasiswinya ini ternyata mendapatkan pengalaman yang bermakna dengan kehadiran Meong, si kucing yang menemani dia selama perjalanan tingkat akhirnya," lanjutnya.
Untuk memperkuat cerita, tim tidak hanya mengandalkan pengalaman mereka sendiri. Mereka juga melakukan brainstorming bersama komunitas peduli kucing ITB Street Feeding. Dari sana, mereka mencoba memahami berbagai pengalaman orang-orang yang sehari-hari berinteraksi dengan kucing kampus.
"Kami sempat brainstorming juga dengan salah satu komunitas namanya ITB Street Feeding. Kami coba mengeksplorasi kira-kira ada hal-hal apa yang biasanya mereka dapatkan. Makanya kenapa kami coba bikin lebih relate dengan kami, yang waktu itu mau jadi mahasiswa tingkat akhir," ungkapnya.
Menariknya, film tersebut justru ditulis dan diproduksi ketika Bhagas dan Fransiska belum benar-benar berada di fase mahasiswa tingkat akhir. Keduanya baru beberapa minggu lalu menyelesaikan sidang skripsi.
Pengalaman itu membuat mereka melihat kembali cerita yang sudah dibuat dari sudut pandang berbeda. Apa yang sebelumnya hanya dibangun melalui riset dan cerita teman, ternyata tetap terasa relevan ketika mereka sendiri menjalani fase tersebut.
"Dan kami sendiri merasa sebagai penulis ternyata puji masih bisa cukup relate ya melalui riset kami yang ketika menulis bukan sebagai orang yang mengalami. Kami banyak membaca cerita teman-teman mahasiswa tingkat akhir, tapi ternyata ketika kami menjadi mahasiswa itu sendiri masih cukup relevan filmnya," jelas Bhagas.
Namun, membuat film dengan kucing sebagai pemeran utama tentu bukan perkara mudah. Jika aktor manusia dapat membaca naskah, menerima arahan, dan mengulang adegan ketika terjadi kesalahan, Siti, memiliki cara sendiri dalam bekerja.
Sebelum menemukan Siti, tim bahkan harus melakukan casting terhadap hampir 40 kucing yang berkeliaran di lingkungan ITB. Proses itu berlangsung selama satu hari penuh. Hingga akhirnya, mereka menemukan Siti yang biasa beraktivitas di sekitar Gedung Labtek VII ITB.
"Kita melakukan casting hampir ke 40 kucing di ITB selama satu hari penuh. Kita melihat dari sisi apakah si kucing ini jinak, apakah kucing ini bisa disentuh dan bisa diarahkan. Dan dari semua hasil itu ternyata si Siti ini yang paling bisa diajak kerja sama. Bonusnya ya Siti-nya good looking, kucingnya cantik," kata Fransiska.
Siti kemudian menjadi pusat dari ide kreatif mereka. Fransiska memilih pendekatan mokumenter untuk menerjemahkan sudut pandang kucing ke dalam film. Gerakan, ekspresi, dan cara Siti melihat lingkungan diterjemahkan menjadi bagian dari penceritaan.
"Sebenarnya kalau bagaimana kita menerjemahkannya, kita tuh pakai pendekatan mokumenter. Jadi kita pakai gimana cara supaya perasaan maupun hal yang ingin disampaikan kucingnya itu bisa diubah ke dalam bentuk wawancara. Sama kita lebih ke arah gerakan-gerakan kucingnya untuk kita nge-translate ke dalam filmnya," tuturnya.
Tim juga memiliki kru yang merangkap sebagai cat whisperer. Tugasnya memberikan umpan agar Siti bergerak ke arah tertentu, maju, atau tetap berada di satu tempat. Tetapi, ada batas yang tidak bisa dipaksakan. Ketika Siti mulai kehilangan mood atau tidak mau makan, proses syuting dihentikan.
"Ada satu kondisi atau kejadian ketika dia itu kayak udah nggak mood terus kayak udah nggak mau makan. Jadi kita coba arahin ke suatu titik, dia udah tidak mau bergerak. Kita menganggapnya berarti dia butuh istirahat. Biasanya kita break dulu beberapa saat sampai ketika dia udah mood lagi baru kita melanjutkan proses syuting," ucapnya.
(iqk/iqk)