Kabupaten Karawang

Cerita Aipda Syarief dan Jurus Ampuhnya Bikin Pelanggar Lalin Jera

Irvan Maulana - detikJabar
Minggu, 27 Sep 2026 21:30 WIB
Aksi Aipda Syarief edukasi pengendara di Karawang (Foto: istimewa)
Karawang -

Di balik seragam cokelat dan rompi hijau neon yang ia kenakan, Aipda Syarif Hidayat memiliki cara tersendiri untuk meruntuhkan sekat kaku antara aparat dan masyarakat.

Anggota Unit Kamsel Satlantas Polresta Karawang yang lebih populer dengan sapaan Polisi Arif Karawang ini, memilih menanggalkan kesan galak. Alih-alih langsung menyodorkan buku tilang, ia justru menggunakan 'enjata'yang jauh lebih ampuh yaitu tutur kata santun dalam bahasa Sunda yang terasa akrab di telinga warga lokal.

Langkah ini bukan sekadar gaya-gayaan. Sejak tahun 2023, Arif mulai merambah dunia digital, menjadikan media sosial sebagai panggung edukasi yang menghubungkan dunia maya dengan realitas di lapangan.

"Inisiatif ini lahir dari instruksi Kapolres Karawang waktu itu pada tahun 2023, beliau menargetkan lahirnya sosok polisi percontohan nasional yang mampu beradaptasi dengan ekosistem digital," kata Arif saat ditemui detikJabar, di Mapolresta Karawang, Minggu (27/9/2026).

Pendekatan humanis ini sebenarnya lahir dari refleksi personal. Jauh sebelum mengenakan seragam Korps Bhayangkara, Arif pernah berada di posisi masyarakat biasa yang terkena tilang. Pengalaman pahit itu menyadarkannya bahwa tindakan represif yang berulang sering kali tidak efektif mengubah perilaku pengendara.

"Saya masih ingat sebelum jadi polisi pernah ditilang, sampai sekarang masih membekas, kesal dan memang saya salah, tapi waktu itu tidak berpikir untuk berubah. Oleh karenanya saya mengedepankan teguran lisan sekarang," kata dia.

Kegelisahan itu makin nyata saat ia sudah menjadi polisi. Ia melihat sendiri bagaimana penindakan hukum secara kaku terkadang menemui jalan buntu dalam mengubah kebiasaan warga. Arif pun memilih jalan lain yang lebih menyentuh sisi kemanusiaan.

"Saya pernah menilang satu orang yang sama di bulan yang sama sampai tiga kali, ternyata dengan penindakan penilangan tidak berubah. Oleh karena itu, saya berpikir, kalau diajak ngobrol dengan humor mungkin orang akan lebih menghargai, dan dengan mengedepankan tindakan humanis ini Alhamdulillah orang yang sama tidak melakukan kesalahan yang sama," terang Arif.

Strategi ini rupanya membuahkan hasil yang luar biasa. Tiga platform media sosial yang dikelolanya kini telah menjaring lebih dari 600 ribu pengikut. Konten-konten edukasinya tidak hanya ditonton jutaan kali, tetapi juga mendapat apresiasi positif dari 90 persen audiensnya.

Kedekatan emosional ini bahkan merambah hingga ke urusan pribadi warga. Tak jarang, saking percayanya masyarakat kepada Arif, ia sering diundang untuk menjadi saksi pernikahan, sebuah bentuk penghormatan yang melampaui tugas formalnya sebagai polisi.

Meski mengedepankan sisi humanis, Arif tidak lantas abai pada aturan. Profesionalisme tetap menjadi kompas utamanya. Bagi para pelanggar yang membandel atau tidak kooperatif, penegakan hukum tetap menjadi jalan terakhir yang harus diambil.

"Kalau pelanggar yang dilakukan berulang, atau bahkan tidak kooperatif tetap harus diberikan tindakan hukum. Di sisi lain, saya memanfaatkan media sosial sebagai ruang ekspresi dan edukasi secara real di lapangan," ungkapnya.



Simak Video "Berendam Nikmat di Kolam Air Panas ala Jepang di Hotel di Karawang"


(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork