Enam Jam Tanpa Layar yang Bikin Anak-anak Larut di Atas Lintasan

Rifat Alhamidi - detikJabar
Minggu, 27 Sep 2026 16:02 WIB
Aktivitas latihan klub sepatu roda Balance Inline Skate Academy di GOR Saparua, Kota Bandung (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

Enam jam bukan waktu yang sebentar untuk anak-anak yang terbiasa bersentuhan dengan layar telepon genggam. Namun di sebuah lintasan sepatu roda di GOR Saparua, Kota Bandung, waktu sepanjang itu justru dilewati dengan cara berbeda.

Sejak sepatu roda terpasang di kaki, perhatian mereka berpindah dari layar ke lintasan. Mereka meluncur, berputar, mengejar kecepatan dan mengikuti setiap instruksi yang pelatih berikan.

Di momen ini, ada yang datang sekadar ingin bisa bermain, ada pula yang mulai mengejar kemampuan lebih jauh. Mereka menjalani latihan demi latihan, dari mengasah teknik, menjaga keseimbangan hingga meningkatkan daya tahan tubuh.

Aktivitas itu berlangsung berjam-jam. Keringat mengucur, napas mulai terengah, tetapi roda tetap berputar. Di antara latihan dan canda sesama teman, layar ponsel seolah mendapat tempat paling belakang.

Pemandangan seperti itu menjadi bagian dari rutinitas latihan Balance Inline Skate Academy. Klub yang kini dihuni sekitar 100 member itu ternyata punya cerita panjang sejak pertama kali dirintis pada 2008 silam.

detikJabar berkesempatan untuk berbincang dengan pendiri Balance Inline Skate Academy, Detje Ahmad Nursyansi. Dalam obrolannya itu, ia tak pernah membayangkan sepatu roda yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai aktivitas untuk bersenang-senang itu bakal berkembang sejauh ini.

"Main sepatu roda itu badan sehat, terus bawaannya happy. Terus yang ketiga network teman-teman itu jadi lebih banyak, selebihnya mah nanti bonus juga," katanya, Minggu (27/9/2026).

Detje sendiri bukan orang asing dalam dunia sepatu roda. Dia mantan atlet Jawa Barat yang pernah mentas di Pekan Olahraga Nasional (PON) 1985 dan peraih master pada 1989.

Klub sepatu roda ini pun ia dirikan dengan cita-cita yang sederhana. Berawal dari 8 orang, Detje menginginkan supaya anak-anak di tahun itu bisa mengenal sepatu roda dan menyukai tantangannya.

"Saya menggagas itu karena di seluruh Indonesia, cabor sepatu roda hampir mati suri di tahun 2000-an. Itu enggak ada yang main sepatu roda, enggak ada teman yang mau diajak main. Beli sepatu roda di toko olahraga juga enggak ada, saya harus pesan ke luar negeri," ungkapnya.

"Justru setelah SEA Games 2010 itulah, toko-toko mulai mejual kembali sepatu roda. Masyarakat juga mulai main lagi, sampai akhirnya booming seperti sekarang," tambahnya.

Aktivitas latihan klub sepatu roda Balance Inline Skate Academy di GOR Saparua, Kota Bandung Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar

Saat merintis, Detje dan kawan-kawannya mengandalkan area Balai Kota Bandung sebagai tempat latihan. Ia juga belum memiliki ambisi yang besar supaya klub sepatu rodanya itu berprestasi di tingkat nasional.

Namun seiring berjalannya waktu, nama Balance Inline Skate Academy akhirnya punya panggung prestasi yang menjanjikan. Satu per satu anak didik Detje berhasil naik podium di panggung kejuaraan nasional.

Kini, sekitar 100 member bergabung di Balance Inline Skate Academy. Untuk menjaga proses pembinaan tetap bertahap, Detje bersama timnya menyusun kurikulum yang terbagi ke dalam enam kelas dengan metode latihan yang berbeda-beda sesuai kemampuan anak.

Pembagian tersebut membuat setiap anak tidak serta-merta diarahkan menjadi atlet. Mereka terlebih dahulu melewati tahapan fundamental, kemudian berkembang ke latihan teknik, fisik, daya tahan hingga strategi dan simulasi nomor perlombaan.

Bagi Detje, kemampuan setiap anak berbeda sehingga proses latihannya pun tidak bisa disamaratakan. Anak yang baru belajar akan mendapatkan porsi latihan berbeda dengan mereka yang sudah siap diarahkan ke kompetisi.

"Jadi pas dia lomba dia paham. Enggak semerta-merta jaraknya lima kilometer dia kebut duluan. Nanti di terakhir-terakhir. Dia punya strategi dari setiap orang," tuturnya.

Dari pola pembinaan tersebut, sejumlah anak didik Balance Inline Skate Academy mulai menunjukkan kemampuan di level nasional. Enam di antaranya bahkan telah meraih predikat MVP atau pemain terbaik dalam kompetisi yang mereka ikuti.

Tahun ini, Balance juga berhasil meloloskan tiga anak untuk mengikuti ajang kompetisi yang menjadi bagian dari jenjang pembinaan mereka. Detje memilih tetap berjalan perlahan dan membangun kemampuan anak satu per satu.

"Harapannya di usia-usia muda ini kita bisa terus membina secara bertahap. Kita juga enggak mau instan," pungkasnya.



Simak Video "Video: Perubahan APBD Jawa Barat 2026: Uang Rakyat untuk Apa?"

(ral/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork