Sudut-sudut beton yang diwarnai suara gesekan papan serta dentuman roda yang menghantam lantai menjadi latar musik sehari-hari di skatepark. Bagi sebagian anak muda di Bandung, olahraga ekstrem ini tidak lagi dipandang sebagai aksi pamer keberanian, melainkan sebuah cara untuk menghargai progres di era yang serba instan.
Skatepark menjadi tempat di mana kegagalan diterima dengan lapang dada dan keberhasilan sekecil apa pun dirayakan dengan teriakan penyemangat dari sesama pegiat yang memahami betapa sulitnya menjaga keseimbangan di atas papan.
Baca juga: Passion Jadi Profesi ala Gen Z di Bandung |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satunya Sendy, seorang Gen Z yang menjadi pegiat skateboard sejak 2018. Ia jujur mengakui bahwa awalnya ia terjebak dalam fenomena poser, istilah bagi mereka yang membawa papan skate hanya untuk terlihat keren di tongkrongan tanpa benar-benar bisa memainkannya.
"Awal mulai nge-skate itu lihat ada satu tongkrongan main skate semua, aku lihatnya keren gitu. Pada saat itu aku posisinya kayak, ya sudah yang penting pegang skate itu kelihatan keren. Kalau istilahnya tuh poser-lah, dulu awalnya sempat poser" ujarnya saat ditemui detikJabar baru-baru ini.
Ketertarikan Sendy dalam dunia skateboarding tumbuh sejak masa SMA di Garut, namun baru benar-benar tersalurkan saat ia berkuliah di Bandung. Ia mulai serius berlatih di tengah sepinya jalanan Dago saat pandemi COVID-19, memanfaatkan trotoar yang kosong akibat kebijakan karantina kala itu.
Berbeda dengan Sendy, Rohman atau yang kerap disapa Omen, justru terjun ke dunia skateboarding pada akhir 2024 karena alasan yang lebih personal. Di tengah kosongnya kegiatan, ia diajak Sendy untuk mulai bermain skate. Memasuki awal tahun 2025, ia mulai intens berlatih dan memberanikan diri melakukan trik-trik berbahaya karena adanya dorongan emosional.
"Mulai memberanikan diri melakukan trik-trik yang ekstrem, memberanikan diri drop in, itu karena patah hati" ungkap Omen.
Baginya, rasa sakit hati bertransformasi menjadi keberanian untuk menaklukkan rasa takut di atas papan. Dalam dunia skate, terdapat berbagai aliran. Sendy dan Omen lebih memilih jalur transisi, sebuah gaya bermain yang memanfaatkan body movement atau pumping pada rintangan seperti bowl (kolam beton) dan mini ramp. Mereka menyebutnya sebagai sensasi berselancar di atas ombak beton.
Namun, yang membuat mereka betah bukanlah sekadar adrenalin saat melakukan backflip atau carving di dinding kolam. Ada budaya unik di komunitas ini yang jarang ditemukan di tempat lain, yakni penghargaan tinggi terhadap progres sekecil apa pun.
"Anak-anak skate itu, trik kecil aja atau baru maju sedikit, yang ngajarin itu kayak 'wooo!'. Karena sesulit itu" jelas Omen.
Sendy pun mengungkapkan bahwa orang-orang yang bergabung dalam permainan skateboard sangat ramah. Hal itu terbukti dari pengalamannya saat mencoba bermain di beberapa kota.
"Anak-anak skater itu ternyata ga mandang umur, mandang duit, ataupun kelas sosial. Setelah aku coba main di Bandung, terus coba ke Bogor, Bekasi dan Jakarta, ternyata mereka semua humble" tutur Sendy.
Sifat rendah hati ini bukan sekadar keramahan antar pemain, melainkan menjadi sebuah budaya untuk merangkul siapa saja, termasuk mereka yang baru pertama kali menyentuh papan. "Kalau kalian berani nanya dan humble buat diajarin, mereka pasti ngajarin. Enggak usah malu ketika kalian pemula dan triknya masih itu-itu aja, mereka enggak bakal nge-judge karena mereka juga sebelumnya kayak gitu" tambahnya.
Baca juga: Mala Bowl yang Bikin Lidah Gen Z Nyaman |
Meski ada ajang besar seperti Go Skateboarding Day yang rutin dirayakan tiap tahun, baik Sendy maupun Omen tidak merasa harus menjadi atlet kompetitif. Bagi mereka, skateboarding adalah kegiatan mencari keringat dengan have fun yang dapat disandingkan dengan mencari relasi.
"Skate itu bukan kompetisi atau ajang untuk unjuk gigi. Dia lebih ke 'ya udah aku dapat trik, good for me', mencari kepuasan diri sendiri aja" tegas Omen.
(iqk/iqk)
