Putra ingat betul bagaimana gempa bumi berkekuatan M 4.2 mengguncang Garut pada bulan Desember 2024 silam. Meskipun tak sampai meluluhlantakkan rumah orang tuanya, gempa bumi tersebut menjadi tanda tanya besar di benak Putra mengenai semengerikan apa Sesar Garsela.
Sabtu pagi, 7 Desember 2024, yang cerah saat itu, suasana perkampungan yang tenang berubah mencekam kala guncangan gempa bumi menghujam Putra dan keluarga yang bermukim di Kecamatan Pasirwangi.
Setelah berupaya bertahan dari guncangan yang berlangsung beberapa detik tersebut, naluri Gen Z lelaki kelahiran tahun 2001 ini kemudian timbul. Dia langsung membuka Twitter (X) dan melihat akun resmi milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk melihat informasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya saya pikir itu gempa bumi dari laut, seperti biasanya. Tapi ternyata setelah lihat informasinya kaget juga," kata Putra kepada detikJabar, belum lama ini.
Putra terkejut bukan tanpa alasan. Sebab, setelah ditelaah lebih jauh, informasi yang disebar BMKG menunjukkan bahwa gempa itu berasal tepat dari tanah yang dipijaknya, dengan titik koordinat 7,24° Lintang Selatan, 107,72° Bujur Timur dan pada kedalaman 5 kilometer.
Bom Waktu di Kebun Sayur Indah Pinggiran Garut
Sebenarnya, ini bukan gempa darat pertama yang dialami oleh Putra dan keluarga. Sebab, Putra juga berada di lokasi saat gempa M 4.3 terjadi pada 1 Februari 2023, dan gempa M 5.0 terjadi pada 18 September 2024.
"Tapi kan dari situ muncul kabar Sesar Garsela... Sesar Garsela. Itu memang cukup membuat kami khawatir," katanya.
Kekhawatiran mengenai Sesar Garsela bagi masyarakat di Kecamatan Pasirwangi bukan tanpa alasan. Sebab, lebih dari itu, Pasirwangi adalah satu dari tiga kecamatan yang menanggung dampak paling parah setiap kali gempa yang berasal dari daratan itu terjadi, selain Kecamatan Samarang dan Kecamatan Bayongbong.
Pada gempa yang terjadi 1 Februari 2023, pemerintah mencatat 367 rumah rusak ringan, 111 rumah rusak sedang, dan 17 rumah rusak berat, dengan 8 fasilitas pendidikan juga ikut terdampak.
Sedangkan di kejadian gempa bumi tanggal 7 Desember 2024, gempa bumi berkekuatan M 4.2 itu merusak seratusan rumah, dengan rincian 110 rumah berkategori rusak sangat ringan, 31 rusak ringan, dan 9 rumah rusak sedang.
Pasirwangi adalah daratan yang dihuni masyarakat tertinggi di Garut, dengan ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kecamatan dengan luas 4.670 hektare ini menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 67.975 orang, yang mayoritas penduduk dewasanya berprofesi sebagai petani dan buruh tani.
Salah satunya adalah Mang Iya, petani berumur 58 tahun asal Desa Barusari. Sama dengan masyarakat lainnya, Mang Iya juga menyimpan pertanyaan besar mengenai Sesar Garsela.
"Saya tidak paham. Tapi intinya, kalau kekuatan yang kecil saja bisa merusak, gimana jadinya kalau kekuatan yang besar datang," ungkap Mang Iya.
Teror dari Bawah Tanah yang Mengintai
Di balik kedamaian lanskap pedesaan ini, dokumen Kajian Risiko Bencana Jawa Barat menyimpan angka yang mencengangkan. Yakni, Kabupaten Garut menanggung potensi kerugian fisik akibat gempa bumi yang paling tinggi di Jawa Barat. Nilainya mencapai Rp 39,7 triliun.
Angka triliunan rupiah itu bukan milik para konglomerat atau pemilik gedung pencakar langit. Dari 2,75 juta warga Garut yang terpapar bahaya gempa bumi, sebanyak 66 persen atau 1,82 juta jiwa di antaranya adalah penduduk berkategori miskin.
Di antara mereka adalah para buruh tani asal Pasirwangi yang membangun rumah secara swadaya, menyusun bata demi bata tanpa struktur kolom beton bertulang karena keterbatasan biaya.
Ketika gempa darat dangkal bermagnitudo kecil menghantam Pasirwangi, Samarang, dan Bayongbong, Garut, seperti M 4.3 pada Februari 2023 dan M 4.2 di Desember 2024, retakan langsung menganga lebar di dinding dapur mereka.
Gempa bumi dari Sesar Garsela ini tidak perlu berukuran raksasa untuk menghancurkan harapan keluarga miskin di Garut. Guncangan berskala rendah hingga sedang saja sudah cukup untuk meluruhkan dinding bata yang berdiri tanpa pengikat baja.
Tak Berdaya Menunggu Bencana
Atas semua yang menjadi ancaman dari Sesar Garsela, sebenarnya tidak ada langkah konkret, khususnya dari pemerintah, terkait upaya mitigasi bencana. Terlebih, gempa bumi terjadi di luar prediksi.
"Untuk gempa itu di luar kuasa kita. Murni karena alam. Kita hanya bisa melakukan pencegahan dan meminimalisir dampak, dengan edukasi, untuk penyelamatan," ungkap Kepala Pelaksana BPBD Garut, Aah Anwar Saefulloh.
Aah mengungkapkan, saat ini pihaknya masih rutin melaksanakan edukasi perihal bencana, salah satunya gempa bumi, ke tengah-tengah masyarakat. Rumah yang tahan gempa juga menjadi salah satu materi edukasi, kata Aah.
Meskipun saat ini pelaksanaannya sulit diterapkan oleh masyarakat miskin karena keterbatasan biaya yang mereka alami. "Jadi edukasi bagaimana menyelamatkan diri, supaya tidak menjadi korban bencana. Kalau edukasi tentang masalah bangunan dan gedung, ya harus tahan gempa," katanya.
(iqk/iqk)
