Jumat malam (25/9/2026) di Kota Bandung terasa berbeda. Suara bising mesin dan knalpot yang biasanya merajai jalanan, malam itu harus bersaing dengan nyaringnya ratusan dering bel sepeda. Lautan manusia dari berbagai usia turun ke jalan dengan satu kesamaan, mereka mengayuh pedal. Di tengah sorot lampu jalanan kota, semangat para pesepeda ini tampak menggebu-gebu, seolah merayakan kebebasan yang jarang mereka dapatkan di hari-hari biasa.
Namun, di sisi lain, bunyi klakson dari mobil dan sepeda motor yang merasa perjalanannya terhambat terus bersahutan. Kemacetan panjang tak terhindarkan di sejumlah ruas jalan utama.
Pemandangan ini bukanlah sebuah acara lomba atau karnaval yang disponsori pemerintah. Ini adalah Critical Mass, sebuah gerakan organik para pengguna sepeda yang rutin berkumpul setiap Jumat malam di akhir bulan. Di tengah dominasi kendaraan bermotor, mereka hadir memadati jalan raya untuk sekadar mengingatkan satu hal krusial, pesepeda adalah bagian sah dari lalu lintas yang berhak atas keamanan dan ruang di jalan raya kota.
Lautan Sepeda di Tengah Klakson Kendaraan
Pergerakan pesepeda ini terpantau memadati sejumlah urat nadi lalu lintas Kota Bandung. Mulai dari Jalan Ir. H. Djuanda (Dago), Merdeka, Diponegoro, hingga ke kawasan Cimalaya, ruas jalan didominasi oleh rombongan kendaraan tanpa emisi tersebut.
Bagi sebagian pengguna kendaraan bermotor, rombongan besar ini mungkin dianggap sebagai gangguan. Kritik kerap bermunculan, mulai dari tudingan memicu kemacetan, kurang tertib, hingga tak memakai helm. Namun, bagi warga pejalan kaki yang kebetulan melintas, fenomena ini justru menjadi tontonan unik yang menyegarkan.
Andri (47), seorang pejalan kaki yang malam itu tengah berada di trotoar, mengaku baru pertama kali melihat pergerakan masif pesepeda di malam hari. Bukannya merasa terganggu, ia justru melihat sisi positif dari keramaian tersebut.
"Wah, meriah. Ya enggak apa-apa, sekali-sekali. Sekali-sekali lah... kayak konvoi Persib," ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Andri yang dulunya penggemar acara sepeda santai, gerakan yang mempromosikan jalanan bebas polusi ini sama sekali tidak menjadi masalah. Menurutnya, hal ini bisa menjadi pengingat bagi warga bahwa sepeda juga merupakan bagian dari transportasi kota.
Protes Sunyi Tanpa Panitia
Secara historis, Critical Mass bukanlah fenomena baru. Gerakan ini lahir di San Francisco, Amerika Serikat, pada tahun 1992. Fokus utamanya sejak awal adalah menantang dominasi kendaraan bermotor yang telah lama mengakar kuat di area perkotaan.
Satu hal yang membuat gerakan ini unik adalah sifatnya yang sepenuhnya organik. Tidak ada struktur panitia, tidak ada pemimpin formal, dan tidak ada pendaftaran. Pesepeda berkumpul begitu saja, mengayuh bersama, dan menentukan rute secara spontan.
Hal ini ditegaskan oleh Argus (47), Ketua Koalisi Mobilitas Ramah Lingkungan Berkelanjutan sekaligus pengurus Bike to Work (B2W) Bandung. Ia menolak keras jika Critical Mass (CM) dilabeli sebagai sebuah "acara" atau event.
"CM Bandung sangat organik dan independen. Pernah beberapa brand mau sponsori CM Bandung, dan setelah saya berikan literasi yang terukur, mereka paham. CM Bandung bukan acara, bukan event yang diselenggarakan oleh siapa-siapa," tegas Argus.
Sebagai pengurus B2W, kehadiran Argus dan rekan-rekannya di lapangan bukanlah sebagai penyelenggara. Mereka berpartisipasi layaknya pesepeda biasa, sembari mengambil peran mengadvokasi jika terjadi konflik di jalan raya. Argus melihat CM lebih sebagai sebuah kampanye budaya bersepeda yang dilindungi oleh UU Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017.
(mso/mso)