Kabupaten Cianjur menjadi salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi, salah satunya becnaa gempa bumi. Apalagi daerah berjuluk Kota Santri itu dikepung sejumlah sesar aktif, bahkan juga dalam bayangan ancaman sesar purba yang belum terdeteksi.
Berdasarkan data yang dihimpun detikJabar dari BMKG dan Badan Geologi, Cianjur dilintasi jalur Sesar Cimandiri yang membentang dari Sukabumi hingga beberapa kecamatan di Cianjur.
Selain itu ada juga Sesar Nyalindung Cibeber, Sesar Cikondang, dan Sesar Cisokan yang diduga merupakan sebaran patahan dari Sesar Cimandiri.
Bahkan terdapat juga Sesar Rajamandala yang berada di perbatasan Cianjur-Bandung Barat.
Terbaru, Sesar Cugenang juga menjadi salah satu sesar yang mengguncang Cianjur, membuat ratusan ribu keluarga kehilangan rumah serta ratusan orang tewas.
Tak hanya itu, ancaman paling besar datang dari laut selatan Cianjur. Zona subduksi megathrust di wilayah selatan Jawa Barat berpotensi menyebabkan gempa berkekuatan besar, dimana bentangan lempengannya juga melintasi Cianjur.
Penyelidik Bumi Utama Badan Geologi Supartoyo mengatakan di Cianjur terdapat sumber gempa dari zona penunjaman, yakni megathrust dan intraslab.
"Dari zona penunjaman ini ada yang dari kedalaman di atas 50 kilometer dan kurang dari 50 meter di bawah tanah. Ini jadi dua ancaman Cianjur," kata dia, Kamis (24/9/2026).
Menurut dia, Cianjur juga dikelilingi sejumlah sesar aktif di darat. "Utamanya sesar aktif ini yakni Sesar Cugenang dan Sesar Cimandiri. Untuk beberapa sesar lain yang kini sudah terpetakan, mayoritas masih bagian dari Sesar Cimandiri," kata dia.
Dia mengatakan beberapa sesar aktif yang sudah terpetakan tersebut sebagian besar sudah menunjukan catatan adanya aktivitas kegempaan.
"Baik Sesar Cikondang, Rajamandala, dan beberapa rsar lainnya ada catatan keaktifan. Bahkan terbaru kan Sesar Cugenang pada 2022 dan Sesar Cisokan pada awal September 2026 lalu. Untuk sesar lainnya ada potensi aktivitas, tapi kapannya tidak ada yang bisa memastikan," kata dia.
Namun, dia mengungkapkan jika selain sesar aktif yang sudah terpetakan dan tercatat tersebut, diduga masih ada jalur Sesar lain di Cianjur.
"Apakah di Cianjur ada sesar purba yang belum terpetakan? Kemungkinannya tentu ada. Bahkan di tahun 1834 itu terjadi gempa yang terasa di Cianjur-Bogor, merusak bangunan pemerintahan di Puncak. Tapi belum diketahui apakah itu akibat aktivitas Sesar Cugenang atau ada sesar lain yang aktif," kata dia.
Pemerhati Gempa dan Tsunami Daryono, mengatakan ada beberapa sesar lain yang juga berpotensi berdampak ke Cianjur, yakni Sesar Cirata, Sesar Padalarang Bagian Badar, hingga Sesar Lembang.
Menurut dia, dari banyaknya sesar tersebut saat ini yang tercatat paling berdampak kalah Sesar Cugenang.
"Sesar yang terbukti sangat berbahaya secara lokal ialah Sesar Cugenang karena dangkal dan melintas pemukiman. Tapi Sesar Cisokan juga perlu mendapatkan perhatian, karena lebih panjang dan beberapa segmennya memiliki potensi magnitudo lebih besar," kata dia.
Dia menuturkan, Sesar Cugenang juga menjadi pelajaran jika belum semua sesar aktif terpetakan. Sesar dapat tertutup endapan vulkanik muda, tanah pelapukan, vetegasi, dan pemukiman sehingga ekspresi permukaannya samar.
"Karena itu perlu pemetaan detail menggunakan geologi, geomofologi, LiDAR, Geofisika, seismisitas mikro, hingga paseoseismologi untuk studi terbaru yang akan menunjukan kompleksitas struktur aktif di kawasan Cianjur," kata dia.
Dia menambahkan, gempa bumi juga memiliki siklus aktif berulang. Cianjur yang memiliki banyak sesar aktif berpotensi menyebabkan gempa dalam siklus tertentu.
"Tidak ada waktu pasti dan tidak ada prediksi yang tepat terkait siklus tersebut. Dan dalam siklus tersebut tidak hanya berpatokan pada satu sesar, tapi beberapa sesar secara bergantian," kata dia.
"Pesan adanya siklus itu harus jadi pengingat agar mitigasi gempa bisa lebih maksimal," ucap dia menambahkan.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Konstruksi BPBD Cianjur Nurzen, mengatakan dengan banyaknya sesar aktif di Cianjur dan ancaman sesar purba yang belum terpetakan, masyarakat Cianjur diminta untuk tetap waspada.
Menurut dia, terpenting saat ini ialah memperkokoh struktur bangunan agar tahan guncangan hingga skala tertentu.
"Fokus kami saat ini bagaimana kesiapsiagaan terbangun. Mulai dari jalur evakuasi disiapkan dan edukasi ditingkatkan. Selain itu, kami harap juga warga Cianjur mulai sadar membangun hunian dengan standar tahan gempa, demi keselamatan bersama," pungkasnya.
(sud/sud)