Mengintip Ancaman Sesar Aktif dan Potensi Erupsi di Cianjur

Mengintip Ancaman Sesar Aktif dan Potensi Erupsi di Cianjur

Ikbal Slamet - detikJabar
Kamis, 24 Sep 2026 15:00 WIB
Retakan tanah muncul akibat gempa di jalur sesar Cugenang, Cianjur
Retakan tanah muncul akibat gempa di jalur sesar Cugenang, Cianjur. (Foto: Ikbal Selamet/detikJabar)
Cianjur -

Kabupaten Cianjur menjadi salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi, salah satunya becnaa gempa bumi. Apalagi daerah berjuluk Kota Santri itu dikepung sejumlah sesar aktif, bahkan juga dalam bayangan ancaman sesar purba yang belum terdeteksi.

Berdasarkan data yang dihimpun detikJabar dari BMKG dan Badan Geologi, Cianjur dilintasi jalur Sesar Cimandiri yang membentang dari Sukabumi hingga beberapa kecamatan di Cianjur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu ada juga Sesar Nyalindung Cibeber, Sesar Cikondang, dan Sesar Cisokan yang diduga merupakan sebaran patahan dari Sesar Cimandiri.

Bahkan terdapat juga Sesar Rajamandala yang berada di perbatasan Cianjur-Bandung Barat.

ADVERTISEMENT

Terbaru, Sesar Cugenang juga menjadi salah satu sesar yang mengguncang Cianjur, membuat ratusan ribu keluarga kehilangan rumah serta ratusan orang tewas.

Tak hanya itu, ancaman paling besar datang dari laut selatan Cianjur. Zona subduksi megathrust di wilayah selatan Jawa Barat berpotensi menyebabkan gempa berkekuatan besar, dimana bentangan lempengannya juga melintasi Cianjur.

Penyelidik Bumi Utama Badan Geologi Supartoyo mengatakan di Cianjur terdapat sumber gempa dari zona penunjaman, yakni megathrust dan intraslab.

"Dari zona penunjaman ini ada yang dari kedalaman di atas 50 kilometer dan kurang dari 50 meter di bawah tanah. Ini jadi dua ancaman Cianjur," kata dia, Kamis (24/9/2026).

Menurut dia, Cianjur juga dikelilingi sejumlah sesar aktif di darat. "Utamanya sesar aktif ini yakni Sesar Cugenang dan Sesar Cimandiri. Untuk beberapa sesar lain yang kini sudah terpetakan, mayoritas masih bagian dari Sesar Cimandiri," kata dia.

Dia mengatakan beberapa sesar aktif yang sudah terpetakan tersebut sebagian besar sudah menunjukan catatan adanya aktivitas kegempaan.

"Baik Sesar Cikondang, Rajamandala, dan beberapa rsar lainnya ada catatan keaktifan. Bahkan terbaru kan Sesar Cugenang pada 2022 dan Sesar Cisokan pada awal September 2026 lalu. Untuk sesar lainnya ada potensi aktivitas, tapi kapannya tidak ada yang bisa memastikan," kata dia.

Namun, dia mengungkapkan jika selain sesar aktif yang sudah terpetakan dan tercatat tersebut, diduga masih ada jalur Sesar lain di Cianjur.

"Apakah di Cianjur ada sesar purba yang belum terpetakan? Kemungkinannya tentu ada. Bahkan di tahun 1834 itu terjadi gempa yang terasa di Cianjur-Bogor, merusak bangunan pemerintahan di Puncak. Tapi belum diketahui apakah itu akibat aktivitas Sesar Cugenang atau ada sesar lain yang aktif," kata dia.

Pemerhati Gempa dan Tsunami Daryono, mengatakan ada beberapa sesar lain yang juga berpotensi berdampak ke Cianjur, yakni Sesar Cirata, Sesar Padalarang Bagian Badar, hingga Sesar Lembang.

Menurut dia, dari banyaknya sesar tersebut saat ini yang tercatat paling berdampak kalah Sesar Cugenang.

"Sesar yang terbukti sangat berbahaya secara lokal ialah Sesar Cugenang karena dangkal dan melintas pemukiman. Tapi Sesar Cisokan juga perlu mendapatkan perhatian, karena lebih panjang dan beberapa segmennya memiliki potensi magnitudo lebih besar," kata dia.

Dia menuturkan, Sesar Cugenang juga menjadi pelajaran jika belum semua sesar aktif terpetakan. Sesar dapat tertutup endapan vulkanik muda, tanah pelapukan, vetegasi, dan pemukiman sehingga ekspresi permukaannya samar.

"Karena itu perlu pemetaan detail menggunakan geologi, geomofologi, LiDAR, Geofisika, seismisitas mikro, hingga paseoseismologi untuk studi terbaru yang akan menunjukan kompleksitas struktur aktif di kawasan Cianjur," kata dia.

Dia menambahkan, gempa bumi juga memiliki siklus aktif berulang. Cianjur yang memiliki banyak sesar aktif berpotensi menyebabkan gempa dalam siklus tertentu.

Sesar Cugenang disebut menjadi penyebab gempa di Cianjur, Jawa Barat, 21 November 2022. Hal tersebut disampaikan oleh pihak BMKG.Sesar Cugenang disebut menjadi penyebab gempa di Cianjur, Jawa Barat, 21 November 2022. Hal tersebut disampaikan oleh pihak BMKG. Foto: Situs BMKG

"Tidak ada waktu pasti dan tidak ada prediksi yang tepat terkait siklus tersebut. Dan dalam siklus tersebut tidak hanya berpatokan pada satu sesar, tapi beberapa sesar secara bergantian," kata dia.

"Pesan adanya siklus itu harus jadi pengingat agar mitigasi gempa bisa lebih maksimal," ucap dia menambahkan.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Konstruksi BPBD Cianjur Nurzen, mengatakan dengan banyaknya sesar aktif di Cianjur dan ancaman sesar purba yang belum terpetakan, masyarakat Cianjur diminta untuk tetap waspada.

Menurut dia, terpenting saat ini ialah memperkokoh struktur bangunan agar tahan guncangan hingga skala tertentu.

"Fokus kami saat ini bagaimana kesiapsiagaan terbangun. Mulai dari jalur evakuasi disiapkan dan edukasi ditingkatkan. Selain itu, kami harap juga warga Cianjur mulai sadar membangun hunian dengan standar tahan gempa, demi keselamatan bersama," pungkasnya.

Waspada Gempa Vulkanik dan Erupsi Gunung Gede

Kabupaten Cianjur tidak hanya dibayang-bayangi ancaman aktivitas sesar aktif, tetapi juga potensi gempa vulkanik hingga erupsi Gunung Gede Pangrango.

Dikutip dari berbagai sumber, letusan pertama Gunung Gede tercatat terjadi pada 1747. Gunung ini meletus kembali pada tahun 1761, 1789, dan 1832.

Bahkan Keresidenan Priangan dipindah dari Cianjur ke Bandung oleh Residen Van der Moor usai Gunung Gede meletus pada 1864.

Gunung Gede pun terakhir aktif dan mengalami erupsi pada 1957.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Konstruksi BPBD Cianjur Nurzen, mengatakan berdasarkan penelitian dan kajian, diduga ada siklus 70 tahun erupsi Gunung Gede.

"Siklus ini memang tidak pasti. Bisa lebih awal atau mungkin tidak terjadi dalam periode tersebut. Jika mengacu pada siklus tersebut, potensi erupsi terjadi di 2027. Tapi sekali lagi itu tidak pasti," kata dia.

Tangkapan layer kepulan asap dari salah satu kawah aktif Gunung Gede PangrangoTangkapan layer kepulan asap dari salah satu kawah aktif Gunung Gede Pangrango Foto: Istimewa/tangkapan layar video viral

Menurut dia, wilayah paling terdampak jika Gunung Gede erupsi ialah Kecamatan Cipanas, Pacet, Cugenang, Gekbrong dan Sukaresmi.

"Tentu ada 5 kecamatan yang memang berada tepat di bawah kaki gunung gede yang akan terdampak paling parah. Tidak hanya terkait erupsinya tapi juga akibat gempa vulkaniknya," kata dia

Dia mengatakan, sejak tahun lalu, BPBD Cianjur sudah melakukan mitigasi, menyiapkan jalur evakuasi, dan edukasi terhadap warga.

"Jadi ini bukan menakut-nakuti, tetapi mempersiapkan diri. Kalaupun tidak terjadi, kita sudah siap untuk segala bencana," kata dia.

Pemerhati Gempa dan Tsunami Daryono, mengatakan Gunung Gede memang gunung api aktif sehingga gempa vulkanik dan erupsi merupakan bagian dari potensi bahayanya.

"Tetapi istilah siklus 70 tahunan tidak boleh diartikan bahwa Gunung Gede akan segera meletus karena sudah waktunya. Gunung api tidak mempunyai jadwal erupsi yang tetap. Potensi erupsi jangka dekat harus dinilai dari data monitoring aktual, seperti kegempaan vulkanik, deformasi, gas, suhu dan perubahan aktivitas kawah. Jadi kesiapsiagaan BPBD sangat baik, tetapi waktu erupsi tidak dapat ditentukan hanya dari jarak waktu sejak erupsi sebelumnya," kata dia.

Dia menambahkan, secara fisika, perubahan tegangan akibat aktivitas magma atau gempa dapat memodifikasi tegangan pada sesar di sekitarnya, terutama jika sesar tersebut sudah berada dekat kondisi kritis.

"Tetapi gempa vulkanik biasa umumnya kecil dan tidak otomatis memicu Sesar Cugenang atau Cimandiri menghasilkan gempa besar," kata dia.

Penyelidik Bumi Utama Badan Geologi Supartoyo, mengatakan gempa vulkanik dan erupsi Gunung Gede bisa kapan saja tersejadi, sebab tidak ada yang dapat memprediksi hal tersebut.

Tetapi, jika erupsi terjadi, sesar aktif di sekitaran kaki Gunung Gede tidak ada terpicu untuk aktif.

"Biasanya malah gempa tektonik yang memicu aktivitas vulkanik, tidak sebaliknya," kata dia.

Halaman 2 dari 2
(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads