Kasus Influenza A Melonjak, IDAI Ingatkan Bahaya 'Super Flu'

Kabar Nasional

Kasus Influenza A Melonjak, IDAI Ingatkan Bahaya 'Super Flu'

Suci Risanti Rahmadania - detikJabar
Selasa, 22 Sep 2026 12:31 WIB
UK, Cornwall
Ilustrasi (Foto: Getty Images/Peter Cade).
Bandung -

Belakangan ini, kabar kurang enak datang dari dunia kesehatan kita. Kasus Influenza A terpantau kembali melonjak drastis di berbagai wilayah Indonesia. Kementerian Kesehatan RI bahkan sudah mengonfirmasi bahwa subtipe Influenza A H3N2 subclade K-yang lebih beken dengan sebutan 'Super Flu' telah terdeteksi di 13 provinsi.

Lonjakan pasien juga dilaporkan terjadi di Jawa Timur. Hal ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas influenza di zona Asia Tenggara menurut catatan WHO hingga minggu epidemiologi ke-35 di tahun 2026 ini.

Melihat situasi tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) langsung pasang alarm waspada. Pasalnya, anak-anak merupakan kelompok yang paling gampang tumbang dan berisiko tinggi mengalami komplikasi serius jika terinfeksi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Data global menunjukkan bahwa anak usia 0-17 tahun memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi influenza simtomatik dibandingkan orang dewasa. Sistem imun anak masih naif, sehingga tubuh mereka belum cukup kuat untuk segera mengendalikan dampak infeksi virus," ujar Dr dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, dalam keterangan resmi yang diterima detikcom, Selasa (22/9/2026).

Masalahnya bukan cuma soal daya tahan tubuh anak yang belum matang, tapi juga potensi mereka menularkan virus ke orang lain.

"Anak juga cenderung melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan lebih lama, sehingga berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan keluarga dan sekolah," lanjutnya.

Senada dengan hal itu, Prof Dr dr Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI, mengingatkan orang tua agar tidak menganggap enteng gejala yang muncul. Pada anak dengan kondisi tertentu, influenza bisa memicu komplikasi berat seperti pneumonia, asma yang kambuh parah, peradangan otot jantung (miokarditis), hingga gangguan otak (ensefalopati).

"Diagnosis laboratoris sangat penting, terutama dengan RT-PCR yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi serta mampu mengidentifikasi subtipe virus. Terapi antivirus neuraminidase inhibitor, seperti oseltamivir, efektif bila diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Namun, yang tidak kalah penting adalah pencegahan melalui vaksinasi tahunan dan penerapan protokol kesehatan," tegas Prof Anggraini.

Secara global, influenza memang jadi ancaman nyata dengan estimasi 1 miliar infeksi setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri, pemantauan menunjukkan tren yang fluktuatif. Setelah sempat mencapai puncak pada akhir 2025, kasusnya kembali meroket di pertengahan 2026.

Data IDAI menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan: sekitar 5 persen anak yang terinfeksi influenza harus menjalani rawat inap. Mayoritas dari mereka adalah balita di bawah usia 2 tahun, bahkan setengahnya masih berusia di bawah 6 bulan.

Anak-anak yang sering berada di tempat penitipan, memiliki gangguan tumbuh kembang, atau tinggal di lingkungan padat penduduk memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi. Prof Anggraini pun menekankan pentingnya isolasi mandiri bagi anak yang mulai menunjukkan gejala.

"Anak dapat menularkan virus influenza sejak 24 jam sebelum gejala muncul hingga 10 hari setelahnya. Oleh karena itu, anak yang sakit harus diisolasi di rumah, tidak boleh dibawa ke sekolah atau tempat bermain sampai benar-benar pulih. Etika batuk, cuci tangan rutin, rajin minum air putih untuk mengurangi dehidrasi, dan penggunaan masker tetap menjadi langkah pencegahan non-farmakologis yang sangat efektif," tambah Prof Anggraini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Heboh 'Super Flu', Ini Kata Kemenkes soal Efektivitas Vaksin Influenza "
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads