Jejak Embah Alimuddin: Sang Penakluk Batu dari Cihanjuang

Jejak Embah Alimuddin: Sang Penakluk Batu dari Cihanjuang

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Minggu, 20 Sep 2026 07:30 WIB
Seorang pemuda memanggul bibit pohon asem untuk ditanam di sekitar irigasi Kalimuddin
Seorang pemuda memanggul bibit pohon asem untuk ditanam di sekitar irigasi Kalimuddin (Foto: Dian Nugraha Ramdani/detikJabar)
Sumedang -

Jika anda berkunjung ke Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat di bawah Kampung Bojongkondang yang pernah terkubur longsor dan merenggut sekitar empat puluh nyawa, ada irigasi yang panjang menjadi pemisah antara sawah dan permukiman.

Irigasi kuno itu lebarnya beragam, tergantung liukannya. Namun rata-rata lebarnya itu bisa diloncati orang dewasa. Irigasi itu dinamai Susukan Kalimudin. Dalam bahasa Sunda, susukan berati sungai kecil atau selokan. Karena sejak awal selokan ini dimaksudkan sebagai jalur air untuk pengairan sawah, maka kita sebut irigasi.

Irigasi Kalimudin mengalirkan air dari kawasan Pakuluran di Desa Sindanggalih. Irigasi ini membentang jauh ke barat dan berakhir di sawah paling ujung di sekitar kawasan industri PT Dwipapuri Abadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orang-orang lokal menyebutnya Kalimudin, sebagai salah ucap dari nama orang yang menginisiasi pembuatannya, yakni Embah Alimuddin. Kocap tercerita, pembuatan irigasi ini dilakukan dengan mudah saja, meski jalur yang dilintasi penuh batu-batu besar. Embah Alimudin menghadapi batu laksana tahu. Empuk semata.

ADVERTISEMENT

Embah Alimuddin Jadi Simbol Air

Embah Alimuddin hidup sebelum tahun 1930-an. Ketika sebuah warta di koran Soeara Pasoendan yang terbit pada Selasa, 30 Oktober 1934 (Khastara, Perpusnas RI) mengabarkan peristiwa salat istisqa, atau salat meminta hujan, koran itu berkisah tentang proses awal sebelum salat dilaksanakan.

Yaitu, masyarakat di sekitar 'lebakeun Cicabe' (daerah bawah dari kampung Cicabe) yang secara jelas disebut Desa Bunter (kini menjadi Desa Cihanjuang, pasca-1980), sebelum melaksanakan istisqa terlebih dahulu berziarah ke makam Embah Alimuddin.

Mengapa demikian? Sebab, bagi masyarakat ketika itu, Embah Alimuddin merupakan simbol air, simbol kesuburan. Dialah yang membangun irigasi Kalimudin itu. Karenanya, ketika air di wilayah itu mengering, masyarakat ingat kepada sosok yang dahulu adalah 'pawang air'.

"Samemehna datang kana tegalan tea, toeloej djarah heula ka pakoeboeranana anoe ngabedah soesoekan anoe bisa ngadatangkeun tjai ka eta desa, anoe djenengan Embah Alimoeddin, dipenta berkahna soepadja boeroe-boeroe hasil anoe dimaksoed, sabab eta embah Alimoeddin teh loba kadigdjaanana," tulis koran Soeara Pasoendan.

(Sebelum datang ke tanah lapang (untuk Istisqa) itu, ziarah dulu ke pekuburan (orang, red) yang membelah irigasi yang bisa mendatangkan air ke desa itu, yang namanya Embah Alimudin, diminta berkahnya supaya cepat-cepat hasil apa yang dimaksud, sebab Embah Alimuddin itu banyak kedigjayaannya).

Menghadapi Batu Laksana Tahu

Kocap tercerita, bagi Embah Alimuddin batu-batu yang keras dalam pembuatan irigasi di Desa Bunter (sekarang Cihanjuang) itu keadaanya empuk semata. Kalau dikatakan empuk, laksana menghadapi tahu.

Perkara ini dikisahkan dalam artikel yang sama dalam Soeara Pasoendan. Koran itu menceritakan mengapa Embah Alimuddin disebut punya kedigjayaan? Di antaranya adalah kekuatannya dalam membangun irigasi sendirian.

"Nalika djoemengengna keneh eta Embah Alimoeddin teh geus ngadjak ka saderekna soepadja oerang sasarengan ngadamel soesoekan, namoeng koelantaran saderekna mah serangna laledok, henteu keresa diadjak, nja teras andjeunna bae njalira anoe ngadamel teh."

(Semasa hidupnya, Embah Alimuddin mengajak saudaranya supaya bareng-bareng membangun selokan untuk irigasi. Namun, karena sawah saudaranya itu sudah berair, dia tidak mau terlibat. Ya, Embah Alimuddin sendiri saja.)

"Dina enggoning andjeunna ngabedah pisoesoekaneun tea katjida lobana batoe anoe galalede, tapi andjeunna teu ambil poesing, batoe dikoekoej lir kana leutak bae, djadi batoe teh koe andjeunna mah bipoe lir boeboej hoei."

(Dalam pembuatan selokan itu, banyak sekali batu-batu besar. Tapi, Embah Alimuddin tidak ambil pusing. Batu diurai saja seperti mengurai tanah lumpur. Jadi, batu baginya sangat empuk seperti ubi bakar.)

Koran itu memberikan perumpamaan empuknya batu yang dihadapi Embah Alimuddin seperti 'bubuy hui' (ubi bakar). Kata 'bubuy' sejatinya cara memasak ubi dengan memasukkannya pada abu panas sisa pembakaran di tungku. Empuknya ubi bakar, tidak jauh seperti empuknya tahu.

Dia yang Punya Izin

Karena dia membuatnya sendirian, Allah SWT memberinya 'karomah' (kehormatan) bahwa siapapun yang mengambil air dari selokan itu, tiada air kan mengalir tanpa meminta izin dari Embah Alimuddin.

"Kitoe deui sanggeusna soesoekan geus djalan tjaina, oepama aja noe ngatjorkeun henteu idin andjeunna mah tara daekeun ngotjor," (Begitu juga setelah selokan jadi dan airnya mengalir, siapa saja yang mengalirkannya tanpa izin darinya, air tiada mau mengalir).

Isi Khotbah yang Membuat Rembes Air Mata

Dalam koran itu dikisahkan peristiwa salat istisqa lengkap dengan khotbah yang disampaikan Ajengan Mustapa. Dalam khotbah itu, pemuka agama tersebut mengajak semua orang untuk memikirkan ulang tentang doa-doa yang cepat dikabulkan.

"Oerang sadadjana pangna merloekeun datang ka ieu tempat nja eta deuk neneda (ngado'á) ka Goes ti noe Maha Soetji soepadja boeroe-boeroe dipasihan hoedjan, nja diboektikeun koe solat istiko. Ari saratna doea'a anoe gantjang diijabah teh koedoe anoe euweuh dosaan, ari ngabersihkeunan na dosa tea koedoe tobat heula, ari saratna tobat, hidji koedoe matja istigpar kadoea koedoe nalangsa hate kadoehoeng ngalakonan dosa, katiloe koedoe boga tekad djen moal deui-deui ngalakonan kana dosa. Koesabab kitoe hajoe ajeuna oerang sarerea maratja istigpar heula, tegesna oerang tobat tina roepa-roepa dosa."

(Kita semua datang ke tempat ini tiada lain untuk (berdoa) meminta kepada yang Mahasuci supaya cepat-cepat turun hujan, buktinya kita salat istisqa. Syarakt doa cepat dikabulkan itu harus yang tiada dosa. Membersihkan dosa itu harus dengan taubat. Taubat itu syaratnya, permata membaca istigfar, kedua merasa menyesal telah melakukan dosa, kedia harus punya tekad tidak mengulangi. Karena itu, mari kita semua membaca istigfar, tegasnya kita ytaubat dulu dari berbagai dosa.)

Setelah itu, salat yang diikuti 90 orang tersebut dimulai, dan dipimpin oleh Ajengan Mustapa. Setelah salat, semua jemaah membuka makanan yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Seolah-olah hajatan. Diceritakan, semua jamaah makan dengan lahap sebab mereka pergi dari rumah sejak pagi dan baru melahap makanan di tengah hari.

Halaman 2 dari 2
(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads