Berkawan Kail Pancingan Sambil Menanti Dagangan Berputar

Serba-serbi Warga

Berkawan Kail Pancingan Sambil Menanti Dagangan Berputar

Rifat Alhamidi - detikJabar
Minggu, 20 Sep 2026 10:00 WIB
Dede Sobat (49), pedagang asal Bandung yang memilih menghabiskan waktu sebelum berdagang dengan memancing ikan.
Dede Sobat (49), pedagang asal Bandung yang memilih menghabiskan waktu sebelum berdagang dengan memancing ikan. (Foto: Rifat Alhamidi/detikJabar)
Bandung -

Aliran irigasi di Jalan Moh Toha, Bandung, menjadi tempat bagi Dede Sobar (49) menghabiskan waktu sebelum mulai berjualan. Dengan kail di tangan dan mata sesekali fokus mengarah ke pelampung pancingan, ia setia menunggu ikan yang mungkin saja menyambar umpan.

Bagi Dede, memancing bukan sekadar mengisi waktu luang. Ada jeda yang harus dilewati sebelum kembali berhadapan dengan lapak dan dagangan yang menjadi tumpuan sehari-hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertemuan detikJabar dengan Dede pun berlangsung penuh keakraban di siang itu. Sembari berlindung di bawah pohon seri atau kersan untuk menghindari teriknya matahari, Dede menceritakan banyak hal dari mulai aktivitasnya berdagang hingga kondisi ekonomi yang sekarang penuh ketidakpastian.

Dalam obrolannya, Dede mengaku sudah cukup akrab dengan aktivitas memancing. Ketika belum waktunya berjualan, ia memilih menghabiskan waktu di tepian irigasi ketimbang berdiam diri tanpa kegiatan. Pancingan menjadi teman untuk membunuh waktu sekaligus memberi sedikit hiburan di sela rutinitasnya sebagai pedagang.

ADVERTISEMENT

"Ya gini weh, kang. Dari pada di kontrakan gogoleran, mending kayak gini sambil nunggu buka jualan," kata dia dalam obrolannya, Kamis (17/9/2026).

Ditemani sebatang rokok kretek, Dede hanya perlu duduk menunggu umpannya disambar ikan buruan. Menariknya, tak banyak peralatan yang dia bawa untuk memancing, hanya cukup joran bak pemancing profesional, lengkap dengan cacing untuk keperluan umpannya.

Ikan yang ia buru pun tak muluk-muluk. Kebanyakan berupa ikan sapu-sapu yang biasanya menyambar kail pancingnya.

Menariknya, ikan yang sudah diperoleh nantinya akan Dede bagikan untuk tetangganya. Sesekali dia bawa untuk keperluan makan di rumah, namun kebanyakan dibagi kepada orang lain.

Baginya, ada kenikmatan sendiri ketika menunggu pelampung bergerak. Sesaat, perhatian Dede bisa teralihkan dari urusan dagangan. Ia hanya perlu duduk, mengamati air, dan menunggu tarikan dari ujung pancing.

"Iseng-iseng berhadiah lah kang gini mah, hehe-hehe... Tapi palingan ya gitu, sekalian saya mah nunggu buka jualan nanti pas sore," ungkapnya.

Sehari-hari, Dede beraktivitas sebagai pedagang jersey di kawasan Taman Tegalega, Kota Bandung. Lapaknya biasa buka dari pukul 16.00 WIB hingga malam hari.

Di titik inilah cerita Dede tak lagi sekadar tentang seorang pedagang yang mengisi waktu dengan memancing. Ada perjalanan panjang dalam menjalani usaha yang membuatnya memahami bahwa mencari penghasilan tak selalu berjalan sesuai harapan.

Bagaimana tidak, Dede sudah merasakan pahit-manis perjuangan dari aktivitas jualan. Jika dulu ia selalu kebanjiran pesanan, namun sekarang pembeli tak selalu datang seperti yang diharapkan, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Ia pun harus pandai mengatur langkah agar dagangannya tetap bisa berputar.

"Serba susah sekarang mah. Dulu mah lumayan lah, sekarang mah sehari-hari dapet Rp 50 ribu juga udah lumayan, kang, buat muter modal lagi," ucapnya.

Di Bandung sendiri Dede sudah puluhan tahun merantau dari Garut. Namun, pengalaman hidupnya banyak ia habiskan di wilayah Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Saat itu, Dede menikah dengan wanita asal Labuan yang kini dikaruniai dua anak perempuan. Anak yang paling besar kini berusia 25 tahun dan bekerja jadi guru TK di Jakarta, sedangkan si bungsu berusia 23 tahun dan kini tinggal bersama ibunya di Labuan.

Namun, hubungan Dede dengan istri pertamanya harus pisah di tengah jalan. Ia lalu memutuskan pergi ke Bandung, dan akhirnya kini punya istri baru di perantauannya.

"Tapi Alhamdulillah komunikasi sama anak mah enggak pernah putus. Kalau ada rezeki, saya juga suka ngirim buat jajan mereka lah gitu, kang," tutur Dede.

Sayang, perbincangan dengan Dede harus berakhir saat itu juga. Sembari merapikan joran pancingannya, ia pun berpamitan karena sesegera mungkin perlu bersiap membuka lapak dagangannya.

Di antara riak air irigasi dan kesibukan untuk membuka lapak, Dede menjalani hari dengan cara yang sederhana. Satu tangannya memegang kail, tangan lainnya tetap harus menggenggam harapan agar dagangan hari itu bisa kembali menghasilkan.

"Yang penting mah sehat, ya, kang. Mudah-mudahan lancar terus rezekinya," kata Dede mengakhiri perbincangan bersama detikJabar.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads