Gerak tubuh seorang lelaki memutar sembari merentangkan kain merah menyala dan mengibas-ibasnya dengan cepat. Dua kali sang matador itu meliuk menghindari seekor banteng berbulu hitam. Upaya ketiga tak berjakan mulus. Matador tersungkur di arena berpasir setelah banteng jumbo melesat dan menanduk kaki kirinya.
Tayangan video vertikal berdurasi singkat menghiasi layar ponsel saat detikJabar menjelajah TikTok, Selasa (15/9/2026). Pemandangan dari tradisi Spanyol ini telah mengakar ratusan tahun dalam budaya populer. Publik meyakini satu dalil yang dianggap tak terbantahkan yakni warna merah memicu amarah banteng. Pepatah kuno bahkan menyamakan emosi manusia yang meledak-ledak dengan banteng yang melihat warna merah.
Namun, jika arena berpasir itu ditatap dari jendela sains visual, narasi klasik tersebut seketika runtuh. Ada fakta biologis yang selama ini luput dari pandangan awam, ternyata banteng sama sekali tidak membenci warna merah. Sebab secara anatomis, banteng tidak mampu melihat warna tersebut.
Ketika Retina Menolak Spektrum Merah
Guna membongkar ilusi ini, pintu masuk pertama adalah arsitektur mata banteng.
Sekadar diketahui, di dalam retina mata vertebrata, persepsi visual dibentuk oleh dua sel fotoreseptor. Sel batang yang membaca intensitas cahaya dan gerakan, serta sel kerucut yang menyaring gelombang cahaya menjadi spektrum warna.
Baca juga: Kumpulan Mitos dan Fakta Seputar Tokek |
Mata manusia memiliki penglihatan trikromat. Tiga varian fotopigmen kerucut yang masing-masing sensitif terhadap spektrum gelombang pendek (biru), gelombang menengah (hijau), dan gelombang panjang (merah). Perpaduan ketiganya memungkinkan otak manusia membedakan jutaan gradasi warna, dari merah cabai hingga hijau daun.
Banteng, sebaliknya, tergolong satwa dikromat. Banteng hanya memiliki dua jenis fotopigmen sel kerucut fungsional di retina.
Penelitian elektroretinografi yang dipimpin neurosaintis Gerald H. Jacobs di University of California Santa Barbara menjelaskan dua mekanisme sel kerucut. Pertama, Kerucut S (Short-wavelength), sel ini menyerap puncaknya pada rentang 444 hingga 455 nanometer (nm), yang menangkap spektrum biru keunguan. Kedua, Kerucut M/L (Medium-wavelength), sel ini menyerap puncaknya pada 552 hingga 555 nanometer (nm), yang memproses spektrum hijau kekuningan.
Retina banteng sama sekali tidak memiliki fotoreseptor opsin tipe L-tipe yang menyerap gelombang panjang di atas 620 hingga 700 nanometer, zona tempat warna merah berada. Secara medis, kondisi visual banteng serupa dengan bentuk buta warna merah-hijau pada manusia.
Bagi mata banteng, merah bukanlah warna yang berkobar. Tanpa fotoreseptor merah, panjang gelombang kain matador hanya merangsang sebagian kecil sel fotoreseptor hijau-kuning. Di mata sang banteng, kain merah menyala itu tampak redup, menyerupai abu-abu kusam atau cokelat pudar.
Bukan Memburu Warna, Melainkan Gerak
Jika warna merah luput dari palet visual banteng, apa yang membuat mereka menyerang dengan buas di dalam arena?
Jawabannya terungkap pada eksperimen yang dilakukan tim program sains populer MythBusters (Season 3, Episode 15: "Red Rag to a Bull") yang ditonton detikJabar, Selasa (15/9/2026). Para penguji menguji hipotesis warna versus gerak dengan menaruh tiga boneka mekanis di dalam ring bersama seekor banteng. Masing-masing boneka memegang bendera dengan warna berbeda: merah, putih, dan biru.
Hasilnya membalikkan mitos lama:
- Pada fase pertama, ketiga boneka dibiarkan berdiri mematung tanpa gerakan. Banteng yang dilepas ke arena menjelajah dengan tenang, mengendus sekeliling, dan sama sekali tidak menghiraukan boneka pembawa bendera merah.
- Pada fase kedua, bendera-bendera itu mulai dikibaskan. Banteng seketika bereaksi agresif. Menerjang ke arah bendera yang bergerak paling cepat dan tanpa memedulikan warnanya.
- Bahkan, ketika seorang penguji berpakaian merah berdiri diam, sementara rekannya berpakaian hitam berlari memutar, banteng langsung mengejar orang yang berlari. Banteng pun mengabaikan figur merah yang statis.
Eksperimen tersebut menegaskan pemicu serangan banteng adalah dinamika gerak dan provokasi kinetik, bukan warna kain. Banteng bereaksi terhadap benda yang dianggap mengancam zona aman mereka, bukan karena terbakar amarah oleh pigmen merah.
Menjelajah Lansekap Panoramik
Kepekaan banteng terhadap gerakan bukanlah kebetulan, melainkan hasil tempaan evolusi jutaan tahun sebagai satwa mangsa.
Pakar perilaku satwa ternak Dr. Temple Grandin menjelaskan cara satwa berkuku melihat lingkungannya. Mata sapi dan banteng terletak di samping kepala.
Posisi lateral ini menganugerahi banteng bidang pandang panoramik yang sangat lebar, mencapai 300 hingga 330 derajat. Rentang ini membuat banteng mampu memantau nyaris seluruh cakrawala di sekeliling tubuhnya tanpa menolehkan kepala. Menyisakan titik buta yang sangat sempit persis di belakang ekornya.
Retina hewan berkuku juga memiliki pita visual horizontal yang dipadati jutaan sel batang. Desain alami ini sangat efisien menangkap getaran bayangan dan gerakan sekecil apa pun. Ibarat sebuah alarm dini untuk mendeteksi kedatangan predator di padang terbuka.
Namun, keunggulan sudut lebar ini memiliki harga kompensasi. Otot akomodasi mata banteng relatif lemah, membuat kemampuan fokus pada objek jarak dekat menjadi buram. Kala sehelai kain tiba-tiba dikibaskan cepat, banteng tidak melihat detail kain tersebut.
Mata banteng menangkapnya sebagai gumpalan bayangan asing yang melanggar 'zona lari' mereka. Lantaran terkurung di dalam dinding arena dan tidak punya ruang untuk melarikan diri, naluri pertahanan banteng beralih dari mode menghindar menjadi menyerang.
Jejak Sejarah Francisco Romero
Jika banteng buta warna merah, mengapa tradisi matador Spanyol bersikeras mengibaskan kain merah menyala?
Jawabannya berakar pada pertunjukan manusia, bukan fisiologi hewan. Berdasarkan catatan sejarah pertarungan banteng, matador legendaris Francisco Romero dari kota Ronda memperkenalkan kain yang dinamai muleta pada awal abad ke-18. Romero adalah pelopor seni adu banteng dengan berjalan kaki dan menggunakan pedang di babak pamungkas.
Warna merah tua pada kain muleta dipilih atas alasan yang ditujukan bagi penonton manusia yang trikromat:
- Dramatisasi visual. Di mata penonton manusia, warna merah menyala menyuntikkan atmosfer ketegangan psikologis, bahaya, dan keberanian teatrikal ke udara stadion. Ini efektif untuk membuat pertunjukan terasa lebih intens.
- Kamuflase darah (interpretasi sejarawan). Bagian penutup tradisional Spanyol melibatkan penusukan pedang ke tubuh hewan. Warna merah tua berfungsi menyamarkan noda darah yang memercik agar tidak terlihat terlalu mengerikan bagi penonton. Poin ini masuk akal namun kurang terdokumentasi dengan eksplisit dalam catatan sejarah matador.
Warna merah dipilih untuk mata penonton manusia, bukan untuk respons banteng.
Membaca Ulang Ilusi
Melalui paduan bukti fisiologi, catatan sejarah, dan etologi satwa liar, tabir mitos warna merah akhirnya tersibak seutuhnya.
| Dimensi | Mitos Populer | Fakta Sains & Sejarah |
| Deteksi Warna | Banteng membenci warna merah | Banteng dikromat; tidak punya fotoreseptor merah (L-cone) dan melihat merah sebagai abu-abu kusam (Jacobs et al., 1998) |
| Pemicu Serangan Nyata | Panjang gelombang warna kain | Ayunan kinetik dan kibasan kain yang mengancam batas zona pertahanan (MythBusters, Season 3, Episode 15) |
| Fungsi Kain Merah | Senjata psikologis untuk menciptakan respons banteng | Estetika dramatis untuk penonton manusia; kemungkinan kamuflase noda darah (sejarah matador) |
| Adaptasi Penglihatan | Penglihatan terfokus tajam ke depan | Sudut pandang panoramik 300-330° berdensitas sel batang tinggi untuk mendeteksi gerakan predator |
Amarah banteng di arena adu bukanlah kemarahan terhadap sehelai kain merah. Itu adalah letupan naluriah dari seekor hewan mangsa yang terjebak di tengah lingkaran bising, membalas kibasan bayangan asing yang terus-menerus menantang insting pertahanannya.
Warna merah yang menyala tak pernah benar-benar ada di mata sang banteng, tapi hanya ada di benak manusia yang menyaksikannya.
Simak Video "Video Pramono: Ikan Sapu-sapu Dominasi Perairan Jakarta, Populasi Sudah 60%"
(bbp/bbp)