Tokek rumah bisa tumbuh hingga 40 sentimeter. Tubuhnya berwarna abu-abu kecokelatan dengan bintik oranye, merah, dan biru. Hewan ini tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk seluruh wilayah Indonesia dari Aceh hingga Papua.
Tokek berbeda dari cicak rumah yang berukuran kecil. Tokek jauh lebih besar, lebih agresif, dan lebih mudah dikenali dari warnanya. Hewan ini aktif pada malam hari dan memakan serangga serta invertebrata kecil.
Status konservasi tokek adalah Least Concern menurut IUCN (2019). Populasinya masih besar dan hewan ini mampu bertoleransi dengan habitat yang berubah. Namun, di beberapa daerah, penangkapan liar untuk perdagangan membuat populasi menurun secara lokal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut rangkumannya yang dihimpun detikJabar dari berbagai sumber, Kamis (10/9/2026).
Mitos 1: Suara Tokek Pertanda Nasib Baik atau Buruk
Tokek aktif pada malam hari dan memakan serangga serta invertebrata kecil. (Foto: Dennis Schmidt/Unsplash) |
Di Jawa dan Bali, bunyi tokek sering dihubungkan dengan ramalan. Jumlah bunyi katanya dipercaya bisa menunjukkan rezeki, jodoh, atau bahaya. Bunyi ganjil dianggap membawa berkah, sedangkan bunyi genap dianggap sebaliknya.
Tidak ada alasan ilmiah untuk memercayai hal tersebut. Suara tokek adalah panggilan kawin, bukan pesan supernatural.
Tokek jantan mengeluarkan bunyi keras seperti 'to-kay'. Smithsonian's National Zoo menjelaskan panggilan itu untuk menarik pasangan dan bisa terdengar hingga beberapa meter jauhnya. Tokek juga berseru saat mempertahankan wilayah atau diri sendiri.
Tokek hidup soliter dan aktif pada malam hari. Saat gelap, tokek menunggu mangsa sebelum menyerang. Makanannya meliputi ngengat, belalang, kecoak, rayap, jangkrik, nyamuk, dan laba-laba. Terkadang, tokek juga memangsa tikus, mencit, dan ular kecil.
Tokek sering berada di rumah manusia-di dinding, plafon, atau celah bangunan. Hal itu terjadi karena adanya tempat berlindung dan banyak serangga. Kehadirannya bukan pertanda apa pun.
Tafsir budaya tentang tokek memang memiliki tempat dalam tradisi masyarakat, tetapi hal itu tidak berkaitan dengan zoologi.
Mitos 2: Berbisa dan Lepas Gigitan Jika Dengar Petir
Tokek tidak beracun. Hewan ini tidak memiliki kelenjar racun seperti ular. Namun, gigitannya bisa melukai karena rahangnya kuat dan giginya tajam.
Tokek menggigit ketika merasa terancam. Semakin agresif korban bergerak, semakin kuat gigitannya.
Ada mitos lain yang menyebutkan bahwa tokek hanya akan melepas gigitan saat mendengar petir. Hal tersebut tidak benar.
Hellen Kurniati, pakar herpetofauna, mengatakan tokek melepas mulut jika merasa aman. "Itu hanya mitos (tokek dengan suara petir). Pengalaman saya, kita elus-elus bagian bawah kepala (tokek). Pelan-pelan dan nanti akan dibuka mulutnya. Cuma, kalau gerak terus, dia makin kuat punya gigitan. Jadi harus tenang. Dia merasa nyaman, baru dibuka mulutnya," ujar Hellen kepada detiknews.
Tokek tidak beracun. Hewan ini tidak memiliki kelenjar racun seperti ular. (Foto: Getty Images/iStockphoto/chonticha wat) |
Smithsonian's National Zoo mencatat gigitan tokek bisa mengeluarkan darah. Jika tokek sudah menggigit, jangan tarik tubuhnya dengan paksa karena cengkeramannya justru akan makin kuat. Biarkan tokek melepas gigitannya sendiri.
Jadi, 'tidak beracun' bukan berarti 'tidak bisa melukai'. Tokek yang merasa terjebak bisa mendesis, melarikan diri, atau menggigit. Menangkapnya dengan tangan kosong, memukulnya, atau memaksanya keluar bisa melukai kedua belah pihak.
Jika terluka akibat gigitan tokek, bersihkan luka dengan sabun dan air mengalir minimal 20 menit. Tenaga kesehatan perlu menilai kedalaman luka, tanda infeksi, dan kebutuhan vaksin tetanus.
Cari pertolongan medis jika luka dalam, perdarahan tidak berhenti, nyeri dan bengkak bertambah, ada kemerahan yang meluas, nanah, atau demam. Vaksinasi tetanus juga diperlukan jika status imunisasi tidak jelas.
Risiko kesehatan yang sebenarnya berasal dari bakteri Salmonella, bukan gigitan. CDC mencatat reptil, termasuk tokek, sering menjadi pembawa Salmonella di saluran cerna. Infeksi terjadi jika tangan terkontaminasi feses tokek, lalu menyentuh mulut, atau mengonsumsi daging tokek yang tidak dimasak sempurna. Anak di bawah lima tahun paling berisiko sakit parah akibat bakteri ini.
Mitos 3: Tokek Dapat Menyembuhkan Kanker
Beberapa penelitian menguji bahan dari tokek terhadap sel kanker. Hasil laboratorium bukan bukti bahwa mengonsumsi tokek bisa menyembuhkan kanker pada manusia.
Studi Liu dan rekan pada tahun 2008 menguji spesies Gekko japonicus, bukan Gekko gecko (tokek rumah). Mereka menggunakan sel kanker esofagus manusia dan mencit laboratorium. Hasilnya menunjukkan aktivitas antitumor dalam kondisi laboratorium.
Ini penting, temuan pada Gekko japonicus tidak berlaku otomatis pada tokek rumah. Selain itu, uji sel dan mencit bukan uji pada pasien manusia. Studi tersebut tidak membuktikan efektivitas, dosis aman, atau manfaat klinis.
Penelitian lain tahun 2024 menguji toksisitas akut ekstrak Gekko gecko pada 40 tikus. Mereka memberikan dosis 0, 500, 1000, atau 2000 miligram per kilogram berat badan dan mengamatinya selama 14 hari. Tidak ada kematian atau efek merugikan yang ditemukan.
Itu hanya uji toksisitas satu dosis pada tikus, bukan uji pengobatan kanker pada manusia, dan bukan bukti keamanan klinis tokek sebagai obat rumahan. Penderita kanker jangan mengganti obat dokter dengan tokek.
Mitos paling luas di Indonesia adalah kantung empedu, kulit, atau daging tokek memiliki khasiat obat. Di Tiongkok dan beberapa praktik herbal Asia Tenggara, tokek digunakan untuk asma, diabetes, penyakit kulit, bahkan AIDS. Di Jawa Barat dan Jawa Tengah, beberapa orang percaya asap kulit tokek bisa meredakan sesak napas.
WHO pernah membantah klaim mengenai tokek bisa menyembuhkan AIDS (TRAFFIC Southeast Asia, 2013). Tidak ada studi medis kredibel yang membuktikan tokek bisa menyembuhkan asma atau penyakit kronis lainnya. Dokter paru dan ahli farmakologi setuju bahwa efek yang dirasakan kemungkinan besar adalah plasebo, bukan terapi sungguhan.
Ada satu detail penting. Penelitian UGM tahun 2012 oleh Artina Prastowi menganalisis nutrisi daging tokek. Hasilnya: protein 21,42 persen, lemak 1,28 persen, air 72,63 persen, karbohidrat 3,22 persen, serat kasar 0,45 persen, dan abu 1,46 persen. Kandungan ini sama dengan daging hewan lain. Studi ini tidak mengklaim adanya sifat terapeutik istimewa.
Studi lain tentang ekstrak kulit beberapa spesies tokek menunjukkan potensi antibakteri dan antiinflamasi di laboratorium. Namun, uji in vitro tidak sama dengan efektivitas pada manusia. Perlu penelitian lebih lanjut sebelum klaim pengobatan bisa diterima secara klinis.
Fakta Lain Tentang Tokek Rumah
Tokek hidup soliter dan aktif pada malam hari. Saat gelap, tokek menunggu mangsa sebelum menyerang. (Foto: Yuni Ayu Amida/ detikcom) |
Tokek jantan dewasa berukuran sekitar 35-40 sentimeter, sedangkan betina 20-30 sentimeter. Tokek memiliki tubuh berbintik, pupil vertikal, dan struktur mikroskopis di jari untuk mencengkeram permukaan.
Tokek bisa melepas ekor sebagai mekanisme pertahanan. Ekor yang lepas masih bisa bergerak selama beberapa saat. Ekor yang tumbuh kembali biasanya tidak sepanjang aslinya. Tokek juga tidak berubah warna secara drastis seperti bunglon.
Tokek sebenarnya berguna karena mereka memakan gerombolan nyamuk, lalat, dan serangga pengganggu lainnya. Jika tokek masuk ke rumah, langkah yang bisa dilakukan adalah mengurangi gangguan, membuka jalan keluar, serta menjauhkan anak dan hewan peliharaan. Jangan memegang tokek untuk menguji apakah dia menggigit. Jika tokek berada di tempat yang sulit dijangkau, mintalah bantuan petugas atau penangkap satwa.
Sebagian besar mitos tokek di Indonesia tidak memiliki dasar ilmiah. Suara tokek adalah bentuk komunikasi kawin. Kehadirannya di rumah terkait dengan keberadaan serangga, bukan pertanda mistis. Klaim obat mujarab pun belum terbukti secara klinis pada manusia.
Risiko nyata lebih terkait dengan kebersihan dan bakteri Salmonella daripada racun atau kekuatan mistis. Tokek memiliki nilai ekologis sebagai pengendali hama. Status konservasinya diatur karena tingginya angka perdagangan.
Memahami hal ini membantu membedakan kepercayaan budaya dari fakta biologi tanpa harus merendahkan tradisi yang sudah lama ada.



