Matahari dan miliaran bintang tak henti memancarkan cahaya ke segala penjuru, namun jagat raya tetap tampak gelap gulita. Fenomena ini sering kali memicu tanya, jika alam semesta dipenuhi sumber cahaya, mengapa ruang angkasa tidak benderang secara merata?
Secara historis, sebagaimana dilansir dari detikInet, teka-teki ini dikenal sebagai Paradoks Olbers, merujuk pada astronom Jerman Heinrich Olbers. Ia mempertanyakan alasan di balik langit malam yang gelap jika diasumsikan jumlah bintang di alam semesta tidak terbatas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penjelasan ilmiah modern mengungkap bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan ekspansi alam semesta dan ketiadaan atmosfer di ruang hampa.
Para ilmuwan menemukan bahwa alam semesta terus mengembang dengan kecepatan tinggi. Akibatnya, galaksi-galaksi yang menjauh menyebabkan gelombang cahaya yang mereka pancarkan mengalami peregangan. Fenomena yang disebut pergeseran merah atau redshift ini mengubah cahaya tampak menjadi spektrum yang tidak bisa ditangkap mata manusia, seperti inframerah atau gelombang radio. Dengan kata lain, cahaya itu ada, namun indra penglihatan kita tidak mampu mendeteksinya.
Selain faktor skala kosmik, warna langit sangat bergantung pada keberadaan atmosfer. Di Bumi, molekul gas berinteraksi dengan cahaya Matahari dan menghamburkannya ke berbagai arah. Cahaya biru, yang memiliki panjang gelombang pendek, paling mudah dihamburkan oleh atmosfer. Proses inilah yang membuat langit Bumi tampak biru pada siang hari.
Kondisi ini kontras dengan ruang angkasa yang merupakan ruang hampa. Tanpa adanya medium atau partikel untuk menghamburkan cahaya, sinar Matahari akan bergerak lurus tanpa gangguan. Inilah alasan mengapa di luar atmosfer Bumi, langit tetap hitam pekat meskipun Matahari sedang bersinar dengan sangat terang.
Hal serupa dapat diamati pada benda langit yang tidak memiliki atmosfer, seperti Bulan dan Merkurius. Para astronaut dalam misi Apollo membuktikan bahwa langit di Bulan tetap berwarna hitam meski permukaan tempat mereka berdiri terpapar cahaya Matahari yang sangat kuat.
Baca juga: Misi Ambisius China Mencari Air di Bulan |
Sementara itu, Mars menyajikan pemandangan berbeda. Meski atmosfernya jauh lebih tipis dari Bumi, keberadaan debu yang beterbangan di sana masih cukup untuk menghamburkan cahaya, yang dalam kondisi tertentu membuat langit planet merah tersebut tampak kemerahan.
Kegelapan ruang angkasa bukanlah tanda ketiadaan cahaya. Luar angkasa tetap dipenuhi radiasi, namun ketiadaan atmosfer untuk menyebarkan cahaya serta pergeseran gelombang akibat perluasan alam semesta membuat ruang antarbintang tampak gelap bagi mata manusia.
Artikel ini sudah tayang di detikInet, selengkapnya di sini
