Gedung Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung menjadi saksi perdamaian antara Dani Nurdiana, seorang pengemudi ojek online, dengan M. Fasha Nurdiansyah, sopir blind van. Keduanya sepakat mengakhiri perselisihan yang sempat memicu kegaduhan di jalanan Kota Bandung.
Insiden ini bermula dari kesalahpahaman di Jalan Soekarno-Hatta pada Minggu (6/9/2026) sore. Dani yang tersulut emosi meneriaki Fasha sebagai pelaku tabrak lari, padahal saat itu belum terjadi kecelakaan apa pun.
"Saya atas nama Dani dengan ini mengucapkan minta maaf kepada semua pihak yang bersangkutan dan bikin kegaduhan atas kejadian pada hari Minggu tanggal 6 September pukul 17.50 WIB," kata Dani di Mapolrestabes Bandung, Selasa (8/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dani mengakui tindakannya dipicu amarah sesaat. "Dengan ini saya minta maaf sekali dan ke depannya untuk pihak-pihak yang suka ugal-ugalan di jalan, saya minta untuk jangan arogan. Saya ini awalnya tersulut emosi kata-kata, makanya meneriaki seperti itu," ujarnya. Ia juga menambahkan, "Sekali lagi saya minta maaf kepada saudari yang bersangkutan."
Fasha menerima permintaan maaf tersebut. Ia menjelaskan bahwa keputusannya memacu kendaraan hingga menabrak sejumlah pihak murni karena rasa takut setelah diteriaki massa.
"Saya panik karena diteriaki 'tabrak lari', yang awalnya tidak menabrak si yang bersangkutan ojol, karena saya panik jadi saya menabrak roda dua, roda empat, sama pejalan kaki," ungkap Fasha.
Meski sempat melarikan diri, Fasha menyatakan telah bertanggung jawab penuh atas kerusakan yang ditimbulkan. "Tapi saya sudah tanggung jawab kepada orang yang bersangkutan yang sudah saya tabrak secara kekeluargaan dan sudah berdamai secara baik-baik," tegasnya.
Kronologi kejadian bermula saat Fasha menegur pengendara motor yang memotong jalurnya di persimpangan lampu merah Jalan Soekarno-Hatta. Perselisihan berlanjut hingga ke Jalan Burangrang, di mana Dani kembali memotong jalan sambil meneriaki Fasha "tabrak lari".
Teriakan itu memicu massa untuk mengejar. Dalam kondisi terdesak, Fasha kehilangan kendali dan menabrak motor milik DN serta Honda Jazz di Jalan Burangrang. Ia terus tancap gas ke arah Jalan Banda hingga menghantam Honda Brio dari arah berlawanan. Pelariannya baru terhenti di Jalan Jawa, tepat di depan Mako Polrestabes Bandung, setelah kembali menabrak dua unit sepeda motor.
Kanit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung, AKP Fiekry, mengonfirmasi bahwa rentetan kecelakaan tersebut dipicu oleh provokasi teriakan "tabrak lari" yang tidak terbukti.
"Padahal tidak terjadi tabrak lari sehingga mengundang massa, keliling-keliling mobil dikejar oleh massa sampai betul terjadi tabrak mobil, tabrak motor hingga pejalan kaki, dan berakhir di Mako Polresta Jalan Jawa," jelas Fiekry.
Fiekry memastikan kasus yang melibatkan lima kendaraan dan satu pejalan kaki ini diselesaikan melalui jalur musyawarah. "Mobil 2, motornya 3, pejalan kakinya 1. Dan dengan semuanya sudah clear, alhamdulillah sudah kekeluargaan," tuturnya.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang saat berkendara. "Jadi pesannya mungkin satu, tetap jaga hati di jalan raya, siapapun itu, kapanpun itu, tetap kita seduluran semuanya di sini," pungkasnya.
(wip/dir)
