Sisi Mengerikan Ular yang Sudah Terpenggal

Sisi Mengerikan Ular yang Sudah Terpenggal

Tim detikJabar - detikJabar
Selasa, 08 Sep 2026 20:00 WIB
Ilustrasi Ular
Ilustrasi ular. (Foto: David Clode/Unsplash)
Bandung -

Bayangkan ada sepotong kepala ular tergeletak di tanah yang terpisah jauh dari tubuhnya, namun tiba-tiba rahangnya mengatup tajam saat didekati. Horor? Mungkin iya bagi sebagian orang.

Akan tetapi, bagi dunia sains, fenomena ini bukanlah sekadar dongeng menyeramkan, melainkan sebuah realitas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama ini, detikers mungkin sering mendengar selentingan mitos tentang reptil ini. Mulai dari ular yang gemar meminum susu, kebiasaan mereka berjalan berpasangan, hingga narasi dramatis tentang ular yang menuntut balas dendam kepada manusia yang membunuh pasangannya.

Namun, Museums Victoria menegaskan kisah-kisah tersebut hanyalah isapan jempol yang tidak terbukti secara ilmiah.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, ada satu "mitos" yang ternyata adalah fakta medis yang mengerikan, yaitu ular tetap bisa menggigit meski kepalanya sudah terpotong. Lantas, bagaimana penjelasan logis di balik fenomena ini?

Menyitir data dari National Geographic, ABC News, dan CBS News, kemampuan mengerikan ini berasal dari sistem saraf ular yang sangat tangguh. Ular memiliki refleks yang tetap aktif meski tubuhnya secara klinis sudah tidak bernyawa.

Hal ini terjadi karena sistem saraf otonom mereka tidak langsung mati saat jantung berhenti atau kepala terpisah. Fenomena ini serupa dengan ayam yang masih bisa berlari sesaat setelah dipenggal.

Tragedi nyata pernah mencatat kengerian ini. Di Texas, seorang pria harus berjuang melawan maut dan menerima dosis antivenom yang sangat besar setelah digigit oleh kepala ular yang sudah ia penggal sendiri.

Nasib lebih malang menimpa seorang wanita di Australia yang dilaporkan meninggal dunia. Penyebabnya sama, akibat gigitan dari kepala ular yang sudah terputus.

Penelitian lebih lanjut mengungkap racun pada beberapa jenis ular bersifat sangat stabil. Kekuatannya tidak lantas memudar begitu saja saat sang predator mati.

Bahkan, potensi bahaya itu tetap mengintai hingga beberapa waktu lamanya. Inilah alasan mengapa para ahli sangat mewanti-wanti agar kita tidak sembarangan menyentuh bangkai ular, terutama bagian kepalanya.

Yang Harus Dilakukan Jika Digigit Ular

Pertanyaan pentingnya, apa yang harus dilakukan jika situasi buruk terjadi dan seseorang terkena gigitan ular? RSUP Dr Kariadi memberikan panduan medis yang krusial untuk menyelamatkan nyawa.

Langkah pertama yang paling menentukan adalah menjaga ketenangan. Kepanikan hanya akan mempercepat detak jantung yang justru mendorong racun menyebar lebih cepat.

Sebisa mungkin, ingatlah ciri-ciri ular tersebut, mulai dari warna, ukuran, hingga polanya.Informasi ini akan menjadi kunci bagi tenaga medis untuk menentukan jenis antivenom yang tepat.

Selanjutnya, batasi pergerakan. Imobilisasi atau mendiamkan area yang digigit sangat penting untuk memperlambat laju bisa di dalam tubuh. Posisikan area luka lebih rendah dari letak jantung.

Hal ini bertujuan agar gravitasi tidak membantu racun mengalir lebih cepat ke pusat sistem peredaran darah, sekaligus meminimalisir pembengkakan hebat.

Luka gigitan sebaiknya ditutup dengan kain bersih yang kering. Hindari penggunaan kain basah atau kotor yang justru memicu infeksi sekunder. Jangan lupa untuk segera melepas aksesori seperti cincin atau jam tangan di sekitar area gigitan, sebab pembengkakan yang muncul nantinya bisa membuat benda-benda tersebut mencekik aliran darah.

Sembari melonggarkan pakaian untuk memberi ruang sirkulasi yang lebih baik, segeralah menuju fasilitas medis terdekat. Penanganan profesional adalah satu-satunya jalan keluar yang aman.

Di rumah sakit, dokter akan memberikan terapi antibiotik, pencegahan tetanus, hingga pemberian antivenom jika diperlukan. Untuk meredakan nyeri, penggunaan parasetamol biasanya diperbolehkan di bawah pengawasan medis.

Satu hal yang wajib diingat, jangan mengikat luka terlalu kencang (tourniquet) secara sembarangan, dan hindari mengonsumsi alkohol atau kopi setelah tergigit. Sebab, zat-zat tersebut dapat memengaruhi reaksi tubuh terhadap racun.

Pada akhirnya, meski ular sudah tak lagi bernapas, kewaspadaan tidak boleh tanggal ya, detikers. Menjaga jarak adalah cara terbaik, sekaligus cara paling ampuh untuk melindungi diri dari bahaya yang tetap mengintai meski raga sang predator sudah terpisah dengan kepalanya. Tetap hati-hati, ya!

Artikel ini telah tayang di detikJogja

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads