Polisi Bagi Masker di Cimahi Antisipasi Abu Anak Krakatau

Polisi Bagi Masker di Cimahi Antisipasi Abu Anak Krakatau

Whisnu Pradana - detikJabar
Senin, 07 Sep 2026 15:36 WIB
Personel Polres Cimahi Bagi-bagi Masker ke Pelajar
Personel Polres Cimahi Bagi-bagi Masker ke Pelajar (Foto: istimewa)
Cimahi -

Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatu di perairan Selat Sunda, masih mengancam karena menyebar terbawa angin. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bahkan sudah mempersilakan sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh alias daring.

Di Kota Cimahi, anak-anak masih bersekolah seperti biasa. Di tengah ancaman partikel abu vulkanik yang terjadi sejak Minggu (6/9), anak sekolah khususnya diminta beraktivitas di luar ruangan mengenakan masker.

Polres Cimahi bergerak cepat membagikan masker ke pengendara dan anak sekolah agar terhindar dari paparan abu vulkanik. Polwan Satlantas Polres Cimahi mendatangi sekolah membagikan masker pada siswa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi kita menindaklanjuti arahan pimpinan soal antisipasi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau agar memakai masker. Kemarin kita memberikan masker ke pengendara, sekarang ke anak-anak sekolah," kata Kapolres Cimahi, AKBP Moh. Faruk Rozi saat ditemui, Senin (7/9/2026).

ADVERTISEMENT

Faruk mengatakan partikel abu vulkanik yang tak terlihat mata telanjang berpotensi terhirup dan menyebabkam gangguan pernapasan. Arahan penggunaan masker dilakukan sampai beberapa hari kedepan.

"Makanya kita minta masyarakat terutama anak sekolah menggunakan masker karena bahaya untuk kesehatan, apalagi ketika terhirup. Kalau memungkinkan, juga menggunakan kacamata supaya mata tidak perih dan iritasi," kata Faruk

Sementara itu, Pakar Kebencanaan pada Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan soal bahaya abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau terletak pada kombinasi fisik partikelnya yang sangat tajam dan kandungan kimiawi yg bersifat korosif.

"Abu vulkanik itu berbeda dari debu biasa yglang lunak dan mudah disaring, partikel abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran mikroskopis (kurang dari 2 mm)," kata Daryono.

Ukuran yang sangat halus ini memungkinkan abu menembus sistem penyaringan alami di hidung dan meluncur langsung menuju saluran pernapasan bagian dalam hingga ke alveolus paru-paru.

"Secara kimiawi, partikel abu vulkanik diselimuti oleh senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung berbagai logam berat dan mineral. Ketika tersedot atau menempel pada jaringan tubuh yang basah, kandungan asam ini bereaksi secara agresif," kata Daryono.

Dampak abu vulkanik tidak hanya memicu peradangan pada saluran pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi parah, rasa terbakar pada mata, serta gangguan pada kulit. Dalam jangka pendek, paparan abu ini langsung memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk kering, sesak napas, terutama bagi penderita asma, serta iritasi mata.

"Untuk jangka panjang, endapan silika bebas yang tertimbun di dalam paru-paru dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut permanen (silikosis), yang berisiko menurunkan fungsi paru-paru secara drastis," kata Daryono.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads