BMKG Telusuri Dentuman Misterius di Bandung Raya

Bima Bagaskara - detikJabar
Sabtu, 05 Sep 2026 15:31 WIB
Logo BMGK (Foto: Situs BMKG).
Bandung -

Suara dentuman misterius yang dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah Bandung Raya dan sekitarnya pada Sabtu (5/9/2026) dini hari masih menjadi teka-teki.

BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung memastikan, berdasarkan data sementara, dentuman tersebut tidak menunjukkan indikasi berasal dari aktivitas gempa bumi di wilayah Bandung Raya. Aktivitas petir dan kondisi cuaca lokal juga belum mampu menjelaskan sumber suara yang membuat warga bertanya-tanya itu.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi mengatakan, pihaknya telah menindaklanjuti laporan masyarakat dengan melakukan pengecekan terhadap sejumlah parameter, mulai dari aktivitas kegempaan, petir, cuaca, hingga magnet bumi.

Pengecekan dilakukan untuk periode ketika warga melaporkan mendengar suara dentuman, yakni sekitar pukul 00.30 hingga 05.00 WIB. Berdasarkan pemantauan BMKG, kondisi cuaca di Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, pada periode tersebut secara umum cerah.

"Kondisi cuaca di wilayah Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, pada periode tersebut secara umum terpantau cerah, dengan arah angin bertiup dari Timur ke Barat. Dan terbentuk awan vulkanik di sekitar Gunung Anak Krakatau," kata Suaidi, Sabtu (5/9/2026).

BMKG juga tidak menemukan adanya aktivitas gempa bumi di Bandung dan sekitarnya pada periode tersebut. Namun, pemantauan seismogram di Pulau Sibesi justru mencatat adanya anomali pada waktu yang berdekatan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Berdasarkan hasil pemantauan data kegempaan BMKG, tidak terdeteksi tidak adanya aktivitas seismik di wilayah Bandung dan sekitarnya. Namun, berdasarkan catatan seismogram di Pulau Sibesi, teramati adanya anomali yang tercatat pada pukul 16.08 UTC dan 16.32 UTC (23:08 dan 23:32 WIB)," jelasnya.

Meski demikian, BMKG belum dapat memastikan hubungan anomali tersebut dengan suara dentuman yang dilaporkan masyarakat.

"Anomali tersebut masih memerlukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui karakteristik, sumber, serta keterkaitannya dengan suara dentuman yang dilaporkan masyarakat," ucapnya.

Selain data kegempaan, BMKG juga menemukan adanya gangguan atau anomali magnet bumi. Anomali tersebut terekam di stasiun magnet bumi Sukabumi dan Serang pada periode 4 September 2026 pukul 23.00 WIB hingga 5 September 2026 pukul 02.00 WIB.

Suaidi mengatakan tidak ada aktivitas badai Matahari pada periode tersebut sehingga anomali yang tercatat bukan berasal dari aktivitas Matahari.

"Data magnet bumi pada periode 4 September 2026 pukul 23.00 WIB hingga 5 September 2026 pukul 02.00 WIB, teramati adanya gangguan atau anomali yang terekam pada stasiun magnet bumi Sukabumi (SKB) dan Serang (SRG). Dan tidak adanya aktivitas Badai Matahari, sehingga anomaly berasal dari aktivitas di dalam bumi," paparnya.

Namun, temuan tersebut juga belum bisa langsung dijadikan jawaban atas misteri dentuman yang terdengar hingga ke sejumlah wilayah.

"Namun, berdasarkan data yang tersedia saat ini, gangguan atau anomali magnet bumi tersebut belum dapat secara langsung dikaitkan sebagai penyebab suara dentuman yang dilaporkan masyarakat," ucap Suaidi.

Simak Video "Video: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Jangkau Lampung hingga Jawa Barat"


(bba/mso)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork