Warga Bandung belakangan ini merasakan suhu udara yang jauh lebih dingin dari biasanya, terutama saat malam hingga menjelang pagi. Bahkan, di sejumlah wilayah Bandung Raya, udara dingin terasa menusuk hingga membuat warga memilih mengenakan jaket tebal meski sedang berada di dalam rumah.
Fenomena tersebut ternyata bukan sesuatu yang tidak biasa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi itu merupakan fenomena alam yang lazim terjadi ketika memasuki musim kemarau.
Pelaksana Tugas Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, mengatakan Bandung Raya telah memasuki awal musim kemarau sejak Juni. Pada periode ini, peluang terjadinya suhu udara minimum yang lebih dingin memang meningkat, terutama pada malam hingga pagi hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk Bandung bulan Juni sudah memasuki awal musim kemarau dan suhu dingin ekstrem memang cenderung berpeluang terjadi saat musim kemarau, yakni di malam hari hingga pagi hari," ujar Edi, Jumat (10/7/2026).
Menurut Edi, ada beberapa faktor yang menyebabkan udara di Bandung terasa lebih dingin. Penyebab utamanya adalah minimnya tutupan awan selama musim kemarau.
Pada siang hari, permukaan bumi menerima radiasi matahari secara maksimal karena langit relatif cerah. Namun saat malam tiba, energi panas yang tersimpan itu justru dilepaskan kembali ke atmosfer tanpa terhalang awan.
Akibatnya, permukaan bumi kehilangan panas dengan sangat cepat sehingga suhu udara turun lebih drastis dibandingkan saat musim hujan.
"Karena tidak ada awan, maka di malam hari hingga dini hari radiasi yang disimpan di permukaan bumi akan secara maksimal dilepaskan. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan permukaan bumi mendingin dengan cepat karena kehilangan energi secara maksimal, dampaknya adalah suhu minimum atau udara dingin yang ekstrem," jelasnya.
Selain langit yang cerah, suhu dingin di Bandung juga dipengaruhi oleh angin muson Australia. Saat ini Australia sedang mengalami musim dingin sehingga massa udara yang bergerak menuju Indonesia membawa udara yang lebih dingin dan kering.
"Yang juga merupakan penyebab utama terjadinya musim kemarau di Indonesia, angin monsun Australia ini membawa udara yang dingin dan kering yang berada di wilayah Australia ke wilayah Indonesia yang berada di wilayah BBS (Belahan Bumi Selatan)," katanya.
BMKG memperkirakan fenomena udara dingin ini masih akan terus dirasakan masyarakat hingga Agustus 2026, seiring datangnya puncak musim kemarau di Jawa Barat.
"Fenomena suhu dingin ini secara empiris akan berlangsung hingga Agustus. Oleh karena itu masyarakat diharap untuk tidak panik melihat fenomena ini, karena suhu dingin pada musim kemarau adalah suatu fenomena yang wajar terjadi terutama untuk wilayah Indonesia di selatan Khatulistiwa," ujar Edi.
Berdasarkan data Stasiun Geofisika Bandung, suhu minimum di Kota Bandung sepanjang Juni hingga awal Juli 2026 berkisar antara 17,4 hingga 20,2 derajat Celsius, sedangkan suhu maksimum pada siang hari berada di kisaran 30,2 hingga 30,8 derajat Celsius.
"Suhu terendah yang tercatat Kota Bandung dari bulan Juni sampai dengan hari ini yaitu 17,4β°C," ungkapnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh selama periode udara dingin ini. Warga disarankan mengenakan pakaian hangat, mengonsumsi makanan dan minuman hangat, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak diperlukan.
"Masyarakat dihimbau agar menjaga kesehatan, menggunakan pakaian tebal ketika suhu udara terasa lebih dingin dan mengkonsumsi makanan atau minuman hangat," imbaunya.
"Mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak perlu dan selalu mengupdate informasi cuaca dan iklim melalui web dan media sosial resmi BMKG," pungkasnya.
(bba/yum)
