Kabar Internasional

Rahasia di Balik Bekunya Antartika

Rachmatunisa - detikJabar
Minggu, 06 Sep 2026 06:00 WIB
Antartika (Foto: via Daily Mail).
Bandung -

Antartika ternyata tidak menjadi benua es hanya karena suhu Bumi yang mendingin. Jauh di bawah lapisan esnya yang tebal, ada proses geologi selama jutaan tahun yang bekerja diam-diam sebagai 'arsitek' utama terbentuknya hamparan es raksasa tersebut.

Temuan ini terungkap dalam penelitian terbaru yang membedah misteri terbentuknya Lapisan Es Antartika Timur sekitar 34 juta tahun lalu. Menariknya, pada masa itu, kondisi Bumi sebenarnya masih jauh lebih hangat, yakni sekitar 5 derajat Celsius dibandingkan suhu saat ini.

Selama ini, para ilmuwan meyakini bahwa merosotnya kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer adalah faktor tunggal pendorong pendinginan global. Namun, sebuah pertanyaan besar muncul: mengapa Antartika membeku lebih dulu, sementara Kutub Utara justru butuh waktu jauh lebih lama untuk membeku?

Jawabannya ternyata tersimpan pada perubahan bentuk daratan Antartika secara perlahan. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science pada Juli 2026, ditemukan bahwa proses geologi yang dimulai lebih dari 100 juta tahun lalu telah mengangkat wilayah Antartika Timur secara bertahap.

Fenomena ini berkaitan erat dengan pergerakan material di mantel Bumi setelah superbenua Gondwana pecah. Ilmuwan menyebutnya sebagai mantle waves, yaitu gelombang lambat di dalam mantel Bumi yang bergerak selama jutaan tahun. Proses inilah yang mengangkat daratan Antartika, termasuk barisan pegunungan yang kini 'tertidur' di bawah lapisan es.

Dampaknya sangat signifikan. Ketika daratan Antartika Timur semakin menjulang, suhunya otomatis menjadi lebih dingin. Sekitar 45 juta tahun lalu, wilayah yang luas di sana bahkan telah terangkat hingga melewati ketinggian 2 kilometer di atas permukaan laut.

Kondisi dataran tinggi ini membuat salju lebih mudah bertahan sepanjang tahun. Salju yang gagal mencair saat musim panas terus menumpuk, memadat menjadi es, hingga akhirnya membentuk lapisan es raksasa yang kita kenal sekarang.

Prof Thomas Gernon dari University of Southampton, selaku penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa penurunan CO2 saja tidak cukup kuat untuk menjelaskan mengapa kedua kutub memiliki respons yang berbeda.

"Jika penurunan kadar CO2 terjadi sendirian, Anda akan mengharapkan kedua kutub merespons secara lebih simetris," ujarnya seperti dikutip dari SpaceDaily.

Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"


(mso/mso)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork