Proyek Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya tak hanya menyasar Terminal Cicaheum. Terminal Antapani, Kota Bandung, juga terkena dampaknya setelah diproyeksikan menjadi stasiun akhir (end station) proyek tersebut.
Pantauan detikJabar di lokasi, ada 17 kios yang telah dibongkar di Terminal Antapani. Pembongkaran dilakukan secara mandiri oleh pedagang setelah mereka mendapat kompensasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Antapani sudah dibongkar kiosnya, itu juga sudah dikompensasi. Ada 17 kios di sana yang dibongkar mandiri," kata Kadishub Kota Bandung Rasdian saat dihubungi detikJabar, Rabu (2/9/2026).
Menurut Rasdian, dari 17 kios yang dibongkar, hanya satu kios yang diberi kompensasi karena tercatat berkontrak. Sedangkan sisanya, diberi kompensasi karena kehilangan pendapatan dari usahanya.
"Kalau yang dapat kontrak itu kan yang satu aja, sisanya tidak berkontrak. Berarti dia yang tidak berkontrak itu dapat kehilangan pendapatannya aja," ungkapnya.
Terminal Antapani nantinya diproyeksikan melayani empat trayek utama BRT dengan rute Antapani-Ciroyom, Antapani-Ledeng, Antapani-Sarijadi, dan Antapani-Leuwipanjang. Perubahan denah pun bakal diterapkan setelah proyek BRT itu berjalan.
Rencananya, akses kendaraan bakal dibalik. Pintu masuk lama di Terminal Antapani akan diubah menjadi pintu keluar, sedangkan pintu keluarnya bakal menjadi pintu masuk bagi armada BRT.
Di Terminal Antapani juga bakal dibangun berbagai fasilitas penunjang operasional angkutan massal. Di antaranya dua shelter penumpang, kantor operasional BRT, serta kantor Dishub.
Meski telah dibongkar, Rasdian belum merinci berapa jumlah kompensasi yang diberikan bagi pedagang Terminal Antapani. Ia hanya menyatakan, total kompensasi bagi pedagang Terminal Cicaheum secara keseluruhan berjumlah Rp 900 juta.
"Saya kurang hapal ini kalau itu mah. Jadi keseluruhan, dengan yang saya tahu, keseluruhannya dengan yang Cicaheum itu di Rp 900-an juta," pungkasnya.
(iqk/iqk)
