Letnan Kolonel Untung bin Syamsuri dieksekusi regu tembak di sekitar Lembang, wilayah yang kini masuk Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada 1967. Koran Algemeen Dagblad edisi 29 September 1967 menyebut Untung bersama Mayor Sujono dan Letnan Ngadimo Hasuwigno ditembak mati saat fajar setelah Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) menjatuhkan hukuman mati dalam perkara Gerakan 30 September 1965 atau G30S.
Eksekusi itu kembali menjadi sorotan setelah foto langka menjelang hukuman mati beredar di media sosial. Foto hitam-putih tersebut memperlihatkan sosok pria yang disebut sebagai Letkol Untung berdiri dengan mata tertutup kain putih dan tangan terikat pada tiang pancang. Dua pria berseragam dengan helm bertuliskan 'PM' tampak memeriksa ikatan di tubuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto itu diunggah Jacob Cass, warga Amerika Serikat yang tinggal di Washington DC, melalui akun Instagram @koleksi_sejarah_indo pada 14 September 2025. Jacob menyebut foto tersebut berasal dari koleksi pribadinya dan datang dari perusahaan media AFP/Belga. Ia juga mengatakan bagian belakang foto mencantumkan tahun 1967.
Algemeen Dagblad melaporkan Untung, Sujono, dan Ngadimo ditembak oleh tiga regu tembak saat fajar dalam kondisi udara Bandung yang dingin. Ketiganya sebelumnya mengajukan grasi kepada penjabat presiden, tetapi permohonan itu ditolak. Mahmilub menyatakan Untung bertanggung jawab atas penculikan dan pembunuhan enam jenderal serta satu perwira TNI AD dalam peristiwa G30S.
Nama Untung melekat kuat dalam sejarah G30S. Sebagai Komandan Batalyon I Resimen Tjakrabirawa, ia menuding adanya "Dewan Jenderal" yang hendak melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno. Namun, keberadaan kelompok tersebut tidak terbukti. Algemeen Dagblad edisi 26 Februari 1966 mencatat Untung mengakui tidak memiliki bukti mengenai keberadaan "Dewan Jenderal".
Dilansir detikcom, Untung lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 3 Juli 1926 dengan nama Kusmindar alias Kusman. Ia pernah bergabung dengan Heiho pada masa pendudukan Jepang dan kemudian masuk Batalyon Sudigdo yang terpengaruh PKI. Riwayatnya juga bersinggungan dengan pemberontakan PKI Madiun 1948. Setelah itu, ia masuk TNI melalui Akademi Militer di Semarang dan kariernya terus menanjak hingga mendapat rekomendasi Mayor Jenderal Soeharto untuk memimpin Grup Batalyon I Tjakrabirawa pada 1964.
Setahun kemudian, Untung memimpin Gerakan 30 September yang menculik enam jenderal dan satu perwira TNI AD. Kemdikbud mencatat operasi penumpasan G30S/PKI berlangsung sejak 1 Oktober 1965 di bawah pimpinan Mayjen Soeharto. Untung akhirnya tertangkap di Tegal pada 11 Oktober 1965 ketika hendak melarikan diri ke Jawa Tengah. Setelah menjalani proses hukum Mahmilub dan grasinya ditolak, Untung mengakhiri hidupnya di depan regu tembak di sekitar Lembang pada 1967.
(sud/sud)
