Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (Bappenda) Kabupaten Bogor, Adi Mulyadi, melaporkan kekayaan Rp3,22 miliar pada 2025. Nilainya meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan laporan awal pada 2017 yang mencapai Rp1,61 miliar.
Laporan kekayaan Adi menjadi perhatian setelah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah Kantor Bappenda Kabupaten Bogor, Kamis, 27 Agustus 2026. Penggeledahan dilakukan dalam penyidikan dugaan pemotongan insentif pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah yang kerap disebut upah pungut.
Bappenda menjadi lokasi pertama yang didatangi penyidik. Penggeledahan kemudian berlanjut ke Kantor Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Bogor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari kedua kantor tersebut, penyidik menyita sejumlah dokumen yang dinilai berkaitan dengan perkara. KPK selanjutnya akan menelaah materi yang ditemukan untuk melihat hubungannya dengan konstruksi dugaan korupsi.
"Selanjutnya penyidik akan melakukan penelaahan atas temuan dalam penggeledahan tersebut," kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo sebagaimana diberitakan detikJabar, Kamis, 27 Agustus 2026.
KPK belum memerinci jenis dan jumlah dokumen yang disita. Lembaga antirasuah juga belum mengungkap periode pemotongan, nilai uang yang diduga dikumpulkan maupun pihak yang disinyalir menikmati aliran dana.
Perkara itu masih ditangani menggunakan surat perintah penyidikan umum. Belum ada pihak yang diumumkan sebagai tersangka. Penggeledahan kantor yang dipimpin Adi juga tidak serta-merta menunjukkan dirinya terlibat atau menghubungkan kekayaannya dengan perkara yang sedang disidik.
Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Adi tersedia sejak 2017. Sembilan laporan tersebut merekam perubahan harta sekaligus jabatan yang dicantumkannya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor.
Pada laporan khusus awal menjabat tahun 2017, Adi tercatat sebagai Pejabat Pembuat Komitmen di Bappenda. Jabatan dan unit kerja yang sama terus dicantumkan hingga laporan 2022.
Dalam LHKPN 2023 dan 2024, Adi masih tercatat sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. Namun, unit kerjanya berpindah dari Bappenda ke Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor.
Perubahan berikutnya muncul pada laporan 2025. Adi kembali ke Bappenda dengan jabatan Kepala Badan.
Saat pertama kali melaporkan harta pada 2017, Adi mempunyai kekayaan bersih Rp1.614.302.326. Nilai itu diperoleh setelah total aset Rp1,79 miliar dikurangi utang Rp176 juta.
Asetnya kala itu terdiri atas dua bidang tanah dan bangunan di Bogor senilai Rp1,25 miliar. Kas dan setara kasnya tercatat Rp65.302.326.
Setahun kemudian, kekayaan bersih Adi meningkat menjadi Rp1.747.616.937. Satu properti baru berupa tanah seluas 45 meter persegi dengan bangunan 90 meter persegi di Bogor muncul dalam laporan dengan nilai Rp625 juta.
Penambahan properti tersebut beriringan dengan kenaikan utang dari Rp176 juta menjadi Rp659.264.026. Kasnya juga bertambah menjadi Rp86.880.963.
Kekayaan Adi kembali naik menjadi Rp2.088.637.080 pada 2019. Nilainya sempat turun tipis menjadi Rp2.056.376.451 pada 2020 sebelum meningkat kembali menjadi Rp2.191.233.499 pada 2021.
Pada 2022, kekayaan bersihnya tercatat Rp2.245.735.689. Tidak ada tambahan properti maupun kendaraan pada tahun tersebut. Kenaikan sekitar Rp54,5 juta terutama dipengaruhi berkurangnya utang.
Perubahan lebih besar terjadi pada 2023 ketika Adi tercatat bekerja di Sekretariat Daerah. Kekayaan bersihnya naik Rp456.169.055 atau sekitar 20,31 persen menjadi Rp2.701.904.744.
Kenaikan itu tidak berasal dari pembelian tanah maupun kendaraan baru. Kasnya melonjak dari Rp340,27 juta menjadi Rp623,77 juta sedangkan utang berkurang sekitar Rp76,67 juta.
Nilai kekayaan Adi kemudian turun menjadi Rp2.585.929.604 pada 2024 meskipun ia melaporkan tanah baru seluas 1.000 meter persegi di Bogor senilai Rp160 juta. Penurunan dipengaruhi berkurangnya kas dan meningkatnya utang menjadi Rp759,87 juta.
Setelah menjabat Kepala Bappenda, Adi melaporkan kekayaan Rp3.221.565.818 pada 2025. Jumlahnya bertambah Rp635.636.214 atau sekitar 24,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Perubahan paling menonjol terdapat pada tanah seluas 1.000 meter persegi yang semula dihargai Rp160 juta. Dalam laporan 2025, aset itu berubah menjadi tanah dan bangunan seluas 291 meter persegi dengan nilai Rp601.156.000.
Lembar pengumuman LHKPN tidak menjelaskan apakah kenaikan Rp441,15 juta tersebut berasal dari biaya pembangunan, penyesuaian harga aset atau gabungan keduanya. Waktu pembangunan dan sumber pembiayaannya juga tidak dicantumkan.
Secara keseluruhan, Adi memiliki empat bidang tanah dan bangunan di Bogor senilai Rp2.651.156.000. Kas dan setara kasnya mencapai Rp431.857.796 sedangkan harta bergerak lainnya sebesar Rp67,5 juta.
Isi Garasi Adi Mulyadi
Kendaraan yang dilaporkan Adi berubah beberapa kali selama sembilan tahun. Pada 2017, garasinya berisi Honda CR-V keluaran 2014 senilai Rp275 juta dan Honda Civic tahun 2012 seharga Rp200 juta.
Honda Civic tidak lagi tercantum pada laporan 2018. Posisinya digantikan Nissan X-Trail keluaran 2013 senilai Rp180 juta. Sementara nilai Honda CR-V turun menjadi Rp265 juta.
Pergantian kembali terjadi pada 2019. Nissan X-Trail menghilang dari daftar dan digantikan Pajero Sport keluaran 2019 seharga Rp550 juta. Adi masih mempertahankan Honda CR-V yang ketika itu dilaporkan senilai Rp225 juta.
Kedua kendaraan tersebut bertahan hingga 2023 meskipun nilainya terus menyusut. Pada tahun itu, Honda CR-V dihargai Rp150 juta sedangkan Pajero Sport Rp380 juta.
Honda CR-V tidak lagi tercantum dalam laporan 2024. Kendaraan tersebut digantikan Honda Odyssey keluaran 2019 senilai Rp440 juta. Adi masih melaporkan Pajero Sport dengan nilai Rp370 juta sehingga total isi garasinya mencapai Rp810 juta.
Pada laporan 2025, dua kendaraan itu masih tercantum. Pajero Sport dinilai Rp340 juta dan Honda Odyssey Rp400 juta. Nilai keseluruhan kendaraan Adi mencapai Rp740 juta.
Dokumen publik LHKPN tidak memuat tanggal transaksi, nilai pembelian maupun selisih hasil penjualan kendaraan yang tidak lagi dilaporkan. Karena itu, pergantian kendaraan hanya dapat dibaca sebagai perubahan komposisi aset dan belum menjelaskan arus dana di balik transaksi tersebut.
Total aset Adi sebelum dikurangi utang pada 2025 mencapai Rp3.890.513.796. Setelah dikurangi kewajiban Rp668.947.978, kekayaan bersihnya menjadi Rp3.221.565.818.
Dalam sembilan tahun, kekayaan Adi bertambah Rp1.607.263.492 atau sekitar 99,57 persen. Hartanya sempat turun pada 2020 dan kembali berkurang pada 2024.
