Keren! Warga Sukamiskin Bandung Ubah Jelantah Jadi Listrik

Keren! Warga Sukamiskin Bandung Ubah Jelantah Jadi Listrik

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Jumat, 28 Agu 2026 07:00 WIB
Warga RW 17 Kelurahan Sukamiskin, Taufik Bayu memamerkan pembangkit listrik berbahan bakar jelantah di Sport Jabar Arcamanik Bandung, Kamis (27/8/2026)
Warga RW 17 Kelurahan Sukamiskin, Taufik Bayu memamerkan pembangkit listrik berbahan bakar jelantah di Sport Jabar Arcamanik Bandung, Kamis (27/8/2026). (Foto: Nur Khansa Ranawati)
Bandung -

Di salah satu sudut GOR Sport Jabar Arcamanik Bandung, terdapat sekumpulan warga tengah mengerumuni sebuah mesin peraga. Di ujung bagian mesin, terdapat sebuah bohlam lampu yang tampak menyala.

Mesin tersebut tampak sederhana. Mayoritas komponennya terdiri dari barang yang kerap dijumpai sehari-hari, mulai dari kompor, panci presto, hingga minyak jelantah.

Namun siapa sangka, di tangan Taufik Bayu dan rekan-rekannya, botol-botol minyak jelantah itu dapat diubah menjadi aliran listrik. Mesin sederhana yang mengundang penasaran warga tersebut tak lain merupakan minatur pembangkit listrik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi ini adalah eskperimen warga RW 17 Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik. Awalnya untuk diperagakan saat 17 Agustus kemarin, sebagai deklarasi pengelolaan sampah di wilayah kami. Biar warga antusias, kami bikin yang unik," jelas Taufik pada detikJabar daat ditemui di sela acara Gebyar HI-CARE Zero Waste Unisba, Kamis (27/8/2026).

ADVERTISEMENT

Ia yang memiliki pengetahuan di bidang kelistrikan tersebut mengajak warga setempat untuk berkreativitas membuat generator listrik dari bahan sederhana.

Lewat riset selama dua bulan, minyak jelantah dipilih sebagai bahan bakar generator yang dinilai ramah lingkungan.

"Awalnya mau pakai briket batu bara, tapi nyalainnya susah dan berasap. Dicoba pakai oli bekas motor, tapi CO (karbon monoksida)-nya tinggi. Akhirnya pakai minyak jelantah, lebih ramah lingkungan," paparnya.

Berdasarkan risetnya, hasil pembakaran dari minyak jelantah memiliki emisi yang lebih rendah dibanding oli bekas. Minyak jelantah tersebut digunakan untuk menggantikan bahan bakar gas dari kompor.

Hal ini sekaligus menjadi wujud pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi bentuk yang lebih bermanfaat.

"Proses pembakaran dari minyak jelantah juga lebih cepat dbandingkan batu bara," jelasnya.

Cara kerja mesinnya pun cukup sederhana. Untuk menyalakan generator listrik, mula-mula minyak jelantah perlu dituang pada tungku.

Tungku tersebut nantinya akan memanaskan air yang ditaruh dalam boiler, yang dalam hal ini berbentuk panci presto.

"Setelah panas, akan terjadi tekanan. Tekanan uap air panasnya itu akan mengalir kencang dan disalurkan ke turbin ini," paparnya.

Akhirnya, turbin akan mendorong dinamo dan menciptakan putaran mekanika yang membuat listrik akan menyala. Konsep ini, Taufik mengatakan, adalah konsep umum yang diterapkan di pembangkit listrik skala besar.

"Seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air, yang menggerakannya adalah air, kalau angin, ya lewat angin. Kalau ini, dari tekanan. Persis prinsip kerja PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap), tapi versi kecil dan ramah lingkungan," terangnya.

Satu botol minyak jelantah yang dikumpulkan ke dalam botol air mineral, ia mengatakan, dapat menyalakan lampu bohlam 10 watt selama tiga jam. Hal tersebut setara dengan kurang lebih 600 mililiter minyak.

Ia mengatakan, modal pembuatan alat-alat menghabiskan dana kurang dari Rp2 juta. Mayoritas komponen pun dapat dijumpai di marketplace atau bahkan di rumah masing-masing.

"Tapi untuk merakitnya kan perlu mesin bubut, itu kami dibantu oleh bengkel," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, pembangkit listrik ini bisa dikembangkan ke skala rumah tangga.

Namun tentunya, alat dan bahan baku yang diperlukan akan jauh lebih besar.

"Untuk menghidupkan listrik satu RW misalnya, ya perlu dihitung lagi dana dan modalnya, jelas besar. Tapi secara teknis ini bisa saja dialirkan ke rumah-rumah, ya seperti listrik pada umumnya saja," ungkapnya.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads