Arca Gunung Tangkil Sukabumi, Jejak Peradaban yang Terancam Rusak

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Rabu, 26 Agu 2026 20:30 WIB
Paguyuban Padjajaran Anyar menggelar pertemuan dengan sejumlah pegiat kebudayaan dan tradisi Sunda (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Di balik rimbunnya hutan Cagar Alam Sukawayana, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, kawasan Gunung Tangkil menyimpan jejak peradaban purbakala yang memikat para peneliti. Salah satu temuan penting yang tercatat dalam kajian Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) tersebut adalah keberadaan arca-arca batu kuno.

Sejumlah artefak arca batu yang dievakuasi dari kawasan Gunung Tangkil tersebut saat ini diketahui telah diamankan dan disimpan di Museum Prabu Siliwangi yang berada di bawah naungan Yayasan Pesantren Al-Fath, Kota Sukabumi, guna menjaga keutuhan benda dari ancaman kerusakan maupun penjarahan.

Namun, keberadaan benda bersejarah yang berada di luar situs aslinya memicu perhatian komunitas adat dan budayawan Sunda. Pemangku Paguyuban Padjajaran Anyar, Firman Hidayat, berharap seluruh artefak seperti arca maupun temuan lainnya tetap dipertahankan di kawasan Gunung Tangkil.

"Besar harapan kami agar arca atau benda-benda temuan lainnya tetap berada di tempat aslinya di kawasan Gunung Tangkil. Tinggalan tersebut merupakan satu kesatuan lanskap sejarah yang tidak boleh terpisahkan dari situs asalnya," ujar Firman usai melakukan pertemuan lapangan bersama pegiat kebudayaan Sunda, Rabu (26/8/2026).

Menurut Firman, keberadaan artefak di lokasi asli (in situ) sangat krusial guna memperkuat pembuktian sejarah serta mempercepat legalitas kawasan di mata pemerintah.

"Keberadaan arca dan tinggalan purbakala di titik aslinya justru menjadi bukti otentik yang sangat kuat untuk mempercepat peningkatan status dari Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) menjadi Cagar Budaya resmi. Itu adalah saksi bisu peradaban leluhur kita," jelasnya.

"Menjaga benda-benda tersebut tetap berada di situsnya, dibarengi dengan sistem pengawasan yang ketat, adalah wujud komitmen kita bersama dalam memuliakan dan menjaga keaslian warisan leluhur secara utuh," tegas Firman.

Merespons hal tersebut, Pamong Budaya Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Sukabumi, Gerry Mulyawan Hidayat, membenarkan bahwa temuan beberapa arca itu tercatat dalam laporan riset sebelumnya yang melibatkan pihak Yayasan Al-Fath Sukabumi, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat, dan BRIN.

"Kalau dari laporan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan di sana, memang pernah ditemukan beberapa arca yang waktu itu penelitiannya bersama Yayasan Al-Fath Sukabumi. Selain itu, ditemukan juga struktur batuan yang menyerupai punden berundak seperti di Situs Pangguyangan," ungkap Gerry.

Di samping persoalan keberadaan arca, kondisi fisik situs di lokasi asli saat ini justru menghadapi ancaman kerusakan. Pasalnya, ditemukan beberapa titik batuan kuno yang telah diplester semen hingga dipasangi keramik secara sepihak. Padahal, area purbakala tersebut semestinya steril dan dijaga keasliannya.

Menanggapi perubahan struktur tersebut, Gerry menegaskan bahwa status ODCB wajib diperlakukan sama ketatnya dengan cagar budaya yang sudah resmi ditetapkan. "Berdasarkan Undang-Undang Cagar Budaya, perlindungan dan perlakuan terhadap ODCB itu sama persis dengan cagar budaya resmi. Lokasi ini harus dijaga keasliannya dan tidak boleh sembarangan diubah, apalagi diplester semen, karena nilai historisnya justru melekat pada keaslian susunan batuan purba tersebut," tegas Gerry.

Selain temuan arca dan ancaman modifikasi fisik, karakter sebaran batuan besar di Gunung Tangkil dinilai memiliki korelasi dengan Situs Megalitikum Gunung Padang di Cianjur serta Situs Tugu Gede Cengkuk di Cikakak.

"Struktur pemetaannya memang harus dibuka dan diteliti lebih mendalam lagi bersama BPK Wilayah Jawa Barat. Cakupan wilayahnya sangat luas, sehingga dibutuhkan kajian komprehensif agar zonasi situs cagar budaya ini segera terpetakan dan terlindungi secara hukum," pungkas Gerry.




(iqk/iqk)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork