Kisah Dini Lestari, Menembus Batas Lewat Jemari dan Literasi

Kisah Dini Lestari, Menembus Batas Lewat Jemari dan Literasi

Whisnu Pradana - detikJabar
Kamis, 27 Agu 2026 07:00 WIB
Dini Lestari, Pengidap Cerebral Palsy yang Jadi Penulis
Dini Lestari, Pengidap Cerebral Palsy yang Jadi Penulis (Foto: Whisnu Pradana/detikJabar)
Cimahi -

Di balik keterbatasan fisik yang sering kali dipandang sebelah mata, tersimpan kekuatan yang mampu meruntuhkan tembok kemustahilan. Dini Lestari adalah bukti hidup bahwa ambisi tidak mengenal batas biologis.

Di usianya yang menginjak 36 tahun, wanita asal Sarijadi, Kota Bandung ini berdiri di titik pencapaian yang bahkan sulit diraih oleh mereka yang bertubuh bugar.

Sebagai penyandang disabilitas, Dini seolah ingin meneriakkan pesan kepada dunia bahwa ruang bagi kaum marginal tetap terbuka lebar. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk menyetarakan langkah kaum difabel dengan masyarakat pada umumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dini mengidap Cerebral Palsy, sebuah gangguan neurologis yang memengaruhi kemampuan bicara, keseimbangan, hingga koordinasi gerak tubuhnya. Namun, alih-alih menyerah pada vonis medis, ia memilih untuk bangkit. Ia memacu dirinya sendiri hingga akhirnya mampu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain.

ADVERTISEMENT

"Sekarang saya menggeluti aktivitas sebagai ghostwriter, penulis, dan admin. Terus konten kreator motivasi juga," ujar Dini saat berbincang dengan detikJabar, Rabu (26/8/2026).

Hari-harinya dihabiskan dengan mengasah kemampuan motorik sembari terus memeras ide untuk menyapa audiensnya. Kerja keras itu membuahkan hasil yang luar biasa, 17 karya tulis telah lahir dari pemikirannya. Salah satunya adalah buku berjudul Roda yang Berputar Dalam Cahaya, sebuah memoar tentang perjuangan seorang tunadaksa melawan keterbatasan.

Karya lainnya seperti Neo Quantum Tumaninah, Disabilitas, hingga Mutiara Di Balik Merapi menjadi saksi bisu bagaimana jemari Dini bekerja keras mengikuti perintah otaknya yang sering kali tak sinkron akibat kondisi kesehatannya.

"Saya suka menulis, makanya jadi ghostwriter juga. Kadang saya menulis 11 jari, cuma mengandalkan jari telunjuk. Tapi kalau lagi kumat, jari yang satu geraknya enggak berhenti, saya menulis 1 jari," ujar Dini.

Mengejar Mimpi di Jalur Akademik

Perjalanan hidup Dini kini membawanya ke babak baru yang lebih menantang. Setelah berhasil meraih gelar Sarjana Manajemen Dakwah dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, ia kini bersiap melangkah ke jenjang pascasarjana.

"Saya S-1 Manajemen Dakwah dari UIN. Sekarang alhamdulillah ada kesempatan untuk lanjut S-2," kata Dini.

Ia telah tercatat sebagai calon mahasiswa Magister Linguistik di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Pilihan jurusan ini bukan tanpa alasan, melainkan atas saran dari Dedi Mulyadi saat mereka bertemu di Lembur Pakuan beberapa waktu lalu.

"S-2 Linguistik, alhamdulillah sudah lolos dan kuliah tahun 2027 nanti. Untuk biayanya beasiswa dari Pak Gubernur KDM. Alhamdulillah," kata Dini.

Keberuntungan seolah terus memayungi langkahnya. Selain kepastian melanjutkan studi, Dini juga dijadwalkan akan menunaikan ibadah umrah pada akhir tahun 2026 ini. Sebuah perjalanan spiritual yang sudah lama ia dambakan.

"Alhamdulillah ada amanah juga buat saya, Insyaallah bulan November tahun ini saya umrah dulu. Semoga apa yang sedang saya jalani ini, membawa satu keberkahan," kata Dini.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads