Isu Dedi Mulyadi bakal meninggalkan Partai Gerindra dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terus menjadi sorotan. Jika benar terjadi, langkah tersebut dinilai justru bisa menjadi bumerang bagi Dedi Mulyadi yang saat ini memiliki daya tawar politik cukup tinggi.
Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi menilai, Dedi berada dalam posisi yang menguntungkan. Sejumlah partai politik besar disebut memiliki ketertarikan terhadap sosoknya, terutama dalam menghadapi kontestasi politik nasional pada Pemilu 2029.
Karena itu, Muradi menilai Dedi harus menghitung secara matang kendaraan politik yang akan dipilih jika benar-benar memutuskan keluar dari Gerindra.
"Kalau rumor itu betul, saya kira ada downgrade KDM. Banyak partai-partai besar tertarik sama dia, bukan cuma Gerindra. Ada Golkar, PDIP, NasDem," kata Muradi, Senin (24/8/2026).
Menurut Muradi, isu perpindahan ini tidak bisa hanya dilihat dari mengenai partai mana yang membuka pintu. Lebih jauh, Dedi perlu mempertimbangkan kekuatan elektoral partai tersebut serta konsekuensi politik yang akan muncul setelah dirinya berpindah.
Sebab, apabila Dedi masuk ke PSI, menurut Muradi, ada risiko munculnya persepsi bahwa dirinya menjadi bagian dari kekuatan politik yang selama ini diasosiasikan dengan pemerintahan sebelumnya.
"Dia akan dicap sebagai bagian dari yang sama dengan pemerintahan sebelumnya. Artinya dia tidak akan punya pembeda dengan Pak Prabowo, Pak Jokowi," katanya.
Kondisi itu dinilai dapat memengaruhi citra politik Dedi. Muradi menyebut publik bisa kembali melakukan penilaian terhadap posisi dan arah politik Dedi, termasuk mempertimbangkan apakah tetap memberikan dukungan atau justru mengalihkan pilihan kepada tokoh lain.
"Orang akan me-remanajemen ulang, apakah akan tetap mendorong KDM dengan segala hal yang baik itu, atau malah sebaliknya kemudian orang beralih ke tokoh yang lain," ujar Muradi.
Simak Video "Video: Dijanjikan Kompensasi oleh KDM, Puluhan Kios Liar Jalur Puncak Dirobohkan"
(bba/mso)