KDM Diisukan ke PSI, Pengamat Ingatkan Risiko Politik

KDM Diisukan ke PSI, Pengamat Ingatkan Risiko Politik

Bima Bagaskara - detikJabar
Senin, 24 Agu 2026 18:49 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (Foto: Yuga Hassani/detikJabar).
Bandung -

Isu Dedi Mulyadi bakal meninggalkan Partai Gerindra dan bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terus menjadi sorotan. Jika benar terjadi, langkah tersebut dinilai justru bisa menjadi bumerang bagi Dedi Mulyadi yang saat ini memiliki daya tawar politik cukup tinggi.

Guru Besar Ilmu Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi menilai, Dedi berada dalam posisi yang menguntungkan. Sejumlah partai politik besar disebut memiliki ketertarikan terhadap sosoknya, terutama dalam menghadapi kontestasi politik nasional pada Pemilu 2029.

Karena itu, Muradi menilai Dedi harus menghitung secara matang kendaraan politik yang akan dipilih jika benar-benar memutuskan keluar dari Gerindra.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau rumor itu betul, saya kira ada downgrade KDM. Banyak partai-partai besar tertarik sama dia, bukan cuma Gerindra. Ada Golkar, PDIP, NasDem," kata Muradi, Senin (24/8/2026).

ADVERTISEMENT

Menurut Muradi, isu perpindahan ini tidak bisa hanya dilihat dari mengenai partai mana yang membuka pintu. Lebih jauh, Dedi perlu mempertimbangkan kekuatan elektoral partai tersebut serta konsekuensi politik yang akan muncul setelah dirinya berpindah.

Sebab, apabila Dedi masuk ke PSI, menurut Muradi, ada risiko munculnya persepsi bahwa dirinya menjadi bagian dari kekuatan politik yang selama ini diasosiasikan dengan pemerintahan sebelumnya.

"Dia akan dicap sebagai bagian dari yang sama dengan pemerintahan sebelumnya. Artinya dia tidak akan punya pembeda dengan Pak Prabowo, Pak Jokowi," katanya.

Kondisi itu dinilai dapat memengaruhi citra politik Dedi. Muradi menyebut publik bisa kembali melakukan penilaian terhadap posisi dan arah politik Dedi, termasuk mempertimbangkan apakah tetap memberikan dukungan atau justru mengalihkan pilihan kepada tokoh lain.

"Orang akan me-remanajemen ulang, apakah akan tetap mendorong KDM dengan segala hal yang baik itu, atau malah sebaliknya kemudian orang beralih ke tokoh yang lain," ujar Muradi.

Punya Momentum di 2029

Di sisi lain, Muradi melihat Pemilu 2029 sebagai momentum penting bagi Dedi Mulyadi untuk melangkah dari panggung politik Jawa Barat menuju level nasional.

Menurut dia, politik sangat bergantung pada momentum. Karena itu, Dedi perlu menentukan langkah sejak dini apakah akan mempertahankan posisinya bersama Gerindra atau mulai mencari kendaraan politik lain untuk mengejar peluang maju dalam Pilpres 2029.

"Jangan lupa, politik tuh momentum. Sama seperti orang kemudian mengatakan Pak Jokowi di Jakarta dulu. Momentum Pak Jokowi ya sekarang, kemarin tahun 2014 itu gitu. Baru dua tahun di Jakarta dia pindah gitu," ujarnya.

Muradi mengatakan Dedi memiliki dua pilihan besar. Pertama, tetap berada di Gerindra dan menunggu arah politik Prabowo Subianto yang kemungkinan kembali maju dalam Pilpres 2029.

"Nah, tinggal tinggal maunya beliau mau apa? Apakah mau menjaga momentum tadi? Sudahlah saya siap menunggu perintah arahan dari Pak Prabowo, maka dia akan akan bisa opsinya adalah memilih menjadi orang nomor satu lagi di Jawa Barat," jelasnya.

Pilihan kedua adalah meninggalkan Gerindra dan mencari partai lain. Namun, jika opsi ini yang diambil, Muradi menyarankan Dedi memilih partai yang memiliki kekuatan elektoral minimal setara dengan Gerindra.

"Kalau dia lompat partai, pastikan partainya minimal setara dengan Gerindra. Menurut saya daya tawar elektoralnya tinggi. Bisa setara dia, ada Golkar, ada PDIP," kata Muradi.

Menurut Muradi, keputusan pindah partai juga tidak boleh sekadar didasarkan pada persoalan kendaraan politik. Dedi harus menghitung secara menyeluruh posisi politiknya jika tidak lagi berada di bawah Gerindra.

"Coba deh timnya KDM menghitung kalkulasi misalnya baik buruknya dia tidak di bawah Gerindra. Jadi jangan kalkulasi soal kendaraan politik semata. Kalkulasi juga misalnya kalau dia nggak di bawah Gerindra posisinya seperti apa," tuturnya.

Ia menilai seluruh kemungkinan tersebut perlu disimulasikan agar keputusan Dedi tidak justru membuat momentum politik yang dimilikinya hilang.

"Kalkulasi itu harus dihitung betul. Makanya saya sih berharap kan timnya KDM menghitung betul tahapan-tahapan itu supaya sesuai dengan apa yang menjadi karakter dia gitu. Kalau nggak saya khawatir kemudian tadi dia hilang momentumnya," katanya.

Perahu Baru-Duet dengan Pramono

Muradi bahkan melihat peluang Dedi untuk berpindah partai cukup terbuka jika memang ingin mengejar Pilpres 2029. Namun, ia tidak melihat PSI sebagai satu-satunya pilihan.

Menurutnya, Dedi dapat mempertimbangkan partai besar seperti Golkar maupun PDIP. Dengan kendaraan politik yang memiliki basis elektoral kuat, peluang Dedi untuk masuk dalam pertarungan nasional dinilai lebih terbuka.

"Tapi saya rasa kalau melihat momentum politik, 2029 momentumnya dia. Mau diambil atau nggak? Kalau nggak diambil risikonya dia nanti 2034 momentumnya bukan belum tentu dia untuk akan maju dalam kontestasi politik di 2034," katanya.

Muradi bahkan memprediksi Dedi berpotensi memilih perahu politik baru dan tidak menunggu keputusan Prabowo terkait Pilpres 2029.

"Bahwa Dedi akan akan pindah perahu. Dia tidak akan menunggu apakah Prabowo milih maju atau nggak. Dia akan memilih untuk kemudian apa melompat ke partai yang dianggap sesuai dengan karakter dia. Bisa kembali ke Golkar, bisa ke PDIP misalnya," tuturnya.

Salah satu skenario yang dinilai menarik adalah duet Dedi Mulyadi dengan Gubernur Jakarta saat ini, Pramono Anung. Muradi menilai Pramono memiliki karakter teknokratis sekaligus kedekatan dengan berbagai kekuatan politik.

"Saya kira pasangan KDM-Pramono Anung layak untuk kemudian dipertimbangkan betul oleh oleh KDM maupun oleh PDIP gitu," sambungnya.

"Nah, mesin politiknya siapa ya KDM. Jadi KDM nomor satu, nomor duanya Pramono. Atau misalnya KDM lewat partai Golkar lagi kan ini juga belum tentu betul-betul keluar kan dari Golkar," ujar Muradi.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Dijanjikan Kompensasi oleh KDM, Puluhan Kios Liar Jalur Puncak Dirobohkan"
[Gambas:Video 20detik] (bba/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads