Kasus ISPA di Jabar Tinggi, Balita Paling Banyak Terdampak

Kasus ISPA di Jabar Tinggi, Balita Paling Banyak Terdampak

Bima Bagaskara - detikJabar
Senin, 24 Agu 2026 15:30 WIB
Ilustrasi ISPA pada Anak
Ilustrasi ISPA pada Anak (Foto: iStock)
Bandung -

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Indonesia masih menjadi perhatian sepanjang 2026. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bahkan menunjukkan jumlah kasus secara nasional meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Hingga 15 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB, Jawa Barat tercatat sebagai provinsi dengan kasus ISPA tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 1.858.779 kasus. Jawa Tengah berada di urutan kedua dengan 1.819.793 kasus, disusul DKI Jakarta 1.241.791 kasus, Jawa Timur 1.007.305 kasus, dan Banten 637.542 kasus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Vini Adiani Dewi menyebut, berdasarkan data yang diterimanya, kasus ISPA di Jabar justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Vini, sepanjang Januari hingga Juli 2026 tercatat sekitar 1,4 juta kasus ISPA di Jawa Barat. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 2025 yang mendekati tiga juta kasus.

ADVERTISEMENT

"Sebetulnya kalau data yang saya dapatkan, di Jawa Barat tahun ini mengalami penurunan. Kalau kita malah 2025 lebih tinggi, hampir di angka 3 jutaan. Sekarang itu sekitar 1,4 juta dari Januari sampai Juli," kata Vini, Senin (24/8/2026).

"Jadi memang tahun ini justru mengalami penurunan kalau berdasarkan data yang ada," sambungnya.

Dinkes Jabar mencatat kelompok anak menjadi salah satu kelompok yang paling banyak mengalami ISPA. Dari sekitar 1,4 juta kasus yang tercatat sepanjang Januari hingga Juli 2026, sebanyak 743.000 kasus terjadi pada anak-anak. Angka tersebut mencapai sekitar separuh dari total kasus yang tercatat.

"Kelompok rentan. Anak-anak ada di 743.000. Kalau data yang masuk ke saya ya, dari Januari sampai Juli. 50 (persen sisanya) remaja, dewasa, sama lansia. Jadi anak lebih mendominasi," ujarnya.

Ia menuturkan, kelompok anak khususnya balita, perlu mendapat perhatian lebih dalam upaya pencegahan ISPA. Meski penyakit ini dapat menyerang semua kelompok usia, daya tahan tubuh anak yang masih berkembang membuat mereka menjadi salah satu kelompok yang rentan.

"ISPA ini kan bisa terjadi sama siapa aja, karena dia penyebabnya terbanyak virus. Jadi pada anak balita, pada remaja, pada dewasa, pada lansia," ungkap Vini.

"Makanya ASI eksklusif harus, makan bergizi harus, imunisasi harus, ya. Karena anak itu kan rentan ya terhadap penularan ISPA," pungkasnya.



(bba/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads