Priangan Timur Sepekan: Maut di Jalur Jamanis Tasikmalaya

Priangan Timur Sepekan: Maut di Jalur Jamanis Tasikmalaya

Tim detikJabar - detikJabar
Minggu, 23 Agu 2026 09:30 WIB
Ilustrasi Kecelakaan
Ilustrasi kecelakaan. (Foto: detikcom/Thinkstock/assistantua)
Bandung -

Sejumlah peristiwa terjadi di wilayah Priangan Timur (Tasikmalaya, Garut, Banjar, Ciamis, dan Pangandaran) dalam sepekan terakhir. Mulai dari kecelakaan maut merenggut 4 nyawa di Tasikmalaya hingga kekeringan melanda sebagian besar wilayah Ciamis.

Berikut rangkuman berita Priangan Timur sepekan:

Petaka di Jalur Jamanis Tasik yang Renggut Nyawa 4 Warga Jakarta

Petaka terjadi di jalur Jamanis, Kabupaten Tasikmalaya. Kecelakaan maut yang melibatkan minibus Daihatsu Gran Max dan truk Colt Diesel terjadi pada Senin (17/8/2026) siang. Dua orang tewas dan enam lainnya luka-luka dalam insiden tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kecelakaan terjadi di wilayah Rajapolah. Kedua kendaraan bertabrakan hingga mengalami kerusakan parah. Truk Colt Diesel terguling di tepi jalan dengan kondisi kabin hancur dan mengeluarkan kepulan asap.

Sementara itu, minibus Daihatsu Gran Max terbalik dan terperosok ke dalam kolam warga di pinggir jalan. Sejumlah warga sekitar turun ke kolam untuk mengevakuasi para korban yang terjebak di dalam mobil terendam air.

ADVERTISEMENT

Sampai Senin (17/8/2026) malam, total ada 4 korban meninggal, semuanya penumpang minibus. Dua korban di antaranya seorang perempuan dewasa bernama Rasti dan seorang anak bernama Andri Rustandi (12). Sebelumnya mereka dirawat di RS Hermina Tasikmalaya. Jenazahnya kemudian dibawa ke RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya.

Dua korban meninggal yang teridentifikasi sebelumnya, yakni Nurlaelah (50) dan Rasidi (52). Keempat korban ini tercatat sebagai warga Kalideres, Jakarta Barat.

Para korban ini diketahui merupakan satu keluarga; Rasidi dan Rasti adalah suami istri, sementara Nurlaelah dan Andri Rustandi adalah ibu dan anak. Dari informasi yang dihimpun, para penumpang minibus ini bertolak dari Jakarta menuju Cilacap.

Pantauan di kamar jenazah RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya, keempat jenazah tengah dipulasara oleh petugas sembari menanti kedatangan keluarga.

"Betul ini korban yang terlibat kecelakaan di Jamanis, usai kejadian 5 pasien dibawa ke RS Hermina, lalu 2 pasien dinyatakan meninggal dunia. Terdiri dari satu perempuan sekitar 50 tahunan satu lagi masih anak kecil," kata Sandi Permana, petugas ambulan yang membawa jenazah korban ke RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya.

"Jadi total yang meninggal ada 4 orang," imbuh Sandi.

Kanit Gakkum Polres Tasikmalaya Kota, Ipda Devi Budi Radiansyah, membenarkan kejadian tersebut. Menurut dia, kedua kendaraan melaju dari arah berlawanan.

"Iya betul ada kecelakaan jam 13.30 WIB, di wilayah Rajapolah antara dua kendaraan yang melaju dari arah Bandung dan dari arah Tasik," kata Devi.

Dia menambahkan, kecelakaan tersebut menimbulkan dua korban jiwa dan enam lainnya luka-luka. Penumpang minibus diduga merupakan satu keluarga. Dua korban tewas juga diketahui masih memiliki hubungan keluarga.

"Setelah dilakukan pengecekan oleh tim medis, jadi ada dua korban meninggal dunia dan 6 korban dirawat di rumah sakit," kata Devi.

"Setelah diidentifikasi datanya, semua satu keluarga. Jadi yang dari arah Tasik menuju Bandung untuk korban jiwa dan luka," kata Devi.

Ibu Bawa Anak Mencuri Pasta Gigi

Sore itu, Selasa (18/8/2026), suasana di Kampung Cihaur, Desa Sukarapih, mendadak riuh. Seorang perempuan berinisial S (43), warga asal Surabaya, menjadi pusat perhatian setelah aksinya menggasak barang di sebuah toko sembako berujung pada pengejaran oleh warga setempat.

Niat hati ingin membawa pulang perlengkapan mandi tanpa membayar, S justru terjebak dalam situasi pelik. Amarah warga tak terbendung saat ia tertangkap. Meski seorang perempuan, S sempat merasakan kerasnya bogem mentah hingga terpelanting akibat kekesalan massa yang memuncak.

Ironisnya, barang-barang yang memicu keributan itu nilainya tak seberapa, sekitar Rp70.000. S kedapatan mengambil beberapa buah odol, pewangi pakaian, dan sabun batangan dari Toko Sembako Nusasari milik Ratna Nur Rahmah (27) sekitar pukul 18.30 WIB.

Kapolsek Sukarame, Iptu Indra Firmansyah, membeberkan kronologi kejadian tersebut. S datang ke toko tidak sendirian, melainkan bersama anaknya yang berinisial E menggunakan sepeda motor. Modusnya cukup klasik, berpura-pura menjadi pembeli biasa.

"Berdasarkan laporan masyarakat kami langsung kelokasi. Awalnya pelaku datang bersama anaknya, E menggunakan sepeda motor. Pelaku masuk ke toko dengan alasan membeli air mineral," kata Iptu Indra pada Rabu (19/8).

Memanfaatkan situasi kasir yang sedang dipadati pembeli, S dengan cepat menyelinap. Barang bukti berupa 3 buah odol Pepsodent 150 gram, 36 sachet Molto, dan 2 sabun batang Lux pun berpindah tangan tanpa transaksi.

"Diduga pelaku melihat di kasir sedang banyak orang kemudian mengambil barang dengan tidak seizin dan tidak sepengetahuan pemiliknya," jelas Indra.

Namun, pelarian S tak berjalan mulus. Suami pemilik toko, Aip Ramadan, menyadari ada yang tidak beres dan segera berteriak "Maling!". Aksi kejar-kejaran pun pecah. Dalam kepanikan, pengendara motor yang membawa S justru memacu kendaraannya masuk ke sebuah jalan yang ternyata buntu.

Setelah dibawa ke kantor polisi, S mengakui semua perbuatannya. Namun, di tengah ketegangan itu, sebuah keputusan tak terduga muncul dari pihak korban. Ratna, sang pemilik toko, memilih untuk membuka pintu maaf dan tidak memperpanjang urusan ini.

"Bahwa Korban bersikeras tidak akan melaporkan dan tidak mempermasalahkan sehubungan dengan kejadian tersebut" tutur Iptu Indra.

Kasus ini akhirnya diselesaikan melalui jalan damai atau musyawarah kekeluargaan. Di hadapan Ketua RT dan Kepala Wilayah, kedua belah pihak sepakat untuk berdamai.

"Semua pihak termasuk Ketua RT dan Kepala wilayah telah membuat video sehubungan korban berterima kasih kepada masyarakat dan Kepolisian Sektor Sukarame telah membantu" ujar Indra.

Suami di Pangandaran Hantam Istri dengan Palu Lalu Minum Racun

Pelarian K (22), terduga pelaku KDRT sadis di Padaherang, Kabupaten Pangandaran, berakhir di tangan polisi. Pria ini diciduk jajaran Satreskrim Polsek Padaherang setelah sempat dilarikan ke klinik karena mencoba mengakhiri hidup.

K sebelumnya harus menjalani perawatan medis di Klinik Puspa Kalipucang. Ia dikabarkan nekat menelan racun tikus tak lama setelah diduga menganiaya istrinya sendiri, TN (21). Insiden berdarah ini terjadi pada Rabu (19/8/2026) subuh, sekitar pukul 04.00 WIB.

Plt. Humas Polres Pangandaran, Aiptu Yusdiana, membenarkan penangkapan tersebut. Saat ini, K sudah diamankan pihak kepolisian untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

"Kejadian pada hari Rabu (19/8/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Sekarang, terduga pelaku sudah kami amankan," ujar Yusdiana kepada sejumlah wartawan di Mapolres Pangandaran, Kamis (20/8/2026) siang.

Informasi yang dihimpun di lapangan, prahara rumah tangga ini dipicu oleh cekcok hebat. Dalam kondisi gelap mata, K diduga tega menghantam kepala istrinya menggunakan palu.

Usai melakukan aksi kekerasan tersebut, K diduga panik dan mencoba bunuh diri dengan meminum racun tikus. Beruntung nyawanya masih tertolong setelah sempat ditangani tim medis di Klinik Puspa Kalipucang sebelum akhirnya digelandang petugas.

Di sisi lain, keluarga korban bergerak cepat dengan melaporkan kejadian ini ke Polsek Padaherang. Korban TN sendiri sempat dievakuasi ke Puskesmas Sindangwangi dan sebuah klinik di Desa Maruyungsari untuk pertolongan pertama.

Namun, karena luka yang diderita cukup serius dan membutuhkan penanganan spesialis, korban akhirnya dirujuk ke fasilitas kesehatan di wilayah Sidareja, Kabupaten Cilacap.

"Untuk kondisi korban sekarang masih dalam penanganan medis," kata Yusdiana.

Kepala Desa Bojongsari, Yaya Sutiawan, mengungkapkan bahwa sebelum insiden berdarah itu terjadi, pasutri tersebut memang terlibat pertengkaran mulut yang cukup panas.

"Awalnya cekcok. Mungkin sesaat sebelum kejadian suasananya agak panas. Kemudian cekcok itu dibuntuti tindakan kekerasan," ujar Yaya.

Yaya menduga, faktor ekonomi dan api cemburu menjadi pemantik utama konflik di rumah tangga warganya itu. Meski begitu, ia menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada pihak kepolisian untuk mengungkap pemicu pastinya.

Akhir Pelarian Sigit Pembacok Lansia Garut

Tak terima ditegur saat bermotor ugal-ugalan, seorang pemuda tega membacok lansia di Garut. Lelaki bernama Sigit itu kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya usai dijebloskan polisi ke penjara.

Menurut Kapolres Garut AKBP Niko N. Adi Putra, aksi pembacokan sadis yang dilakukan oleh Sigit terjadi di kawasan Jalan Raya Cimanuk, Desa Jayaraga, Tarogong Kidul, akhir Juli 2026 lalu.

"Saat kejadian, sekitar jam 03.30 WIB, tersangka dengan sejumlah rekannya berkendara ugal-ugalan, zig-zag di sekitaran Jalan Cimanuk," ungkap Niko kepada wartawan, Kamis, (20/8/2026) malam.

Di TKP, saat pelaku berjalan ugal-ugalan, tersangka hampir menabrak EM, seorang nenek yang merupakan istri dari korban, AM (62). EM yang kaget hendak tertabrak, kemudian meneriaki berandalan bermotor tersebut.

"Perkataan saksi (EM) dianggap tidak berkenan oleh pelaku. Sehingga pelaku putar balik, kemudian menghampiri saksi," ujar Niko.

Sekadar diketahui, EM dan AM saat itu tengah bersiap bergegas dari rumahnya yang berlokasi di sekitar TKP, menuju ke Pasar Guntur Ciawitali untuk berbelanja.

Saat itu, sempat terjadi cekcok antara Sigit dengan EM. AM yang mengetahui istrinya dikepung, kemudian coba membela. Namun, tak disangka, Sigit mencabut sebilah golok yang bersembunyi di balik badannya.

"Golok tersebut kemudian ditebaskan, dan mengenai dagu korban sehingga korban mengalami luka bacok 16 jahitan," katanya.

Setelah kasusnya diketahui polisi, Tim Sancang dari Polres Garut kemudian melakukan pendalaman. Minimnya saksi di lapangan, membuat penyelidikan sempat buntu.

Menurut Niko, tim yang dipimpin Kasat Reskrim AKP Herman Saputra kemudian berupaya mencari petunjuk melalui rekaman kamera pengintai yang ada di sekitar TKP.

"Didapati satu rekaman CCTV, dimana sebelum melakukan aksi, pelaku sempat terjatuh. Saat itu ada saksi yang menolong dan melihat pelaku memasukkan golok ke dalam celana," ujar Niko.

Petunjuk itu yang kemudian ditelusuri oleh polisi. Singkat cerita, identitas para pelaku, khususnya pelaku utama yang belakangan diketahui bernama Sigit Ardiansyah (23), diketahui.

Polisi kemudian melakukan perburuan terhadap para pelaku. Setelah lebih dari dua pekan lamanya, Tim Sancang bersama Unit Reskrim Polsek Tarogong Kidul berhasil mengamankan tersangka.

Niko menjelaskan, tersangka Sigit diringkus saat sedang nongkrong di sebuah halaman salah satu hotel di wilayah Tarogong Kidul belum lama ini. Sigit diketahui sempat melawan petugas dengan mencabut golok dari balik badannya. Alhasil, Sigit didor petugas.

"Petugas kemudian memberikan tindakan tegas terukur kepada tersangka," katanya.

Niko menuturkan, selain Sigit, ada satu tersangka lain yang diamankan pihaknya. Dia adalah seorang remaja berumur 15 tahun, yang bertindak sebagai joki motor yang ditunggangi bersama Sigit.

"Berkasnya kami split karena merupakan anak di bawah umur. Tapi kita tetap proses dengan hukum acara anak," ungkap Niko.

Usai ditangkap, polisi kemudian menyelidiki latar belakang Sigit. Ternyata, Sigit tak sekali ini saja berlaku sadis seperti itu. Niko menuturkan, Sigit merupakan residivis.

"Tersangka SA ini merupakan residivis kasus serupa yang baru keluar dari penjara pada bulan Agustus 2026," ucap Niko.

Kekeringan di Ciamis

Musim kemarau mulai memberi dampak serius terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis. BPBD Kabupaten Ciamis mencatat kekeringan telah berdampak pada warga di 15 kecamatan, 22 desa, dan 38 dusun.

Berdasarkan rekap data kekeringan dan distribusi air bersih BPBD Ciamis tahun 2026, sedikitnya 4.323 kepala keluarga (KK) atau 11.160 jiwa terdampak kekeringan. Untuk memenuhi kebutuhan dasar warga, BPBD telah menyalurkan 255.000 liter air bersih melalui 45 tangki distribusi.

Distribusi tersebut dilakukan secara bertahap. Pada Juli 2026, BPBD menyalurkan 85.000 liter air melalui 12 tangki. Memasuki Agustus, jumlah bantuan meningkat menjadi 170.000 liter yang dikirim menggunakan 33 tangki.

Kondisi kekeringan tersebar di sejumlah wilayah dengan tingkat dampak yang berbeda-beda. Kecamatan Banjaranyar menjadi salah satu wilayah dengan jumlah warga terdampak cukup besar, disusul Panawangan, Banjarsari, dan Tambaksari.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan tidak hanya terjadi di satu kawasan, tetapi menyebar di berbagai wilayah Ciamis. Kondisi geografis dan keterbatasan sumber air membuat sebagian warga harus mendapatkan pasokan air dari luar wilayah permukiman.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ciamis Ani Supiani mengatakan, pemerintah daerah membuka akses bagi desa yang mengalami kesulitan air bersih untuk segera melapor. Menurutnya, masyarakat tidak perlu menunggu proses administrasi yang panjang ketika kondisi sudah mendesak.

"Kami terus memantau perkembangan di lapangan karena kondisi musim kemarau masih berlangsung. Jika ada wilayah lain yang mulai mengalami kesulitan air bersih, kami akan segera menindaklanjutinya," katanya.

BPBD, lanjut Ani, akan melakukan asesmen terlebih dahulu untuk memastikan kondisi di lapangan sebelum bantuan air bersih dikirimkan.

Dengan demikian, desa yang sumber airnya mulai mengering diharapkan segera berkoordinasi dengan BPBD. Langkah cepat diperlukan agar kebutuhan air bersih warga dapat segera ditangani, terutama bagi wilayah yang sumber air alternatifnya berada cukup jauh dari permukiman.

"Kalau memang sudah kekeringan, kita siap untuk bantu," tegasnya.

Ani menegaskan, BPBD juga berkoordinasi dengan aparat setempat untuk menyiapkan sarana penampungan air tambahan, seperti toren atau kolam terpal di titik-titik permukiman.

"Alhamdulillah penanganan dilakukan secara bersama-sama. Bantuan dari berbagai pihak sangat membantu mempercepat distribusi air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan," tutur Ani.

(bba/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads